<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>sephla</title>
    <link>https://sephla.writeas.com/</link>
    <description>An author wannabe who loves pouring her imagination into words. </description>
    <pubDate>Sun, 14 Jun 2026 03:12:54 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>A Day Out </title>
      <link>https://sephla.writeas.com/a-day-out?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Attention!&#xA;Tanpa plot, isinya ReoNagi dating, bucin, sedikit OOC, local AU, ditulis menggunakan bahasa Indonesia, 1.3k kata, typos. &#xA;&#xA;  Enjoy! &#xA;&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;Matahari tepat di atas ubun-ubun; Reo kini telah memarkirkan mobil di depan kediaman Nagi sang kekasih. Tiga kali klakson ia bunyikan sebagai isyarat akan kedatangannya. Kemudian tak lekas beberapa lama, pemuda surai abu-abu menampakkan batang hidungnya.&#xA;&#xA;Dengan langkah malas khasnya, Nagi pun lekas menghampiri mobil Reo dan masuk diikuti dengan helaan napas berat.&#xA;&#xA;“Panas banget, Yo.” Keluh Nagi sambil mengerucutkan bibir lengkap dengan wajah malasnya.&#xA;&#xA;“Gemes banget bayiku utututu... Udah adem &#39;kan sekarang? AC-nya udah max ini.” ucap si surai violet, Mikage Reo, sambil menangkup wajah Nagi dan terus mengecup pipi serta dahi si abu dengan gemas. Faktanya, Reo Mikage selalu gemas dan gemas akan eksistensi Nagi Seishiro. Kalau bisa, Reo ingin menghabiskan hidupnya hanya untuk mengecup dan memeluk Nagi. Sudah benar-benar dimabuk cinta si bujang ungu satu ini.&#xA;&#xA;Sedangkan sosok yang bersangkutan hanya bisa diam menerima perlakuan Reo. Melawan, protes, atau lain sebagainya hanyalah buang-buang waktu bagi Nagi. Pasalnya, Reo memang seperti itu dan akan selalu seperti itu sekalipun Nagi protes. Lagi pula, Nagi suka. &#xA;&#xA;**&#xA;&#xA;Sesuai dengan rencana, keduanya sampai di pusat furniture, OKEA. Terik matahari di luar yang begitu menyengat membuat Nagi menyipitkan mata secara refleks kala turun dari mobil. Reo yang tak jauh darinya langsung paham akan gelagat kekasihnya. &#xA;&#xA;&#34;Mau Reo gendong?&#34; sontak pipi Nagi yang sudah merona efek suhu panas semakin memerah akibat tawaran Reo. &#xA;&#xA;&#34;Enggak ah. Mau jalan sendiri. Kaya bayi aja.&#34; Nagi mengerucutkan bibir dan berlalu mendahului Reo. &#xA;&#xA;&#34;Biasanya mau- eh, Nagi tunggu dong!&#34;&#xA;&#xA;Berlari, tibalah Reo di dalam toko furniture. Suasana di dalam begitu kontras dibanding dengan di luar. Udara dari pendingin ruangan yang menyentuh kulit membuat Nagi bernapas lega. Pasalnya ia tak tahan dengan udara panas hari ini. &#xA;&#xA;&#34;Reo mau beli apa sih?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Beli rak buku.&#34; jawab Reo sambil menaik turunkan alisnya. &#xA;&#xA;&#34;Biasanya Mami sama Papimu pesen semua furniture jati, kan? Tumben beli di sini?&#34; tanya Nagi heran. &#xA;&#xA;&#34;Ga papa dong, Reo mau beli sendiri. Di rumah udah jati semua.&#34; jawab Reo sambil menggandeng kekasihnya berjalan. Nagi hanya bisa diam manggut-manggut. &#xA;&#xA;Sambil menautkan jari, bergandengan tangan, Reo dan Nagi menyusuri seluruh etalase. Dari ujung hingga ujung mereka susuri. Reo tampak sibuk mengoceh, entah memberikan ujuran kagum, komentar aneh, dan menjelaskan estetika mengenai furniture yang mereka temui. Terkadang terdengar tidak mutu, tapi Nagi tetap menyukai dan menikmatinya. Pacarnya ini memang cerewet, Nagi maklum. &#xA;&#xA;&#34;Nagi, lampunya bagus ga sih kalau ditaruh di kamar kamu?&#34; Reo sibuk mengamati detail. &#xA;&#xA;&#34;Gak tau deh, Yo. Kayaknya aku asal taruh barang aja di kamar.&#34; jawab Nagi polos, membuat gelak tawa si violet pecah. Nagi hanya memanyunkan bibir mendengar tawa Reo yang menyebalkan. &#xA;&#xA;Tiga puluh lima menit berlalu, Nagi yang mengikuti Reo kesana-kemari pun mulai lelah. Sejak awal memang dia sudah &#39;loyo&#39; seperti &#39;setting&#39;-an asalnya. Tapi ia tetap mau menemani Reo. Bukan terpaksa, sebenarnya sama halnya dengan Reo: kepalang sayang. Lagi pula, Nagi juga ingin mendapat pelukan dari Reo. Menjadi budak cinta adalah gelar keduanya. &#xA;&#xA;Tak dapat dipungkiri, ia lelah. Sedari tadi ia telah memutari toko dari ujung ke ujung. Hingga saat ini Reo pun masih bersemangat untuk melihat-lihat dan memilih barang yang diinginkan—tidak hanya rak, namun juga yang lainnya. &#xA;&#xA;Tanpa sadar, Nagi menghentikan langkahnya mengikuti Reo. Refleks, Reo pun ikut berhenti mengingat mereka sedari tadi bergandengan tangan. Nagi berhenti tepat di depan sebuah tempat tidur yang sudah di-set sebagai sampel. Pandangannya tertuju pada tempat tidur yang nampak melambai-lambai seolah meminta untuk dipakai. Pandangan Nagi tak terputus pada tempat tidur di depannya, refleks kedua tangannya pun ikut menyentuh barang di depannya itu. Kedua mata abu-abu Nagi berbinar mengetahui betapa nyaman tempat tidur di depannya. Oh, ternyata sungguh empuk! &#xA;&#xA;&#34;Kamu mau itu?&#34; tanya Reo lembut pada Nagi. Sebagai jawaban, Nagi hanya menggeleng. Namun ia masih sibuk memegang kasur empuk yang terpampang di sana. &#xA;&#xA;Tak lama kemudian, seseorang menginterupsi kegiatan Nagi dan Reo. &#34;Maaf, hanya ingin mengingatkan &#39;merusak berarti membeli&#39;.&#34; Petugas yang mendatangi Nagi berucap dengan nada sedikit pahit. Rautnya pun nampak angkuh lengkap dengan tangan yang tersilang di dada. Nagi hanya bisa diam terpaku beberapa detik sambil mengedipkan mata. Ia sedang mengelola informasi yang ada. &#xA;&#xA;&#34;Oh, iya. Maaf.&#34; ucap Nagi setelah kepalanya selesai mengelola informasi. Cepat Nagi pun ingin berpindah tempat menyeret Reo ke spot lain. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34; Tak berhasil membawa langkah menjauh dari lokasi tempat tidur, kekasih ungunya diam memasang raut tidak senang pada petugas tadi. &#xA;&#xA;&#34;Saya hanya mengingatkan, jika merusak berarti membeli.&#34; nada petugas itu masih saja pahit. Terlebih ketika Reo memberikan reaksi tidak senang. &#xA;&#xA;&#34;Ya udah, gue beli ini.&#34; timpal Reo enteng. &#xA;&#xA;&#34;Boleh dilihat dulu price tag-nya untuk memastikan.&#34; ucap petugas tersebut, lagi-lagi dengan nada yang masih konstan tidak enak. &#xA;&#xA;&#34;Udah, repot amat. Nih kartu gua. Proses langsung aja, ini gue angkut.&#34; seketika si ungu langsung menyodorkan kartu debitnya. Ya, sebuah kartu debit berwarna hitam. Black card.&#xA;&#xA;Seketika petugas itu diam. Dari mata yang tak dapat berbohong, ia nampak terkejut melihat kartu hitam yang disodorkan oleh Mikage Reo. Kemudian ia pun izin meninggalkan dua sejoli Reo dan Nagi untuk memproses barang. &#xA;&#xA;&#34;Reo, ngapain kamu beli?&#34; tanya Nagi. Dalam hatinya sungguh campur aduk. &#xA;&#xA;&#34;Nagi mau ini, &#39;kan? Kenapa ga bilang Reo dari tadi?&#34; ucap Reo sambil mengusap kedua punggung tangan Nagi dan menciumnya singkat. &#xA;&#xA;&#34;Aku ga pengen. Kamu kenapa suka gitu sih. Aku gamau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi tadi kamu pegang ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan berarti aku pengen. Aku cuma mau rebahan aja, Yo. Aku capek.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku kira kamu mau. Lagi pula, aku ga suka nada bicara petugas tadi. Apalagi perlakuan dia ke kamu. Angkuh banget dia. Ga lagi deh ke sini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi aku juga salah, asal pegang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tetep sama aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Reo kamu buang-buang uang banget, mending itu buat beli barang yang kamu butuhin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sebenernya Reo ga butuh rak.&#34; Ujaran Reo seketika membuat Nagi terkejut. Namun ia tetap konstan memasang wajah datarnya. &#xA;&#xA;Bagaimana tidak terkejut, keduanya sudah jauh-jauh kemari di tengah cuaca panas yang menggeletar di luar sana. Pula Nagi sudah lelah berkeliling mengekori Reo, hingga akhirnya muncul drama dengan seorang petugas di toko, sedangkan yang bersangkutan sebenarnya tidak terlalu membutuhkan barang yang dicari. &#xA;&#xA;&#34;Terus kenapa ke sini?&#34; tanya Nagi dingin. Dalam lubuk hatinya ia kesal. &#xA;&#xA;&#34;Maafin aku, Nagi. Tapi aku pengen kita keluar. Aku pengen OKEA date sama kamu. Kalau nanti ada barang yang kebeli, tetep bisa dipakai, &#39;kan?&#34; jelas Reo panjang lebar sambil menggaruk tengkuknya. Ia sebenarnya sedikit ngeri dengan kekasihnya bila sudah cerewet seperti ini. Dunia seakan tidak baik-baik saja. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa ga bilang dari awal?&#34; Nagi yang sejatinya tidak suka berdebat, terpancing untuk mencecar pertanyaan. &#xA;&#xA;&#34;Maafin aku ya, sayang. I thought you would refuse if I said so.&#34;&#xA;&#xA;&#34;You didn&#39;t even try to ask, Reo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;I&#39;m sorry. Maaf ya, Nagi.&#34; ucap Reo dengan nada penuh penyesalan. Wajahnya pun memelas. &#xA;&#xA;&#34;Ya, udah. Sekarang pulang aja. Itu barangnya kamu tarik aja. Boros, ga usah beli.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak papa ya, sayang? Biarin aja, ya? Nanti aku kasih ke orang deh.&#34; Nagi hanya mengembuskan napas kasar mendengar Reo merayu-rayu. &#xA;&#xA;[Epilog]*&#xA;&#xA;Tangan Nagi sedari tadi sibuk dengan console controller, tak lupa kedua matanya sangat fokus pada layar di depannya. Sedangkan kekasih bersurai ungunya sedari tadi menaruh kepala pada pundak Nagi. Ia sibuk memeluk dari belakang si abu yang fokus dengan game kesayangannya. &#xA;&#xA;Kata Nagi, ini adalah hukuman untuk Reo karena sudah bertingkah tidak jelas hari ini—mulai dari mengajaknya ke OKEA tanpa tujuan, hingga menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting. Di sisi lain, Reo tentu girang dengan hukuman semacam ini—tidak boleh melepas pelukan selama Nagi bermain gim. Jelas, ia sangat girang. &#xA;&#xA;&#34;Enak gini, &#39;kan. Ga jelas banget ngajak keluar tanpa tujuan. Mana pake beli begituan.&#34; omel Nagi masih sibuk dengan dunianya. Reo terkekeh mendengar ucapan kekasihnya yang sedari tadi cerewet. &#xA;&#xA;&#34;Iya, maaf. Tapi tadi masih kebayang petugasnya waktu aku bilang tempat tidurnya buat dia. Kaget banget kayaknya.&#34; ujar Reo lengkap dengan kekehan. Nagi pun mengembuskan napas. &#xA;&#xA;&#34;Ga boleh gitu lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, sayang. Iya, janji.&#34; jawab Reo sambil mencium pipi tembam Nagi dengan gemas. Kemudian ia eratkan dekapannya pada Nagi dan membawanya jatuh, tertidur di sofa. Nagi pun melepaskan fokus pada console-nya. Pasalnya, Reo saat ini benar-benar mendekap Nagi di atas sofa sambil terus menciumnya seakan tidak membiarkan Nagi kembali pada dunia gimnya. &#xA;&#xA;-Selesai.*&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>Attention!</strong>
Tanpa plot, isinya ReoNagi dating, bucin, sedikit OOC, local AU, ditulis menggunakan bahasa Indonesia, 1.3k kata, typos.</p>

<p>Enjoy!</p></blockquote>



<hr/>

<p>Matahari tepat di atas ubun-ubun; Reo kini telah memarkirkan mobil di depan kediaman Nagi sang kekasih. Tiga kali klakson ia bunyikan sebagai isyarat akan kedatangannya. Kemudian tak lekas beberapa lama, pemuda surai abu-abu menampakkan batang hidungnya.</p>

<p>Dengan langkah malas khasnya, Nagi pun lekas menghampiri mobil Reo dan masuk diikuti dengan helaan napas berat.</p>

<p>“Panas banget, Yo.” Keluh Nagi sambil mengerucutkan bibir lengkap dengan wajah malasnya.</p>

<p>“Gemes banget bayiku utututu... Udah adem &#39;kan sekarang? AC-nya udah max ini.” ucap si surai violet, Mikage Reo, sambil menangkup wajah Nagi dan terus mengecup pipi serta dahi si abu dengan gemas. Faktanya, Reo Mikage selalu gemas dan gemas akan eksistensi Nagi Seishiro. Kalau bisa, Reo ingin menghabiskan hidupnya hanya untuk mengecup dan memeluk Nagi. Sudah benar-benar dimabuk cinta si bujang ungu satu ini.</p>

<p>Sedangkan sosok yang bersangkutan hanya bisa diam menerima perlakuan Reo. Melawan, protes, atau lain sebagainya hanyalah buang-buang waktu bagi Nagi. Pasalnya, Reo memang seperti itu dan akan selalu seperti itu sekalipun Nagi protes. Lagi pula, Nagi suka.</p>

<p>***</p>

<p>Sesuai dengan rencana, keduanya sampai di pusat furniture, OKEA. Terik matahari di luar yang begitu menyengat membuat Nagi menyipitkan mata secara refleks kala turun dari mobil. Reo yang tak jauh darinya langsung paham akan gelagat kekasihnya.</p>

<p>“Mau Reo gendong?” sontak pipi Nagi yang sudah merona efek suhu panas semakin memerah akibat tawaran Reo.</p>

<p>“Enggak ah. Mau jalan sendiri. Kaya bayi aja.” Nagi mengerucutkan bibir dan berlalu mendahului Reo.</p>

<p>“Biasanya mau- eh, Nagi tunggu dong!”</p>

<p>Berlari, tibalah Reo di dalam toko furniture. Suasana di dalam begitu kontras dibanding dengan di luar. Udara dari pendingin ruangan yang menyentuh kulit membuat Nagi bernapas lega. Pasalnya ia tak tahan dengan udara panas hari ini.</p>

<p>“Reo mau beli apa sih?”</p>

<p>“Beli rak buku.” jawab Reo sambil menaik turunkan alisnya.</p>

<p>“Biasanya Mami sama Papimu pesen semua furniture jati, kan? Tumben beli di sini?” tanya Nagi heran.</p>

<p>“Ga papa dong, Reo mau beli sendiri. Di rumah udah jati semua.” jawab Reo sambil menggandeng kekasihnya berjalan. Nagi hanya bisa diam manggut-manggut.</p>

<p>Sambil menautkan jari, bergandengan tangan, Reo dan Nagi menyusuri seluruh etalase. Dari ujung hingga ujung mereka susuri. Reo tampak sibuk mengoceh, entah memberikan ujuran kagum, komentar aneh, dan menjelaskan estetika mengenai furniture yang mereka temui. Terkadang terdengar tidak mutu, tapi Nagi tetap menyukai dan menikmatinya. Pacarnya ini memang cerewet, Nagi maklum.</p>

<p>“Nagi, lampunya bagus ga sih kalau ditaruh di kamar kamu?” Reo sibuk mengamati detail.</p>

<p>“Gak tau deh, Yo. Kayaknya aku asal taruh barang aja di kamar.” jawab Nagi polos, membuat gelak tawa si violet pecah. Nagi hanya memanyunkan bibir mendengar tawa Reo yang menyebalkan.</p>

<p>Tiga puluh lima menit berlalu, Nagi yang mengikuti Reo kesana-kemari pun mulai lelah. Sejak awal memang dia sudah &#39;loyo&#39; seperti &#39;setting&#39;-an asalnya. Tapi ia tetap mau menemani Reo. Bukan terpaksa, sebenarnya sama halnya dengan Reo: kepalang sayang. Lagi pula, Nagi juga ingin mendapat pelukan dari Reo. Menjadi budak cinta adalah gelar keduanya.</p>

<p>Tak dapat dipungkiri, ia lelah. Sedari tadi ia telah memutari toko dari ujung ke ujung. Hingga saat ini Reo pun masih bersemangat untuk melihat-lihat dan memilih barang yang diinginkan—tidak hanya rak, namun juga yang lainnya.</p>

<p>Tanpa sadar, Nagi menghentikan langkahnya mengikuti Reo. Refleks, Reo pun ikut berhenti mengingat mereka sedari tadi bergandengan tangan. Nagi berhenti tepat di depan sebuah tempat tidur yang sudah di-<em>set</em> sebagai sampel. Pandangannya tertuju pada tempat tidur yang nampak melambai-lambai seolah meminta untuk dipakai. Pandangan Nagi tak terputus pada tempat tidur di depannya, refleks kedua tangannya pun ikut menyentuh barang di depannya itu. Kedua mata abu-abu Nagi berbinar mengetahui betapa nyaman tempat tidur di depannya. Oh, ternyata sungguh empuk!</p>

<p>“Kamu mau itu?” tanya Reo lembut pada Nagi. Sebagai jawaban, Nagi hanya menggeleng. Namun ia masih sibuk memegang kasur empuk yang terpampang di sana.</p>

<p>Tak lama kemudian, seseorang menginterupsi kegiatan Nagi dan Reo. “Maaf, hanya ingin mengingatkan &#39;merusak berarti membeli&#39;.” Petugas yang mendatangi Nagi berucap dengan nada sedikit pahit. Rautnya pun nampak angkuh lengkap dengan tangan yang tersilang di dada. Nagi hanya bisa diam terpaku beberapa detik sambil mengedipkan mata. Ia sedang mengelola informasi yang ada.</p>

<p>“Oh, iya. Maaf.” ucap Nagi setelah kepalanya selesai mengelola informasi. Cepat Nagi pun ingin berpindah tempat menyeret Reo ke <em>spot</em> lain.</p>

<p>“Kenapa?” Tak berhasil membawa langkah menjauh dari lokasi tempat tidur, kekasih ungunya diam memasang raut tidak senang pada petugas tadi.</p>

<p>“Saya hanya mengingatkan, jika merusak berarti membeli.” nada petugas itu masih saja pahit. Terlebih ketika Reo memberikan reaksi tidak senang.</p>

<p>“Ya udah, gue beli ini.” timpal Reo enteng.</p>

<p>“Boleh dilihat dulu price tag-nya untuk memastikan.” ucap petugas tersebut, lagi-lagi dengan nada yang masih konstan tidak enak.</p>

<p>“Udah, repot amat. Nih kartu gua. Proses langsung aja, ini gue angkut.” seketika si ungu langsung menyodorkan kartu debitnya. Ya, sebuah kartu debit berwarna hitam. <em>Black card</em>.</p>

<p>Seketika petugas itu diam. Dari mata yang tak dapat berbohong, ia nampak terkejut melihat kartu hitam yang disodorkan oleh Mikage Reo. Kemudian ia pun izin meninggalkan dua sejoli Reo dan Nagi untuk memproses barang.</p>

<p>“Reo, ngapain kamu beli?” tanya Nagi. Dalam hatinya sungguh campur aduk.</p>

<p>“Nagi mau ini, &#39;kan? Kenapa ga bilang Reo dari tadi?” ucap Reo sambil mengusap kedua punggung tangan Nagi dan menciumnya singkat.</p>

<p>“Aku ga pengen. Kamu kenapa suka gitu sih. Aku gamau.”</p>

<p>“Tapi tadi kamu pegang ini?”</p>

<p>“Bukan berarti aku pengen. Aku cuma mau rebahan aja, Yo. Aku capek.”</p>

<p>“Aku kira kamu mau. Lagi pula, aku ga suka nada bicara petugas tadi. Apalagi perlakuan dia ke kamu. Angkuh banget dia. Ga lagi deh ke sini.”</p>

<p>“Tapi aku juga salah, asal pegang.”</p>

<p>“Tetep sama aja.”</p>

<p>“Reo kamu buang-buang uang banget, mending itu buat beli barang yang kamu butuhin.”</p>

<p>“Sebenernya Reo ga butuh rak.” Ujaran Reo seketika membuat Nagi terkejut. Namun ia tetap konstan memasang wajah datarnya.</p>

<p>Bagaimana tidak terkejut, keduanya sudah jauh-jauh kemari di tengah cuaca panas yang menggeletar di luar sana. Pula Nagi sudah lelah berkeliling mengekori Reo, hingga akhirnya muncul drama dengan seorang petugas di toko, sedangkan yang bersangkutan sebenarnya tidak terlalu membutuhkan barang yang dicari.</p>

<p>“Terus kenapa ke sini?” tanya Nagi dingin. Dalam lubuk hatinya ia kesal.</p>

<p>“Maafin aku, Nagi. Tapi aku pengen kita keluar. Aku pengen OKEA date sama kamu. Kalau nanti ada barang yang kebeli, tetep bisa dipakai, &#39;kan?” jelas Reo panjang lebar sambil menggaruk tengkuknya. Ia sebenarnya sedikit ngeri dengan kekasihnya bila sudah cerewet seperti ini. Dunia seakan tidak baik-baik saja.</p>

<p>“Kenapa ga bilang dari awal?” Nagi yang sejatinya tidak suka berdebat, terpancing untuk mencecar pertanyaan.</p>

<p>“Maafin aku ya, sayang. I thought you would refuse if I said so.”</p>

<p>“You didn&#39;t even try to ask, Reo.”</p>

<p>“I&#39;m sorry. Maaf ya, Nagi.” ucap Reo dengan nada penuh penyesalan. Wajahnya pun memelas.</p>

<p>“Ya, udah. Sekarang pulang aja. Itu barangnya kamu tarik aja. Boros, ga usah beli.”</p>

<p>“Nggak papa ya, sayang? Biarin aja, ya? Nanti aku kasih ke orang deh.” Nagi hanya mengembuskan napas kasar mendengar Reo merayu-rayu.</p>

<p>***</p>

<p><strong>[Epilog]</strong></p>

<p>Tangan Nagi sedari tadi sibuk dengan <em>console controller</em>, tak lupa kedua matanya sangat fokus pada layar di depannya. Sedangkan kekasih bersurai ungunya sedari tadi menaruh kepala pada pundak Nagi. Ia sibuk memeluk dari belakang si abu yang fokus dengan <em>game</em> kesayangannya.</p>

<p>Kata Nagi, ini adalah hukuman untuk Reo karena sudah bertingkah tidak jelas hari ini—mulai dari mengajaknya ke OKEA tanpa tujuan, hingga menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting. Di sisi lain, Reo tentu girang dengan hukuman semacam ini—tidak boleh melepas pelukan selama Nagi bermain gim. Jelas, ia sangat girang.</p>

<p>“Enak gini, &#39;kan. Ga jelas banget ngajak keluar tanpa tujuan. Mana pake beli begituan.” omel Nagi masih sibuk dengan dunianya. Reo terkekeh mendengar ucapan kekasihnya yang sedari tadi cerewet.</p>

<p>“Iya, maaf. Tapi tadi masih kebayang petugasnya waktu aku bilang tempat tidurnya buat dia. Kaget banget kayaknya.” ujar Reo lengkap dengan kekehan. Nagi pun mengembuskan napas.</p>

<p>“Ga boleh gitu lagi.”</p>

<p>“Iya, sayang. Iya, janji.” jawab Reo sambil mencium pipi tembam Nagi dengan gemas. Kemudian ia eratkan dekapannya pada Nagi dan membawanya jatuh, tertidur di sofa. Nagi pun melepaskan fokus pada <em>console</em>-nya. Pasalnya, Reo saat ini benar-benar mendekap Nagi di atas sofa sambil terus menciumnya seakan tidak membiarkan Nagi kembali pada dunia gimnya.</p>

<p><strong><em>-Selesai.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/a-day-out</guid>
      <pubDate>Fri, 13 May 2022 18:44:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Obake</title>
      <link>https://sephla.writeas.com/obake?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  ⚠ 2k words, ghost, haunted house walkthrough, curse words, VBC bullying Atsumu, probably typo(s) &#xA;Enjoy!&#xA;&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;Di ujung pintu masuk mall nampak jambul kuning dan abu-abu muncul. Tak salah, itu adalah si kembar yang tengah menunjukkan batang hidungnya. Sontak kehadiran keduanya membuat sekelompok jejaka muda dari klub voli Inarizaki yang menunggu di dekat pintu masuk langsung melongo. Serempak Akagi dan Aran membulatkan mata ketika Miya Atsumu menampakkan wujud di hadapan anggota VBC. Osamu hanya bisa nyengir kuda di samping kembarannya yang jadi sumber perhatian di antara anak-anak. Suna yang telah bersiap dari tadi di tempat pun susah payah menahan tawanya agar tidak lepas. pasalnya, Miya Atsumu yang semalam bersikeras menolak untuk ikut ke Obake kini menjilat ludahnya. Terlebih perangai Atsumu hari ini cukup kacau. Nampak jelas gelagat tidak nyaman. Sosok yang menyadari hal tersebut dengan mudah adalah sang Kapten, Kita Shinsuke, namun ia memilih diam sebagai opsi aman.&#xA;&#xA;“Lo katanya ga mau ikut, Tsum?” ceplos Suna Rintaro melihat Atsumu di hadapannya. Nadanya sangat menyindir dan bercanda, sangat khas Suna Rintaro.&#xA;&#xA;“Ha? Lo mau gue pulang sekarang? Oke kalo itu mau lo.” Atsumu senewen mendengarnya. Ia sudah siap berbalik dan meninggalkan tempat. Namun langkahnya terinterupsi ketika kapten club voli SMA-nya angkat suara.&#xA;&#xA;“Atsumu mau ke mana?” Sontak Atsumu langsung mengarahkan perhatiannya pada sosok yang memanggilnya. &#xA;&#xA;“Suna, lo ga boleh gitu lagi. Kalau Atsumu memang mau gabung dan datang ya udah, dihargai.” lanjut Kita Shinsuke. Atsumu mengangkat kedua alis tebalnya begitu sang Kapten yang kelewat blunt itu memberikan Suna wejangan. Seketika Suna cengo dan mati kutu dibuatnya. Dalam hati Atsumu merasakan kemenangan kecil.&#xA;&#xA;Kesenangan kecil dalam hatinya ternyata hanya bertahan sepersekian detik. Kini rasa tremor dan panik kecil menggerayangi sekujur tubuh Atsumu lagi. Pasalnya Aran kini mulai angkat suara.&#xA;&#xA;“Berapa orang nih yang masuk Obake?” Suna pun kemudian mulai menghitung diikuti Osamu setelah Aran berucap.&#xA;&#xA;“Cuma ada Kak Kita, Bang Akagi, Bang Aran, Ginjima, Suna, sama Atsumu.” lapor Osamu.&#xA;&#xA;“Iya cuma ada tujuh. Ini yakin ga ada yang datang lagi?” lanjut Suna menimpali Osamu.&#xA;&#xA;“Ini udah jam dua belas kurang lima belas. Di grup juga sepi dan ga ada tanda-tanda nambah orang. Masih mau nunggu?” sang kapten lagi-lagi menengahi.&#xA;&#xA;“Iya mending langsung beli tiket ga sih? Ketimbang capek nunggu.” Ginjima menumpahkan ide.&#xA;&#xA;&#34;Iya gue tadi juga udah tanyain di grup juga pada bilang ga mau, sisanya diem bae.&#34; Akagi menimpali sambil mengecek ponsel hitamnya. &#xA;&#xA;&#34;Ya udah kalau gitu langsung aja, keburu antrinya makin panjang.&#34; ucap Aran. &#xA;&#xA;**&#xA;&#xA;Sebelum benar-benar mengantre di depan Obake setelah tiket dipegang oleh masing-masing, mereka terlebih dahulu diberikan gelang kertas di setiap pergelangan. Mereka pun diminta untuk berbaris dua baris. Secara otomatis tanpa diminta para bujang pemain voli ini langsung berbaris. Dengan formasi demikian, sungguh apes Atsumu berada di sebelah Osamu dan Suna tepat di belakangnya. Osamu dan Suna tak hentinya saling melempar tawa kecil dan menggoda Miya Atsumu. Kesabaran Atsumu benar-benar diuji. &#xA;&#xA;Saat ini sepertinya adalah hari buntungnya. Namun bila dipikir kembali ini sudah pilihannya untuk datang. Semalam dengan bujukan dahsyat saudara kembarnya Atsumu akhirnya ia datang. Ini semua dilakukan demi melihat kapten club voli-nya. &#xA;&#xA;Memang kaptennya ini sungguh sempurna di mata Miya Atsumu. Seluruh hidupnya sangat tertata. Aura tegas dan wibawanya pun akan sangat terasa sekalipun dari radius lima kilometer. Tidak ada celah bagi Miya Atsumu untuk mencari kekurangan Kita Shinsuke si kapten. Benaknya pun mengawang, barangkali memang benar adanya bila Kita Shinsuke diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Sungguh sempurna dan tak tercela. &#xA;&#xA;Lamunan Atsumu pada manusia di depannya—Kita Shinsuke—pun langsung buyar ketika sebuah suara menginterupsi. &#xA;&#xA;&#34;Lo ga lupa kan Tsum plan-nya?&#34; ucap Osamu sambil menggedikan alias menaik turunkan alis kedua tebalnya. &#xA;&#xA;&#34;Kaga lah. Udah gue belain kesini juga.&#34; jawab Atsumu sambil dengan nada senewen. &#xA;&#xA;&#34;Hah apaan? Rencana apa? Kok gue ga tau dah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo sok asik banget sih, Sun.&#34; cepat-cepat Miya pirang langsung menimpali Suna yang ikut nyerocos. Osamu kemudian tertawa. &#xA;&#xA;&#34;Pokoknya Sun, gue minta tolong. Lo dokumentasiin setiap kejadian. Bakalan ada yang seru. Mungkin bakal ada yang OOC. Lo tau kan siapa?&#34; jelas Osamu sambil mengedip-kedipkan matanya memberi isyarat. &#xA;&#xA;Suna tak mengerti siapa yang dimaksud oleh Osamu. Gesturnya sungguh terbaca dari raut mukanya. Osamu menarik napas membaca raut muka tak paham di wajah Suna Rintaro. &#xA;&#xA;&#34;Kita-san…&#34; Osamu pun berbisik kemudian. Setelahnya Suna pun langsung manggut-manggut paham dan tersenyum nista. &#34;Sama Tsumu juga lo dokumentasiin aja. Aib semua entar.&#34; lanjut Osamu sambil tertawa puas kemudian. &#xA;&#xA;Beberapa waktu berlalu, pula barisan semakin maju. Suhu si Miya Kuning tengah panas dingin. Tiket telah diserahkan pada penjaga, gelang tanda siap masuk pun telah terlilit di pergelangan tangannya. Kini ia pun juga tengah berbaris menunggu giliran untuk masuk. &#xA;&#xA;Keringat sebesar biji jagung pun mulai keluar dari pelipis Atsumu. Degup jantungnya semakin berantakan ketika telinganya menangkap suara jeritan dari dalam Obake. Kedua telapak tangan dan kakinya pun langsung terasa dingin. Atsumu benar-benar merasa ingin menyerah ditempat saja. Namun ia tak mau membuang harga dirinya juga rencana dan siasat emas yang telah ia buat. Lebih-lebih, menyerah saat ini terdengar seperti sia-sia. Pasalnya hanya tinggal satu langkah rombongan VBC akan masuk Obake. Benar-benar kepalang tanggung. &#xA;&#xA;Waktu terus berjalan, baris Atsumu semakin maju. Jantungnya semakin berlonjak ingin lari dari tempatnya. Atsumu benar-benar berdoa dalam hati agar celana denimnya tidak basah dan hangat tanpa sadar. Bisa kacau kalau hal tersebut terjadi. &#xA;&#xA;&#34;Ini satu rombongan?&#34; Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan tremor Atsumu. Seorang petugas bertanya pada rombongan Inarizaki VBC. &#xA;&#xA;&#34;Iya, bang!&#34; jawab Ginjima lengkap dengan acungan jempol dan senyum empat lima. &#xA;&#xA;&#34;Baik kakak-kakak, bisa dilihat term and conditions di papan depan tadi? Jika belum bisa dilihat lagi di sini,&#34; Seorang petugas dengan kumis tipis menjelaskan satu demi satu setiap poin yang ada di papan. &#xA;&#xA;&#34;Oke lampunya udah nyala, kakak-kakak rombongan ini bisa masuk. Lebih bagus kalo bisa jalan dua-dua.&#34; ucap staf berkumis tipis sambil memberikan senyum ramah tamah. &#xA;&#xA;Sesuai dengan instruksi para bujang pemain voli Inarizaki langsung melangkahkan kaki ke depan. Suasana gelap dengan efek dramatis dari lampu-lampu merah yang temaram menyambut penglihatan. Kesan menyeramkan pun coba dihadirkan dengan asap-asap dari dry ice memenuhi lantai ruangan. &#xA;&#xA;Rombongan Inarizaki ini terus berjalan menyusuri lorong gelap dengan tema interior bergaya Jepang. Posisi mereka masih sama (baca: tidak jauh berbeda) seperti saat masuk. Aran, Akagi, dan Ginjima masih di depan. Sela jarak sedikit di belakang Ginjima ada si surai monokrom Kita Shinsuke. Kemudian di belakangnya persis mengekor Miya Atsumu yang berjalan sejajar dengan saudara kembarnya. Di belakang si kembar Suna berjalan lengkap dengan ponsel di genggamannya yang siap siaga menangkap momen memalukan yang akan terjadi. Namun dengan catatan, Miya Atsumu dan kapten tim volinya adalah sasaran utama. &#xA;&#xA;Ketika mereka semakin kedalam, Atsumu semakin ngeri dibuatnya. Atsumu memegang pundak manusia di depannya yang tak lain dan tak bukan adalah kaptennya. Sudah kepalang takut, pikirannya berkabut, Atsumu tak memikirkan apapun selain mencari aman walau jiwanya mengkerut. &#xA;&#xA;Niat awal mencari kelemahan Kita Shinsuke, kini sepertinya berbalik menjadi senjata makan tuan. Atsumu tak sempat mencari kelemahan si &#39;tuan sempurna&#39; Kita Shinsuke. Dirinya sedang sibuk melawan ketakutan yang kian menjadi. &#xA;&#xA;Shinsuke pun hanya diam saja menerima perlakuan Atsumu yang tiba-tiba dan barangkali tidak sopan. Pasalnya Miya Atsumu dengan spontan memegang pundak dan punggung Shinsuke tanpa ijin. Namun Kita sepertinya enggan untuk memberikan ceramah atau penolakan dan sejenisnya. &#xA;&#xA;Rombongan terus berjalan. Tanpa sadar Aran, Akagi, dan Ginjima semakin berjarak mendahului, begitu pula dengan Osamu dan Suna yang semakin menjauh ke belakang. Kini posisi mereka sedikit berpencar, terpaut dengan jarak. Yang konstan adalah posisi Atsumu yang mengekor di belakang Shinsuke. Ia tak peduli dengan yang lain, yang dipikirannya kali ini hanyalah melihat reaksi Shinsuke dan cepat-cepat keluar. &#xA;&#xA;Selama perjalanan, mereka dikejutkan dengan suara-suara tawa perempuan tanpa wujud. Ketakutan Atsumu semakin menjadi-jadi, namun ia pasrahkan kedua kakinya untuk terus berjalan. Lorong, yang berliuk-liuk dalam Obake terasa panjang dan tak berujung. Atsumu terus berkomat-kamit membawa langkahnya, tak lupa tangannya terus berpegang pada pundak sang kapten yang begitu ia segani. &#xA;&#xA;Entah angin dari mana, Atsumu akhirnya tersadar. &#34;Kak, maaf ya pegang-pegang. Atsumu takut, boleh pegangan, ga?&#34; ucapan polos keluar dari mulut Atsumu yang bergetar. &#xA;&#xA;&#34;Iya ga apa, Atsumu.&#34; ucap Kita biasa seakan bukan masalah besar. Atsumu pun seperti mendapat afirmasi, kemudian beralih meraih lengan kanan milik Kita. Ia pegang lengan itu seolah menggandeng. Atsumu benar-benar seperti bayi dengan posisi yang masih mengekor Kita. &#xA;&#xA;Mereka kemudian tetap berjalan menyusuri lorong dan melewati tirai hitam. Dengan tiba-tiba dikejutkanlah mereka dengan kehadiran sosok pucat berambut panjang yang muncul dari balik tembok di samping ketika Atsumu dan Kita melewati tirai hitam. Atsumu spontan langsung menjerit dengan tidak eloknya dan menangkup lengan Kita bagai bayi koala. &#xA;&#xA;Cepat-cepat kemudian Atsumu menundukan kepala dan membawa langkahnya setengah berlari. Posisi Atsumu kini berjalan tergopoh-gopoh sambil menangkup lengan Kita Shinsuke. Detik kemudian Atsumu mendengar suara teriakan yang kemungkinan besar adalah suara Aran dan lainnya. Jantung Atsumu semakin memompa adrenalin dan mengawang: kejadian apa yang terjadi di depan? &#xA;&#xA;Atsumu terus menundukkan kepala sambil komat-kamit dengan latah. Tentu saja nadanya sangat pasrah dan terdengar berisik, karena ia Miya Atsumu. Miya pirang semakin mengeratkan pelukannya pada lengan sang kapten. Namun lagi, tak ada bantahan barang satu kata pun dari Kita Shinsuke. &#xA;&#xA;Waa! Sosok bertopeng iblis lengkap dengan rambut-rambut berantakan muncul tanpa permisi di hadapan keduanya. Atsumu semakin menjadi dibuatnya. Ia langsung menangkup seluruh badan kaptennya. Ia tundukkan kepala hingga dahinya menyentuh bahu si kapten, kemudian berteriaklah ia sekencang-kencangnya. &#xA;&#xA;&#34;KAAAKKK TOLONG SINGKIRIN DEMITNYA GUA TAKUT DEMI ALEK!!&#34; Atsumu kalang kabut. Ia masi belum berani menegakkan kepala. &#xA;&#xA;&#34;Ayo, jalan aja terus.&#34; Kita pun membawa dirinya dan Atsumu terus berjalan meski susah payah. Pasalnya perbandingan ukuran badan Atsumu dan dirinya berbeda—Atsumu lebih besar darinya—maka ia perlu mengeluarkan tenaga untuk berjalan maju. &#xA;&#xA;Lagi-lagi di tengah Shinsuke yang susah payah berjalan dengan Atsumu yang bergelayut memeluknya kaku sambil tertunduk di bahunya. Napasnya tersengal-sengal masih dengan komat-kamit ketakutan. Shinsuke pun kemudian meraih lengan kanan Atsumu yang memeluk hingga pundak kirinya, ia mencoba memberikan afirmasi jika semuanya akan baik-baik saja. Kemudian ia sedikit mengangkat wajah guna melihat jalan. &#xA;&#xA;Saat Shinsuke dan Atsumu maju selangkah, dua sosok berkepala rubah muncul dari samping dan mencoba mendekat lengkap dengan suara erangan. Atsumu lagi-lagi hanya bisa berteriak. &#xA;&#xA;&#34;KUCING GARONG, KAK!! SINGKIRIN KAK KUCING GARONG!!&#34; Teriak Atsumu sambil memejamkan mata. &#xA;&#xA;Shinsuke terus berjalan sambil menyeret tubuh Atsumu yang kaku memeluknya seolah tidak mau melanjutkan langkah karena pasrah ketakutan. &#xA;&#xA;Lagi-lagi, keduanya dikejutkan dengan sesuatu. Sebuah properti berbentuk kasa-obake yang tiba-tiba turun dari samping kiri. Suara-suara aneh pun ikut muncul bersamaan kemudian. Atsumu sudah jelas berteriak seketika melihatnya. Shinsuke terus berjalan sambil tergopoh-gopoh dengan Atsumu bak bayi koala di badannya. &#xA;&#xA;Setiap ada hal yang mengagetkan, Atsumu terus mengganti posisinya, mencari aman pada Kita. Bahkan tak segan ia menarik-narik lengan Kita, mengguncangkan, dan lain sebagainya. Yang dipikiran Atsumu saat ini hanyalah &#39;mencari aman&#39;. &#xA;&#xA;Atsumu pun terus mengikuti langkah Shinsuke sambil melingkarkan lengannya pada badan Shinsuke. Teriakannya pun masih tetap hadir selama perjalanan. Shinsuke berusaha abai dan terus melangkah maju. &#xA;&#xA;Terus berjalan dengan berbagai hadangan makhluk-makhluk menyeramkan lengkap dengan suara-suara anehnya. Telinga Shinsuke benar-benar dibekakan dengan teriakan Atsumu yang sangat tidak estetik. Hingga akhirnya sampailah mereka pada ujung lorong. &#xA;&#xA;Tidak ada lagi ruangan gelap, suara aneh, dan makhluk-makhluk menyeramkan—yang sejatinya adalah manusia bertopeng. Kini hanya ada rombongan club voli Inarizaki yang sedang memandang dua sejoli Atsumu dan Shinsuke. Pasalnya Atsumu nampak kacau dengan peluh dan terengah-engah, juga yang paling mengagetkan adalah, lengan Atsumu yang masih menggandeng tangan kanan sang kapten. &#xA;&#xA;&#34;Walah ternyata.&#34; Aran bersuara sambil memberikan senyum penuh makna. &#xA;&#xA;&#34;Ternyata memang gini, senangnya bisa bergandengan tangan.&#34; Akagi ikut bersuara sama seperti Aran. &#xA;&#xA;Atsumu yang menjadi pusat perhatian pun memproses segala informasi yang ada. Napasnya masih terengah, wajahnya pucat pasi, dan isi kepalanya sedang tidak komprehensif. Ia hanya menatap sekitarnya dengan wajah bak orang ling-lung. Ia pun masih konstan dengan posisi menggandeng tangan Kita. &#xA;&#xA;Kompak satu rombongan muda-muda anggota club voli Inarizaki langsung tertawa. &#xA;&#xA;&#34;Asik, tunggu tanggal mainnya aja sih.&#34; Suna buka suara sambil merekam kejadian di depan matanya. Osamu hanya bisa tertawa di samping Suna. &#xA;&#xA;&#34;Ternyata yang semalem ga mau dateng. Elah, Tsum.&#34; Giliran Ginjima ikut bersuara. &#xA;&#xA;Atsumu mengedipkan tangan beberapa kali dan akhirnya tersadar. Ia langsung membulatkan mata dan melepas genggaman tangannya dengan tangan sang kapten. Seketika semua tertawa. &#xA;&#xA;Lekas cepat-cepat ia memandang wajah oknum pemilik tangan yang sedari tadi is gandeng. Kita Shinsuke hanya memasang wajah datar andalannya sambil menghela napas kasar. Lagi-lagi, Atsumu menjadi sasaran empuk anggota VBC untuk dijahili. &#xA;&#xA;Dan yang terpenting adalah, misi dan siasat emas Atsumu gagal total dan malah berbalik menjadi senjata makan tuan baginya. Kita Shinsuke memang pantas mendapat gelar &#39;Mr. Friggin Perfect&#39;, sungguh sempurna. &#xA;&#xA;Kasa-obake: Hantu atau yokai berbentuk payung tua dari folklore Jepang.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>⚠ 2k words, ghost, haunted house walkthrough, curse words, VBC bullying Atsumu, probably typo(s)
Enjoy!</p></blockquote>



<hr/>

<p>Di ujung pintu masuk <em>mall</em> nampak jambul kuning dan abu-abu muncul. Tak salah, itu adalah si kembar yang tengah menunjukkan batang hidungnya. Sontak kehadiran keduanya membuat sekelompok jejaka muda dari klub voli Inarizaki yang menunggu di dekat pintu masuk langsung melongo. Serempak Akagi dan Aran membulatkan mata ketika Miya Atsumu menampakkan wujud di hadapan anggota VBC. Osamu hanya bisa nyengir kuda di samping kembarannya yang jadi sumber perhatian di antara <em>anak-anak</em>. Suna yang telah bersiap dari tadi di tempat pun susah payah menahan tawanya agar tidak lepas. pasalnya, Miya Atsumu yang semalam bersikeras menolak untuk ikut ke Obake kini menjilat ludahnya. Terlebih perangai Atsumu hari ini cukup kacau. Nampak jelas gelagat tidak nyaman. Sosok yang menyadari hal tersebut dengan mudah adalah sang Kapten, Kita Shinsuke, namun ia memilih diam sebagai opsi aman.</p>

<p>“Lo katanya ga mau ikut, Tsum?” ceplos Suna Rintaro melihat Atsumu di hadapannya. Nadanya sangat menyindir dan bercanda, sangat khas Suna Rintaro.</p>

<p>“Ha? Lo mau gue pulang sekarang? Oke kalo itu mau lo.” Atsumu senewen mendengarnya. Ia sudah siap berbalik dan meninggalkan tempat. Namun langkahnya terinterupsi ketika kapten <em>club</em> voli SMA-nya angkat suara.</p>

<p>“Atsumu mau ke mana?” Sontak Atsumu langsung mengarahkan perhatiannya pada sosok yang memanggilnya.</p>

<p>“Suna, lo ga boleh gitu lagi. Kalau Atsumu memang mau gabung dan datang ya udah, dihargai.” lanjut Kita Shinsuke. Atsumu mengangkat kedua alis tebalnya begitu sang Kapten yang kelewat <em>blunt</em> itu memberikan Suna wejangan. Seketika Suna cengo dan mati kutu dibuatnya. Dalam hati Atsumu merasakan kemenangan kecil.</p>

<p>Kesenangan kecil dalam hatinya ternyata hanya bertahan sepersekian detik. Kini rasa tremor dan panik kecil menggerayangi sekujur tubuh Atsumu lagi. Pasalnya Aran kini mulai angkat suara.</p>

<p>“Berapa orang nih yang masuk Obake?” Suna pun kemudian mulai menghitung diikuti Osamu setelah Aran berucap.</p>

<p>“Cuma ada Kak Kita, Bang Akagi, Bang Aran, Ginjima, Suna, sama Atsumu.” lapor Osamu.</p>

<p>“Iya cuma ada tujuh. Ini yakin ga ada yang datang lagi?” lanjut Suna menimpali Osamu.</p>

<p>“Ini udah jam dua belas kurang lima belas. Di grup juga sepi dan ga ada tanda-tanda nambah orang. Masih mau nunggu?” sang kapten lagi-lagi menengahi.</p>

<p>“Iya mending langsung beli tiket ga sih? Ketimbang capek nunggu.” Ginjima menumpahkan ide.</p>

<p>“Iya gue tadi juga udah tanyain di grup juga pada bilang ga mau, sisanya diem bae.” Akagi menimpali sambil mengecek ponsel hitamnya.</p>

<p>“Ya udah kalau gitu langsung aja, keburu antrinya makin panjang.” ucap Aran.</p>

<p>***</p>

<p>Sebelum benar-benar mengantre di depan Obake setelah tiket dipegang oleh masing-masing, mereka terlebih dahulu diberikan gelang kertas di setiap pergelangan. Mereka pun diminta untuk berbaris dua baris. Secara otomatis tanpa diminta para bujang pemain voli ini langsung berbaris. Dengan formasi demikian, sungguh apes Atsumu berada di sebelah Osamu dan Suna tepat di belakangnya. Osamu dan Suna tak hentinya saling melempar tawa kecil dan menggoda Miya Atsumu. Kesabaran Atsumu benar-benar diuji.</p>

<p>Saat ini sepertinya adalah hari buntungnya. Namun bila dipikir kembali ini sudah pilihannya untuk datang. Semalam dengan bujukan dahsyat saudara kembarnya Atsumu akhirnya ia datang. Ini semua dilakukan demi melihat kapten <em>club</em> voli-nya.</p>

<p>Memang kaptennya ini sungguh sempurna di mata Miya Atsumu. Seluruh hidupnya sangat tertata. Aura tegas dan wibawanya pun akan sangat terasa sekalipun dari radius lima kilometer. Tidak ada celah bagi Miya Atsumu untuk mencari kekurangan Kita Shinsuke si kapten. Benaknya pun mengawang, barangkali memang benar adanya bila Kita Shinsuke diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Sungguh sempurna dan tak tercela.</p>

<p>Lamunan Atsumu pada manusia di depannya—Kita Shinsuke—pun langsung buyar ketika sebuah suara menginterupsi.</p>

<p>“Lo ga lupa kan Tsum plan-nya?” ucap Osamu sambil menggedikan alias menaik turunkan alis kedua tebalnya.</p>

<p>“Kaga lah. Udah gue belain kesini juga.” jawab Atsumu sambil dengan nada senewen.</p>

<p>“Hah apaan? Rencana apa? Kok gue ga tau dah.”</p>

<p>“Lo sok asik banget sih, Sun.” cepat-cepat Miya pirang langsung menimpali Suna yang ikut nyerocos. Osamu kemudian tertawa.</p>

<p>“Pokoknya Sun, gue minta tolong. Lo dokumentasiin setiap kejadian. Bakalan ada yang seru. Mungkin bakal ada yang OOC. Lo tau kan siapa?” jelas Osamu sambil mengedip-kedipkan matanya memberi isyarat.</p>

<p>Suna tak mengerti siapa yang dimaksud oleh Osamu. Gesturnya sungguh terbaca dari raut mukanya. Osamu menarik napas membaca raut muka tak paham di wajah Suna Rintaro.</p>

<p>“Kita-san…” Osamu pun berbisik kemudian. Setelahnya Suna pun langsung manggut-manggut paham dan tersenyum nista. “Sama Tsumu juga lo dokumentasiin aja. Aib semua entar.” lanjut Osamu sambil tertawa puas kemudian.</p>

<p>Beberapa waktu berlalu, pula barisan semakin maju. Suhu si Miya Kuning tengah panas dingin. Tiket telah diserahkan pada penjaga, gelang tanda siap masuk pun telah terlilit di pergelangan tangannya. Kini ia pun juga tengah berbaris menunggu giliran untuk masuk.</p>

<p>Keringat sebesar biji jagung pun mulai keluar dari pelipis Atsumu. Degup jantungnya semakin berantakan ketika telinganya menangkap suara jeritan dari dalam Obake. Kedua telapak tangan dan kakinya pun langsung terasa dingin. Atsumu benar-benar merasa ingin menyerah ditempat saja. Namun ia tak mau membuang harga dirinya juga rencana dan siasat emas yang telah ia buat. Lebih-lebih, menyerah saat ini terdengar seperti sia-sia. Pasalnya hanya tinggal satu langkah rombongan VBC akan masuk Obake. Benar-benar kepalang tanggung.</p>

<p>Waktu terus berjalan, baris Atsumu semakin maju. Jantungnya semakin berlonjak ingin lari dari tempatnya. Atsumu benar-benar berdoa dalam hati agar celana denimnya tidak basah dan hangat tanpa sadar. Bisa kacau kalau hal tersebut terjadi.</p>

<p>“Ini satu rombongan?” Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan tremor Atsumu. Seorang petugas bertanya pada rombongan Inarizaki VBC.</p>

<p>“Iya, bang!” jawab Ginjima lengkap dengan acungan jempol dan senyum empat lima.</p>

<p>“Baik kakak-kakak, bisa dilihat term and conditions di papan depan tadi? Jika belum bisa dilihat lagi di sini,” Seorang petugas dengan kumis tipis menjelaskan satu demi satu setiap poin yang ada di papan.</p>

<p>“Oke lampunya udah nyala, kakak-kakak rombongan ini bisa masuk. Lebih bagus kalo bisa jalan dua-dua.” ucap staf berkumis tipis sambil memberikan senyum ramah tamah.</p>

<p>Sesuai dengan instruksi para bujang pemain voli Inarizaki langsung melangkahkan kaki ke depan. Suasana gelap dengan efek dramatis dari lampu-lampu merah yang temaram menyambut penglihatan. Kesan menyeramkan pun coba dihadirkan dengan asap-asap dari <em>dry ice</em> memenuhi lantai ruangan.</p>

<p>Rombongan Inarizaki ini terus berjalan menyusuri lorong gelap dengan tema interior bergaya Jepang. Posisi mereka masih sama (baca: tidak jauh berbeda) seperti saat masuk. Aran, Akagi, dan Ginjima masih di depan. Sela jarak sedikit di belakang Ginjima ada si surai monokrom Kita Shinsuke. Kemudian di belakangnya persis mengekor Miya Atsumu yang berjalan sejajar dengan saudara kembarnya. Di belakang si kembar Suna berjalan lengkap dengan ponsel di genggamannya yang siap siaga menangkap momen memalukan yang akan terjadi. Namun dengan catatan, Miya Atsumu dan kapten tim volinya adalah sasaran utama.</p>

<p>Ketika mereka semakin kedalam, Atsumu semakin ngeri dibuatnya. Atsumu memegang pundak manusia di depannya yang tak lain dan tak bukan adalah kaptennya. Sudah kepalang takut, pikirannya berkabut, Atsumu tak memikirkan apapun selain mencari aman walau jiwanya mengkerut.</p>

<p>Niat awal mencari kelemahan Kita Shinsuke, kini sepertinya berbalik menjadi senjata makan tuan. Atsumu tak sempat mencari kelemahan si &#39;tuan sempurna&#39; Kita Shinsuke. Dirinya sedang sibuk melawan ketakutan yang kian menjadi.</p>

<p>Shinsuke pun hanya diam saja menerima perlakuan Atsumu yang tiba-tiba dan barangkali tidak sopan. Pasalnya Miya Atsumu dengan spontan memegang pundak dan punggung Shinsuke tanpa ijin. Namun Kita sepertinya enggan untuk memberikan ceramah atau penolakan dan sejenisnya.</p>

<p>Rombongan terus berjalan. Tanpa sadar Aran, Akagi, dan Ginjima semakin berjarak mendahului, begitu pula dengan Osamu dan Suna yang semakin menjauh ke belakang. Kini posisi mereka sedikit berpencar, terpaut dengan jarak. Yang konstan adalah posisi Atsumu yang mengekor di belakang Shinsuke. Ia tak peduli dengan yang lain, yang dipikirannya kali ini hanyalah melihat reaksi Shinsuke dan cepat-cepat keluar.</p>

<p>Selama perjalanan, mereka dikejutkan dengan suara-suara tawa perempuan tanpa wujud. Ketakutan Atsumu semakin menjadi-jadi, namun ia pasrahkan kedua kakinya untuk terus berjalan. Lorong, yang berliuk-liuk dalam Obake terasa panjang dan tak berujung. Atsumu terus berkomat-kamit membawa langkahnya, tak lupa tangannya terus berpegang pada pundak sang kapten yang begitu ia segani.</p>

<p>Entah angin dari mana, Atsumu akhirnya tersadar. “Kak, maaf ya pegang-pegang. Atsumu takut, boleh pegangan, ga?” ucapan polos keluar dari mulut Atsumu yang bergetar.</p>

<p>“Iya ga apa, Atsumu.” ucap Kita biasa seakan bukan masalah besar. Atsumu pun seperti mendapat afirmasi, kemudian beralih meraih lengan kanan milik Kita. Ia pegang lengan itu seolah menggandeng. Atsumu benar-benar seperti bayi dengan posisi yang masih mengekor Kita.</p>

<p>Mereka kemudian tetap berjalan menyusuri lorong dan melewati tirai hitam. Dengan tiba-tiba dikejutkanlah mereka dengan kehadiran sosok pucat berambut panjang yang muncul dari balik tembok di samping ketika Atsumu dan Kita melewati tirai hitam. Atsumu spontan langsung menjerit dengan tidak eloknya dan menangkup lengan Kita bagai bayi koala.</p>

<p>Cepat-cepat kemudian Atsumu menundukan kepala dan membawa langkahnya setengah berlari. Posisi Atsumu kini berjalan tergopoh-gopoh sambil menangkup lengan Kita Shinsuke. Detik kemudian Atsumu mendengar suara teriakan yang kemungkinan besar adalah suara Aran dan lainnya. Jantung Atsumu semakin memompa adrenalin dan mengawang: kejadian apa yang terjadi di depan?</p>

<p>Atsumu terus menundukkan kepala sambil komat-kamit dengan latah. Tentu saja nadanya sangat pasrah dan terdengar berisik, karena ia Miya Atsumu. Miya pirang semakin mengeratkan pelukannya pada lengan sang kapten. Namun lagi, tak ada bantahan barang satu kata pun dari Kita Shinsuke.</p>

<p><em>Waa</em>! Sosok bertopeng iblis lengkap dengan rambut-rambut berantakan muncul tanpa permisi di hadapan keduanya. Atsumu semakin menjadi dibuatnya. Ia langsung menangkup seluruh badan kaptennya. Ia tundukkan kepala hingga dahinya menyentuh bahu si kapten, kemudian berteriaklah ia sekencang-kencangnya.</p>

<p>“KAAAKKK TOLONG SINGKIRIN DEMITNYA GUA TAKUT DEMI ALEK!!” Atsumu kalang kabut. Ia masi belum berani menegakkan kepala.</p>

<p>“Ayo, jalan aja terus.” Kita pun membawa dirinya dan Atsumu terus berjalan meski susah payah. Pasalnya perbandingan ukuran badan Atsumu dan dirinya berbeda—Atsumu lebih besar darinya—maka ia perlu mengeluarkan tenaga untuk berjalan maju.</p>

<p>Lagi-lagi di tengah Shinsuke yang susah payah berjalan dengan Atsumu yang bergelayut memeluknya kaku sambil tertunduk di bahunya. Napasnya tersengal-sengal masih dengan komat-kamit ketakutan. Shinsuke pun kemudian meraih lengan kanan Atsumu yang memeluk hingga pundak kirinya, ia mencoba memberikan afirmasi jika semuanya akan baik-baik saja. Kemudian ia sedikit mengangkat wajah guna melihat jalan.</p>

<p>Saat Shinsuke dan Atsumu maju selangkah, dua sosok berkepala rubah muncul dari samping dan mencoba mendekat lengkap dengan suara erangan. Atsumu lagi-lagi hanya bisa berteriak.</p>

<p>“KUCING GARONG, KAK!! SINGKIRIN KAK KUCING GARONG!!” Teriak Atsumu sambil memejamkan mata.</p>

<p>Shinsuke terus berjalan sambil menyeret tubuh Atsumu yang kaku memeluknya seolah tidak mau melanjutkan langkah karena pasrah ketakutan.</p>

<p>Lagi-lagi, keduanya dikejutkan dengan sesuatu. Sebuah properti berbentuk *<em>kasa-obake</em> yang tiba-tiba turun dari samping kiri. Suara-suara aneh pun ikut muncul bersamaan kemudian. Atsumu sudah jelas berteriak seketika melihatnya. Shinsuke terus berjalan sambil tergopoh-gopoh dengan Atsumu bak bayi koala di badannya.</p>

<p>Setiap ada hal yang mengagetkan, Atsumu terus mengganti posisinya, mencari aman pada Kita. Bahkan tak segan ia menarik-narik lengan Kita, mengguncangkan, dan lain sebagainya. Yang dipikiran Atsumu saat ini hanyalah &#39;mencari aman&#39;.</p>

<p>Atsumu pun terus mengikuti langkah Shinsuke sambil melingkarkan lengannya pada badan Shinsuke. Teriakannya pun masih tetap hadir selama perjalanan. Shinsuke berusaha abai dan terus melangkah maju.</p>

<p>Terus berjalan dengan berbagai hadangan makhluk-makhluk menyeramkan lengkap dengan suara-suara anehnya. Telinga Shinsuke benar-benar dibekakan dengan teriakan Atsumu yang sangat tidak estetik. Hingga akhirnya sampailah mereka pada ujung lorong.</p>

<p>Tidak ada lagi ruangan gelap, suara aneh, dan makhluk-makhluk menyeramkan—yang sejatinya adalah manusia bertopeng. Kini hanya ada rombongan <em>club</em> voli Inarizaki yang sedang memandang dua sejoli Atsumu dan Shinsuke. Pasalnya Atsumu nampak kacau dengan peluh dan terengah-engah, juga yang paling mengagetkan adalah, lengan Atsumu yang masih menggandeng tangan kanan sang kapten.</p>

<p>“Walah ternyata.” Aran bersuara sambil memberikan senyum penuh makna.</p>

<p>“Ternyata memang gini, senangnya bisa bergandengan tangan.” Akagi ikut bersuara sama seperti Aran.</p>

<p>Atsumu yang menjadi pusat perhatian pun memproses segala informasi yang ada. Napasnya masih terengah, wajahnya pucat pasi, dan isi kepalanya sedang tidak komprehensif. Ia hanya menatap sekitarnya dengan wajah bak orang ling-lung. Ia pun masih konstan dengan posisi menggandeng tangan Kita.</p>

<p>Kompak satu rombongan muda-muda anggota <em>club</em> voli Inarizaki langsung tertawa.</p>

<p>“Asik, tunggu tanggal mainnya aja sih.” Suna buka suara sambil merekam kejadian di depan matanya. Osamu hanya bisa tertawa di samping Suna.</p>

<p>“Ternyata yang semalem ga mau dateng. Elah, Tsum.” Giliran Ginjima ikut bersuara.</p>

<p>Atsumu mengedipkan tangan beberapa kali dan akhirnya tersadar. Ia langsung membulatkan mata dan melepas genggaman tangannya dengan tangan sang kapten. Seketika semua tertawa.</p>

<p>Lekas cepat-cepat ia memandang wajah oknum pemilik tangan yang sedari tadi is gandeng. Kita Shinsuke hanya memasang wajah datar andalannya sambil menghela napas kasar. Lagi-lagi, Atsumu menjadi sasaran empuk anggota VBC untuk dijahili.</p>

<p>Dan yang terpenting adalah, misi dan siasat emas Atsumu gagal total dan malah berbalik menjadi senjata makan tuan baginya. Kita Shinsuke memang pantas mendapat gelar &#39;Mr. Friggin Perfect&#39;, sungguh sempurna.</p>

<p>***</p>

<p>*<em>Kasa-obake: Hantu atau yokai berbentuk payung tua dari folklore Jepang.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/obake</guid>
      <pubDate>Wed, 23 Feb 2022 08:48:05 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>I Can&#39;t Lose You</title>
      <link>https://sephla.writeas.com/i-cant-lose-you?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Way too drunk to say sober things. Intoxicating yet pleasing. Your existence is a catastrophe in this little heaven&#xA;&#xA;  TAGS&#xA;3k words, E-rated, Explicit, NSFW, angst, alcohol, drunk, exes, one sided love (but not really), internalized conflict, mixed feelings, pwp, dubcon, kitchen sex, sex with feeling, drunk sex, aftercare, they fail to move on, too bego to reunite.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Atsumu merebahkan kepalanya secara asal pada sandaran kepala di bangku penumpang. Ia memandang keluar jendela, melihat lampu-lampu malam yang bergerak ke belakang seiring taksinya melaju. &#xA;&#xA;Kemeja biru tua dengan kancing atasnya terbuka, lengan baju yang digulung asal, pandangannya sedikit mengabur, wajahnya memerah, pikirannya mengawang, nafasnya menguarkan aroma tembakau dan alkohol. Kesadarannya tengah di pucuk. Singkatnya, ia mabuk, setelah seperempat malam dihabiskan pada bar. &#xA;&#xA;Beban pekerjaan yang selama ini mengisi seluruh ruang otaknya kini telah menguap seolah menghilang. Tak ada lagi tekanan dan kecemasan yang menguasai pikirannya. Sebagai ganti atas ilusi efek alkohol, pikirannya kini di bawah kuasa sosok indah bersurai monokrom. Ia mengobrak-abrik isi kepala Miya Atsumu malam ini. &#xA;&#xA;Atsumu yang tampak kacau terkapar di bangku belakang. Pikirannya melayang liar membayangkan rupa indah si surai monokrom, lengkap dengan iris coklat mahoninya. Wajah manisnya dengan sempurna tercetak pada pandangan kabur Atsumu. Tak ada yang dipikirkan Miya Atsumu saat ini selain Kita Shinsuke si surai monokrom dengan netra sewarna mahoni. &#xA;&#xA;Roda taxi terus bergulir, pikiran Atsumu pun ikut bergulir membayangkan bagaimana eloknya figur Kita Shinsuke. Kulit langsat yang lamat-lamat terlihat tan bak porselen mulus. Bingkai wajah yang majelis. Raut muka enigmatic penuh dengan teka-teki. Netra yang menusuk namun juga menunjukkan gairah menggebu dalam diam. Iris coklat bagai mahoni. Bibir tipis ranum yang menimbulkan candu bila dikecap. Alis bagai cakrawala yang membentang. Bayangan sosok Kita Shinsuke sungguh memabukkan bagi Atsumu, juga sangat menyakitkan. &#xA;&#xA;Roda-roda taksi yang tadinya bergulir kini berhenti. Ia telah sampai pada perhentiannya. Sebuah rumah bercat kuning gading di pinggir jalan adalah tujuannya. Lekas ia membayar ongkos jalan dan keluar. Taksi kuning yang ditumpanginya pun melaju lagi setelahnya, meninggalkan Atsumu seorang diri pukul tiga pagi. &#xA;&#xA;Dengan kesadaran yang tipis bagai selaput, Atsumu membawa langkahnya pada pintu putih di depannya. Detik kemudian ia mengetuk pintu tanpa dosa. Pukul tiga pagi, seolah tak bersalah ia menghampiri rumah orang lain dan mengetuk berharap sang tuan rumah membukakan pintu. Butuh waktu lima menit bagi harapan Atsumu untuk terkabul. Ya, tuan rumah membukakan pintu untuk si tidak-tahu-diri, Atsumu. &#xA;&#xA;Sosok yang sedari tadi memenuhi pikiran Miya Atsumu menampakan diri di hadapannya. Emosi bahagia membuncah begitu netranya menangkap bingkai wajah Shinsuke. Rambutnya sedikit berantakan, lengkap dengan kantung mata yang samar terlihat. Wajah khas bangun tidurnya kentara. Hal itu memicu Atsumu menarik busur di wajahnya. Ia tersenyum tanpa dosa. &#xA;&#xA;&#34;Aku pulang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pulang? Ini bukan rumahmu.&#34; Kita menukikkan kedua alisnya. &#xA;&#xA;&#34;You&#39;re the home.&#34; ucap si pirang dengan enteng. Busur di wajahnya masih terpasang di sana. &#xA;&#xA;Kita menyilangkan kedua tangannya. Pemuda di hadapannya ini sungguh menyebalkan. &#34;Jangan melawak pagi-pagi buta. Pulanglah, kau salah alamat.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Betul kok. Ini rumahku, the home where I belong.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lawakan apa ini?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Shin, am I allowed in?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu mabuk lagi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;I&#39;m not sure, kayaknya iya?&#34;&#xA;&#xA;Bercakap dengan orang mabuk adalah hal paling tidak waras yang dilakukan oleh Kita Shinsuke. Terlebih, ini adalah pagi-pagi buta, seharusnya Shinsuke masih dengan khidmat meringkuk di atas kasur. Namun manusia pirang ini menginterupsi kekhidtmatannya tanpa dosa. Lihat saja senyum miring di wajahnya yang memerah, sungguh menyebalkan. &#xA;&#xA;Ini bukan kali pertama Atsumu dengan keadaan mabuk menghampirinya. Terhitung sudah empat kali termasuk hari ini, tabiat busuknya ini terjadi. Shinsuke mulai saat ini mengingat polanya: datang pagi-pagi buta, mengetuk pintu dalam keadaan mabuk, menginap dengan alibi bahwa ini adalah rumah-nya.&#xA;&#xA;Kita Shinsuke selalu membukakan pintu dan memberikan tempat untuk si pirang. Walaupun kondisinya kacau dengan bau tembakau dan alkohol menguar, ia tetap mempersilakan Atsumu masuk. Ia paham bahwa toleransi alkohol Atsumu tidak terlalu buruk. Ia pula bukan sosok yang akan mengacau dan berbuat aneh saat mabuk. Sebaliknya, ia hanya akan tepar di sofa ruang tamu dan tidur dengan pulas. Kita mungkin bisa menilai Atsumu adalah: a happy drunk. &#xA;&#xA;Karena tak mau membuang waktu dan tenaganya yang begitu berharga, Kita pun menggeser badannya dari kusen pintu dan memberi ruang—isyarat bagi Atsumu untuk masuk. &#xA;&#xA;Benar saja, setelah masuk, Atsumu langsung mendudukan diri di sofa panjang yang ada di ruang tamu. Dengan posisi menengadah—menumpukan leher pada sandaran sofa—matanya yang sayu perlahan terpejam. Raut wajah terlihat sangat tenang. Dasar pemabuk aneh. &#xA;&#xA;Sejenak Kita Shinsuke berdiri lima langkah dari si pirang. Kedua netra sewarna mahoni miliknya memindai wajah Miya Atsumu yang terpejam dengan posisi duduk. Ia amati alis tebal, kedua kelopak yang terkatup berhias bulu mata lentik, hidung lancip dengan aksen kemerahan pada kulitnya, rahang tegas. Atsumu tidak berubah sedikitpun bahkan sejak mereka berakhir. Dengan kata lain, ia tetap tampan. Yang berubah hanyalah tabiat Atsumu yang suka mabuk dan mengetuk pintunya pada pukul tiga pagi. &#xA;&#xA;Kehadiran Atsumu yang seperti ini selalu membuat waktu bangun pagi Kita menjadi lebih cepat. Lekas ia menyudahi kegiatan menatap intens sosok pirang di sofa. Kedua kaki Shinsuke kemudian membawa dirinya ke dapur. &#xA;&#xA;Di pojok dapur ia berada. Kita menyibukkan dirinya dengan pakaian kotor. Tangannya memasukan satu persatu pakaian pada mesin cuci. Kemudian ia berlanjut membuat teh. Ya, teh adalah kebutuhan dasar. Sebuah ketenangan jiwa. &#xA;&#xA;Dirinya sibuk berkutat di counter dapur—merebus air, menyiapkan cangkir, dan tetek bengeknya. Kafein yang bisa ditolerir olehnya dengan sempurna adalah teh. Teh pula memberikan efek relaksasi bagi Shinsuke. Ini adalah penyelamat untuk paginya yang diinterupsi oleh Atsumu. &#xA;&#xA;Kini tangan kanan Shinsuke menuang dengan perlahan air panas yang mendidih ke dalam cangkir putih kesukaannya. Begitu air bening menyentuh kantong teh di dalam cangkir, warnanya berubah coklat. Aroma khas teh yang diseduh menggelitik penciuman Kita. Efeknya mampu melemaskan otot-otot Kita yang berkedut tegang. &#xA;&#xA;Ritual minum teh pagi Kita Shinsuke yang khidmat tidak boleh diinterupsi. Karena ini adalah kunci mengawali hari dengan baik. Namun sayang, Dewi Fortuna sepertinya enggan tersenyum kepadanya hari ini. &#xA;&#xA;Sebuah suara menginterupsi dari belakang—suara tarikan kursi meja makan. Miya Atsumu ada di sana mendudukan diri dengan wajah sayu. Kehadirannya membuat Shinsuke menarik napas berat. &#xA;&#xA;&#34;Lagi buat teh?&#34; ucap Atsumu retoris dengan suara parau. &#xA;&#xA;&#34;Mau?&#34; tawar Shinsuke sambil menyeruput tehnya. Ia masih berdiri di counter.&#xA;&#xA;&#34;Aku ga tau kalo kamu masih simpen cangkir putih itu. Kamu masih suka?&#34; ucap Atsumu enteng. Ia berusaha mengorek masa lalu. &#xA;&#xA;&#34;Selama masih berfungsi, kenapa ngga dipake?&#34; jawab Shinsuke sedikit menyelipkan kebohongan. Memang benar, selama barang masih berfungsi dengan baik, Shinsuke akan tetap memakainya. Namun tidak dipungkiri bahwa kenyataannya, Shinsuke suka dengan cangkir putih ini. Dari seluruh cangkir yang ada, ini adalah favoritnya. Namun ia enggan mengakui itu di hadapan Atsumu. &#xA;&#xA;Atsumu pun kemudian mengusap kasar wajahnya, disusul dengan Kita yang datang dan meletakkan segelas air putih di hadapannya. Atsumu menatap lama air putih di depannya. Kita pun mendudukan diri di kursi sebelah Atsumu. &#xA;&#xA;&#34;Shin, I&#39;m happy to see you in person. Seeing your frame is a serotonin doping for me. Thank you for existing.&#34; ucap Atsumu masih dengan konstan menatap segelas air putih di depan. Senyum tipis pun ikut hadir di wajah merahnya. &#xA;&#xA;&#34;Orang mabuk jangan mengada-ada. Diminum dulu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Shin, apa kamu ga mau bareng aku lagi? Aku beneran terombang-ambing ga sama kamu lagi.&#34; ucap Atsumu dengan nada serius yang tersirat kesedihan. Shinsuke tak memberikan sepatah kata pun sebagai respon kalimat Atsumu. &#xA;&#xA;Shinsuke sadar bahwa Atsumu adalah a happy drunk. Sisi ceria dan impulsifnya akan muncul ketika ia mabuk. Namun kali ini tak dapat dipungkiri bahwa kesedihan ikut campur dalam diri Atsumu. Demikian hal tersebut masih tak mematahkan diam Shinsuke. &#xA;&#xA;Detik kemudian setelah diam yang menusuk mengudara, Atsumu meraih tangan si rambut monokrom, Shinsuke. Kemudian ia membuat bibirnya bersentuhan dengan telapak Kita. Penuh kasih, afeksi, dan devosi. Butuh waktu enam puluh sekon untuknya mencium telapak tangan Kita Shinsuke. Sosok empu tangan hanya diam memandang dengan emosi penuh fluktuasi. &#xA;&#xA;&#34;I can&#39;t get you out of my head. Please back to me, Shin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Puitis sekali, huh? And you&#39;re drunk.&#34;&#xA;&#xA;&#34;If I were sober, would you come back to me?&#34;&#xA;&#xA;&#34;I didn&#39;t.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Is that too much to ask for?&#34;&#xA;&#xA;&#34;None of us are bad, but we&#39;re just not compatible. Buktinya kita udah jalanin kemaren. Try to accept the reality, Tsum.&#34;&#xA;&#xA;&#34;But I can&#39;t. I try and I fail. I think we were just fine.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tsum-&#34;&#xA;&#xA;&#34;I still love you.&#34;&#xA;&#xA;Atsumu memandang intens sosok di hadapannya. Maniknya bertemu manik mahoni milik Kita. Di sana ia dapat melihat samar refleksi dirinya yang kacau karena akhir yang masih tidak bisa diterima. Mata Atsumu sangat intens memandang raut muka enigmatic penuh teka-teki milik pemuda di hadapannya. Atsumu terjebak dalam labirin Kita Shinsuke. &#xA;&#xA;Atsumu dengan berani, mengikis jarak secara perlahan. Ia tak peduli pada skenario terburuk dari reaksi Shinsuke nantinya. Rindunya yang sudah tak terbendung perlu diluapkan. Atsumu benar-benar menghilangkan jarak di antaranya dengan Shinsuke. Hingga pada akhirnya bibirnya bertemu dengan milik Shinsuke yang ranum. Bibir dengan bibir bersentuhan, ejawantah usapan kasih yang abu-abu. &#xA;&#xA;Aneh, Shinsuke tak menolak barang sedikitpun. Hal itu membuat emosi yang campur-aduk menggelora pada diri Miya Atsumu. &#xA;&#xA;Atsumu memejamkan matanya. Ia semakin memperdalam ciumannya. Semula hanya bibir dan bibir saling temu, kini saling menaut. Atsumu mengecap bibir tipis milik Shinsuke, lagi, setelah sekian purnama. Rasanya sangat manis, sangat memabukkan, dan mencekik. &#xA;&#xA;Rasanya sangat luar biasa. Perasaan rindu yang benar-benar di ubun-ubun kini terluapkan. Ketika kesadarannya berada di ambang, namun dapat sepenuh hati merasakan segala emosi yang terombang-ambing. Semua dirasakan seperti euforia dalam katastrofe. Namun Atsumu tak acuh pada realita pahit yang harus ia telan, bahwasanya tidak ada lagi kata kita di antara keduanya—mereka bukan lagi kekasih yang sedang memadu cinta. Ciuman ini hanyalah ilusi belaka yang Atsumu nikmati kebohongannya. &#xA;&#xA;Miya Atsumu kembali mencoba mengeksplorasi cumbuannya. Lidahnya kali ini menyusup ketika Kita memberikan celah. Atsumu adalah pria baik dan Kita adalah pria penurut. Maka dengan rendah hati Atsumu mengajak lidahnya berdansa dengan lidah Shinsuke. Lawan dansanya pun menyambut baik ajakan yang ada. &#xA;&#xA;Saling menautkan lidah dan mengabsen gigi, Atsumu dapat mengecap teh hitam dari lidah Kita. Sebaliknya, Shinsuke dapat merasakan pahitnya whiskey dan nikotin yang samar terasa di pengecap Atsumu. Memabukan, cumbuan keduanya membuat mereka terbang. Cumbuan yang setiap detiknya semakin dalam memercikan api pada keduanya. &#xA;&#xA;Kebutuhan akan pasokan oksigen untuk paru-paru menginterupsi keduanya dengan paksa. Pagutan mereka pun lepas, menyisakan jembatan saliva di antara keduanya. Dengan tergesa-gesa dua insan itu langsung menghirup oksigen. &#xA;&#xA;Manik Atsumu menangkap wajah Shinsuke. Ia merah dan penuh ekspresi yang campur aduk. Ia pula mampu menangkap tatapan Shinsuke yang sedikit berkaca. Hal tersebut membuat hati Atsumu nyeri. Namun sudah kepalang tanggung, pikiran Atsumu yang mulai berkabut kembali mempertemukan bibir mereka untuk saling menaut. Hebatnya, lagi-lagi tak ada protes dari Kita Shinsuke. &#xA;&#xA;Shinsuke yang tadinya hanya menerima kali ini perlahan mulai mencoba menunjukan dominasi. Pagutan mereka semakin intens, Atsumu menyukainya, sangat. Atsumu membiarkan lidah Shinsuke menuntun dansa mereka. Atsumu sangat senang, ia semakin berkabut. Sungguh berbahaya bila Kita Shinsuke sudah seperti ini. Sungguh berbahaya bagi kewarasan Miya Atsumu. &#xA;&#xA;Bagai percikan api yang mampu membakar hutan dalam diam, pagutan intens mereka membuat keduanya tanpa sadar memanas. Atsumu pun dengan inisiatif melepas tautan lidah dan bibir mereka. Kini bibirnya beralih pada ceruk leher bak porselen milik Kita Shinsuke. Dikecupnya ceruk leher itu. Kecupannya lama-lama berubah menjadi jilatan, gigitan, dan hisapan. Tentu saja perbuatan si Miya pirang membuat sisi lain Kita Shinsuke berkedut dan mengeras. &#xA;&#xA;Atsumu pun semakin sibuk di ceruk Shinsuke. Tangannya pula ikut sibuk menyelinap ke dalam kaos Shinsuke. Di sana ia menemukan tonjolan puting yang mengeras. Jari-jemarinya dengan nakal mengusap, menekan, dan memilinnya. Menengadah, Shinsuke mendesah frustrasi dan nikmat ulah Atsumu. &#xA;&#xA;Membaca sinyal yang mengundang, Atsumu kembali mengambil inisiatif. Ia kemudian menaikkan Kita Shinsuke, yang notabene berbadan lebih kecil darinya, ke atas meja makan. Shinsuke kini terbaring di atas meja makan dengan wajah merah dan kacau oleh saliva, tak lupa tanda kemerahan di ceruknya. Atsumu kemudian menyibakkan kaos Shinsuke, mengekspos perut serta kedua puting yang memerah dan keras. &#xA;&#xA;Kini ia menundukkan bada. Memposisikan benda lunak yang biasa untuk mengecap pada puting merah muda milik Shinsuke. Ia mainkan kedua puting itu bergantian dengan lidah. Tak luput, ia menyesapnya. Kita hanya bisa mendesah dan menggelinjang. &#xA;&#xA;&#34;Are you hard? Soalnya aku iya.&#34; tanya Atsumu sambil menggerayangi benda Shinsuke yang masih terbalut sempurna oleh celana. Di sana Atsumu bisa merasakan milik Kita yang tegang dan keras. &#xA;&#xA;&#34;Punyaku juga keras, Shin. Wanna touch?&#34; Shinsuke tak menjawab pertanyaan seduktif nan konyol Atsumu. Sebagai gantinya ia hanya mendesah. Pasalnya, kini Atsumu telah melucuti celana dan boxer Kita sampai pada pinggul, hingga menampakkan kepemilikan Kita yang berdiri lengkap dengan cairan putih di ujungnya. &#xA;&#xA;Bagai menembus langit Kita mendesah lagi-lagi karena ulah Atsumu. Tangan si Miya pirang sekarang memainkan batang Shinsuke dengan seduktif. Menekan ujung kepala penis Shinsuke, kemudian memijatnya dengan gerakan naik turun, Atsumu benar-benar melakukannya dengan mulus. &#xA;&#xA;Di tengah kabut kalut dan nafsu, Kita dihadapkan pada konflik internal dengan dirinya. Ia mungkin saat ini menjadi manusia paling hipokrit di dunia. Bagaimana tidak, ia sungguh menyukai sentuhan Miya Atsumu. Setiap sentuhan memberikan nikmat bagai potongan surga. Namun di sisi lain, ia tidak mau perasaannya menguasai dirinya untuk menerima Atsumu dalam hidupnya. &#xA;&#xA;Tangan dan jari-jemari Atsumu yang tadinya sibuk memainkan kejantanan Shinsuke kini beralih melebarkan selangkangan Shinsuke. Jarinya yang tadi berurusan memberikan kenikmatan pada kejantanan milik Shinsuke, kini beralih pada lubang dubur yang berkedut. &#xA;&#xA;Di sana dengan dua jarinya, Atsumu mengobrak-abrik lubang merah berkedut Shinsuke. Pemiliknya hanya bisa pasrah menerima segalanya dengan nikmat. Leguhan dan desahan menjadi saksi kenikmatan yang dirasakan si surai monokrom. &#xA;&#xA;&#34;Shin, please say something. Call my name. Say you want me again.&#34; Kita tak menuruti permintaan si Miya pirang. Egonya masih berkuasa atas dirinya. &#xA;&#xA;Detik kemudian Atsumu mengeluarkan miliknya tanpa melucuti seluruh bawahannya. Ia sudah tegak sepenuhnya. Lubang kita yang terpampang di depannya sungguh mengundang batang Atsumu untuk melakukan penetrasi secepatnya. Lekas setelah mengocoknya, Atsumu langsung memposisikan kepemilikannya yang tegak ke ujung lubang dubur Shinsuke. &#xA;&#xA;Saat kepala penis si pirang masuk, desahan nyeri tertahan di kerongkongan Kita. Rasanya sakit bagai dibelah dua sekujur tubuhnya. Atsumu pun tetap berlanjut, ia terus mendorong penisnya hingga setengah masuk. Kemudian ia berhenti dan menatap wajah Kita yang semakin kacau, terlebih dengan rintihan. Tangannya pun menjulur mengusap bingkai wajah Kita Shinsuke dengan lembut. Ibu jarinya terus mengusap-usap pipi tembam Kita. Gestur Atsumu mencoba mengatakan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik. &#xA;&#xA;Setelahnya, Atsumu kembali melanjutkan memasukan miliknya. Shinsuke mendesah begitu Atsumu masuk sepenuhnya—besar mengisi penuh lubang Shinsuke. Desahan nikmat dan sakit terus keluar dari mulut Kita. Hanya desahan, tak sedikit pun ia menggaungkan nama Atsumu. Namun tak dapat dipungkiri, Kita suka setiap sentuhan surga yang diberikan Atsumu. Tetapi ia terus berusaha menyangkal dalam diam. Kontradiktif sekali. &#xA;&#xA;Atsumu mulai menggerakkan pinggulnya maju dan mundur perlahan. Pahanya bertemu dengan pantat sintal Shinsuke dan saling tumbuk. Atsumu rindu setiap inci kulit dan tubuh mantan kekasihnya ini, hal ini tentu saja membuat euforia memenuhi Atsumu. Hal yang sama pun dirasakan oleh sosok di atas meja. &#xA;&#xA;Kita semakin menggila dibuatnya. Seluruh semesta seolah seperti berputar hanya pada keduanya. Ia menggelinjang karena nikmat. Atsumu semakin menambah temponya hingga menyentuh rektum, sambil tangangannya menyambar milik Shinsuke yang menganggur. Getaran yang ada membuat meja makan tempat mereka bercinta, berdecit kasar. Gelas berisi air putih yang belum sempat disentuh oleh Atsumu pun jatuh menumpahkan isinya dan menggelinding jatuh. Tak ada yang peduli, mereka tetap saling memompa satu sama lain. &#xA;&#xA;Mata coklat Atsumu tak henti memandang wajah sosok di bawahnya yang terlentang berantakan penuh nikmat. Raut penuh teka-teki yang biasanya menghiasi wajahnya kini tergantikan dengan wajah sensual yang mengundang. Hal itu tentu saja tak mengurangi fakta bahwa Kita Shinsuke menawan. Justru pemandangan Shinsuke yang kacau seperti ini sungguh mengobrak-abrik kewarasan Miya pirang. &#xA;&#xA;Atsumu sangat suka memandangnya. Sangat indah dan menawan. Terlebih suara desahan dan lenguhan dari mulut Shinsuke adalah musik paling indah di telinga Miya pirang. Tapi Atsumu masih menginginkan namanya digaungkan oleh bibir Shinsuke ketika ritual sakral mereka berjalan. &#xA;&#xA;Puncak kenikmatan menghampiri keduanya. Lubang Shinsuke semakin mengetat, menghimpit kencang Atsumu di dalamnya. Atsumu semakin gila dan menambah temponya. Rektum Shinsuke semakin sering dihantam oleh penis Atsumu. Rasanya seperti surga dan neraka di saat yang bersamaan. Hingga pada hentakan kesekian, keduanya saling lepas. Tubuh Shinsuke meliuk bagai busur panah akibat tumbukan Atsumu yang tak terkira. Desahan panjang dari keduanya menjadi pamungkas kegiatan bercinta mereka. Atsumu menumpahkan benihnya di dalam Shinsuke sepenuhnya. Rasanya hangat dan nyaman. &#xA;&#xA;Keduanya saling membenahi diri, namun posisi Kita masihlah terkapar di atas meja makan. Terengah-engah, Kita berusaha mengumpulkan tenaga dan kewarasannya yang tercecer. &#xA;&#xA;Kemudian, si Miya pirang menangkup wajah Kita Shinsuke dengan tangan kanannya. Ditatapnya intens dengan sendu wajah kita yang terpejam sambil mengumpulkan napas. Ia kemudian mencabut kejantanannya, menyebabkan sisa-sisa pertarungan mereka meluber keluar. Lagi-lagi Atsumu jatuh cinta pada Kita Shinsuke, yang mana hal tersebut sungguh terasa sakit. Dada Atsumu mencelos rasanya. &#xA;&#xA;Spontan Atsumu langsung membungkukan badan, memeluk Kita yang masih terlentang di atas meja makan. Kepalanya ia letakkan di ceruk leher Kita. Reflek, Kita membalas dengan memberikan usapan di punggung bidang berbalut kemeja biru Atsumu. Posisi mereka cukup lama seperti ini, walaupun sepertinya terlihat tidak nyaman. Namun Atsumu merasakan sebaliknya—ia sangat nyaman dan merasa pulang. Tapi rupanya semua terasa fana. &#xA;&#xA;&#34;Maaf. Pasti sakit ga pake lubricant. Maaf.&#34; ucap Atsumu dengan geletar khawatir di kalimatnya. &#xA;&#xA;&#34;Ganti dulu gelasnya, tukang mabuk.&#34; jawab Kita keluar topik berusaha melawan emosi yang ada. Ia pula sedikit gemas dengan nasib gelasnya yang hancur. Atsumu pun terkekeh mendengarnya. &#xA;&#xA;&#34;Aku bersyukur mejanya ga roboh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;I will definitely kick you kalau beneran.&#34; jawab Shinsuke ketus. &#xA;&#xA;&#34;Aku ga tau kalau kamu masih simpan cangkir putih itu. Aku juga ga tau kalau kamu masih ketat.&#34; Atsumu berujar sedikit menggoda dengan kekehan menyebalkan. Kita tidak menanggapi barang sepatah kata pun. Hingga akhirnya membuat hening yang aneh mengisi ruang. &#xA;&#xA;&#34;Shin, lihat aku,&#34; pinta Atsumu tiba-tiba. Atsumu yang tadinya merebahkan kepalanya di ceruk leher Shinsuke, kini menumpukan kedua tangannya di meja. Ia menatap intens kedua netra mahoni Shinsuke. Yang diminta pun kali ini menurut, Shinsuke menatap si pirang. &#xA;&#xA;&#34;Ayo kembali. Let me back to you, my home.&#34; lanjut Atsumu dengan nada bersungguh-sungguh. Tanpa sadar linang air mata memenuhi pelupuk Miya pirang. Shinsuke mencelos dibuatnya, matanya pun ikut berkilat. &#xA;&#xA;Jatuh, air mata Miya Atsumu jatuh membasahi pipi Kita Shinsuke. Atsumu detik ini adalah pria payah yang terus mengemis untuk dibukakan pintu rumah. Shinsuke pun bangkit mendudukan diri di meja. Atsumu pun ikut menegakkan badannya. &#xA;&#xA;Dengan lembut Kita menangkup wajah sosok di hadapannya. Ia selanjutnya mengecup kedua mata Atsumu. Air mata pun semakin mengalir tanpa sadar membanjiri pipi Miya Atsumu. Kedua netra mahoni Kita yang memandang katastrofe di hadapannya langsung remuk bagai gelas di lantai dapur. Sakit dirasakan keduanya. &#xA;&#xA;&#34;No, Tsum. Maaf.&#34;&#xA;&#xA;&#34;I love you, Shin.&#34; ucap Atsumu dengan parau. Kalimatnya sungguh tulus diucapkan. &#xA;&#xA;&#34;Yeah. But sorry, Tsum.&#34;&#xA;&#xA;-Fin. &#xA;&#xA;  This is my very first explicit writing. So any DESTRUCTIVE criticism is very accepted. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Way too drunk to say sober things. Intoxicating yet pleasing. Your existence is a catastrophe in this little heaven</em></strong></p>

<blockquote><p><strong>TAGS</strong>
3k words, E-rated, Explicit, NSFW, angst, alcohol, drunk, exes, one sided love (but not really), internalized conflict, mixed feelings, pwp, dubcon, kitchen sex, sex with feeling, drunk sex, aftercare, they fail to move on, too bego to reunite.</p></blockquote>



<p>Atsumu merebahkan kepalanya secara asal pada sandaran kepala di bangku penumpang. Ia memandang keluar jendela, melihat lampu-lampu malam yang bergerak ke belakang seiring taksinya melaju.</p>

<p>Kemeja biru tua dengan kancing atasnya terbuka, lengan baju yang digulung asal, pandangannya sedikit mengabur, wajahnya memerah, pikirannya mengawang, nafasnya menguarkan aroma tembakau dan alkohol. Kesadarannya tengah di pucuk. Singkatnya, ia mabuk, setelah seperempat malam dihabiskan pada bar.</p>

<p>Beban pekerjaan yang selama ini mengisi seluruh ruang otaknya kini telah menguap seolah menghilang. Tak ada lagi tekanan dan kecemasan yang menguasai pikirannya. Sebagai ganti atas ilusi efek alkohol, pikirannya kini di bawah kuasa sosok indah bersurai monokrom. Ia mengobrak-abrik isi kepala Miya Atsumu malam ini.</p>

<p>Atsumu yang tampak kacau terkapar di bangku belakang. Pikirannya melayang liar membayangkan rupa indah si surai monokrom, lengkap dengan iris coklat mahoninya. Wajah manisnya dengan sempurna tercetak pada pandangan kabur Atsumu. Tak ada yang dipikirkan Miya Atsumu saat ini selain Kita Shinsuke si surai monokrom dengan netra sewarna mahoni.</p>

<p>Roda taxi terus bergulir, pikiran Atsumu pun ikut bergulir membayangkan bagaimana eloknya figur Kita Shinsuke. Kulit langsat yang lamat-lamat terlihat <em>tan</em> bak porselen mulus. Bingkai wajah yang majelis. Raut muka <em>enigmatic</em> penuh dengan teka-teki. Netra yang menusuk namun juga menunjukkan gairah menggebu dalam diam. Iris coklat bagai mahoni. Bibir tipis ranum yang menimbulkan candu bila dikecap. Alis bagai cakrawala yang membentang. Bayangan sosok Kita Shinsuke sungguh memabukkan bagi Atsumu, juga sangat menyakitkan.</p>

<p>Roda-roda taksi yang tadinya bergulir kini berhenti. Ia telah sampai pada perhentiannya. Sebuah rumah bercat kuning gading di pinggir jalan adalah tujuannya. Lekas ia membayar ongkos jalan dan keluar. Taksi kuning yang ditumpanginya pun melaju lagi setelahnya, meninggalkan Atsumu seorang diri pukul tiga pagi.</p>

<p>Dengan kesadaran yang tipis bagai selaput, Atsumu membawa langkahnya pada pintu putih di depannya. Detik kemudian ia mengetuk pintu tanpa dosa. Pukul tiga pagi, seolah tak bersalah ia menghampiri rumah orang lain dan mengetuk berharap sang tuan rumah membukakan pintu. Butuh waktu lima menit bagi harapan Atsumu untuk terkabul. Ya, tuan rumah membukakan pintu untuk si tidak-tahu-diri, Atsumu.</p>

<p>Sosok yang sedari tadi memenuhi pikiran Miya Atsumu menampakan diri di hadapannya. Emosi bahagia membuncah begitu netranya menangkap bingkai wajah Shinsuke. Rambutnya sedikit berantakan, lengkap dengan kantung mata yang samar terlihat. Wajah khas bangun tidurnya kentara. Hal itu memicu Atsumu menarik busur di wajahnya. Ia tersenyum tanpa dosa.</p>

<p>“Aku pulang.”</p>

<p>“Pulang? Ini bukan rumahmu.” Kita menukikkan kedua alisnya.</p>

<p>“You&#39;re the home.” ucap si pirang dengan enteng. Busur di wajahnya masih terpasang di sana.</p>

<p>Kita menyilangkan kedua tangannya. Pemuda di hadapannya ini sungguh menyebalkan. “Jangan melawak pagi-pagi buta. Pulanglah, kau salah alamat.”</p>

<p>“Betul kok. Ini rumahku, the home where I belong.”</p>

<p>“Lawakan apa ini?”</p>

<p>“Shin, am I allowed in?”</p>

<p>“Kamu mabuk lagi?”</p>

<p>“I&#39;m not sure, kayaknya iya?”</p>

<p>Bercakap dengan orang mabuk adalah hal paling tidak waras yang dilakukan oleh Kita Shinsuke. Terlebih, ini adalah pagi-pagi buta, seharusnya Shinsuke masih dengan khidmat meringkuk di atas kasur. Namun manusia pirang ini menginterupsi kekhidtmatannya tanpa dosa. Lihat saja senyum miring di wajahnya yang memerah, sungguh menyebalkan.</p>

<p>Ini bukan kali pertama Atsumu dengan keadaan mabuk menghampirinya. Terhitung sudah empat kali termasuk hari ini, tabiat busuknya ini terjadi. Shinsuke mulai saat ini mengingat polanya: datang pagi-pagi buta, mengetuk pintu dalam keadaan mabuk, menginap dengan alibi bahwa ini adalah <em>rumah</em>-nya.</p>

<p>Kita Shinsuke selalu membukakan pintu dan memberikan tempat untuk si pirang. Walaupun kondisinya kacau dengan bau tembakau dan alkohol menguar, ia tetap mempersilakan Atsumu masuk. Ia paham bahwa toleransi alkohol Atsumu tidak terlalu buruk. Ia pula bukan sosok yang akan mengacau dan berbuat aneh saat mabuk. Sebaliknya, ia hanya akan tepar di sofa ruang tamu dan tidur dengan pulas. Kita mungkin bisa menilai Atsumu adalah: <em>a happy drunk</em>.</p>

<p>Karena tak mau membuang waktu dan tenaganya yang begitu berharga, Kita pun menggeser badannya dari kusen pintu dan memberi ruang—isyarat bagi Atsumu untuk masuk.</p>

<p>Benar saja, setelah masuk, Atsumu langsung mendudukan diri di sofa panjang yang ada di ruang tamu. Dengan posisi menengadah—menumpukan leher pada sandaran sofa—matanya yang sayu perlahan terpejam. Raut wajah terlihat sangat tenang. Dasar pemabuk aneh.</p>

<p>Sejenak Kita Shinsuke berdiri lima langkah dari si pirang. Kedua netra sewarna mahoni miliknya memindai wajah Miya Atsumu yang terpejam dengan posisi duduk. Ia amati alis tebal, kedua kelopak yang terkatup berhias bulu mata lentik, hidung lancip dengan aksen kemerahan pada kulitnya, rahang tegas. Atsumu tidak berubah sedikitpun bahkan sejak mereka <em>berakhir</em>. Dengan kata lain, ia tetap tampan. Yang berubah hanyalah tabiat Atsumu yang suka mabuk dan mengetuk pintunya pada pukul tiga pagi.</p>

<p>Kehadiran Atsumu yang seperti ini selalu membuat waktu bangun pagi Kita menjadi lebih cepat. Lekas ia menyudahi kegiatan menatap intens sosok pirang di sofa. Kedua kaki Shinsuke kemudian membawa dirinya ke dapur.</p>

<p>Di pojok dapur ia berada. Kita menyibukkan dirinya dengan pakaian kotor. Tangannya memasukan satu persatu pakaian pada mesin cuci. Kemudian ia berlanjut membuat teh. Ya, teh adalah kebutuhan dasar. Sebuah ketenangan jiwa.</p>

<p>Dirinya sibuk berkutat di <em>counter</em> dapur—merebus air, menyiapkan cangkir, dan tetek bengeknya. Kafein yang bisa ditolerir olehnya dengan sempurna adalah teh. Teh pula memberikan efek relaksasi bagi Shinsuke. Ini adalah penyelamat untuk paginya yang diinterupsi oleh Atsumu.</p>

<p>Kini tangan kanan Shinsuke menuang dengan perlahan air panas yang mendidih ke dalam cangkir putih kesukaannya. Begitu air bening menyentuh kantong teh di dalam cangkir, warnanya berubah coklat. Aroma khas teh yang diseduh menggelitik penciuman Kita. Efeknya mampu melemaskan otot-otot Kita yang berkedut tegang.</p>

<p>Ritual minum teh pagi Kita Shinsuke yang khidmat tidak boleh diinterupsi. Karena ini adalah kunci mengawali hari dengan baik. Namun sayang, Dewi Fortuna sepertinya enggan tersenyum kepadanya hari ini.</p>

<p>Sebuah suara menginterupsi dari belakang—suara tarikan kursi meja makan. Miya Atsumu ada di sana mendudukan diri dengan wajah sayu. Kehadirannya membuat Shinsuke menarik napas berat.</p>

<p>“Lagi buat teh?” ucap Atsumu retoris dengan suara parau.</p>

<p>“Mau?” tawar Shinsuke sambil menyeruput tehnya. Ia masih berdiri di <em>counter</em>.</p>

<p>“Aku ga tau kalo kamu masih simpen cangkir putih itu. Kamu masih suka?” ucap Atsumu enteng. Ia berusaha mengorek masa lalu.</p>

<p>“Selama masih berfungsi, kenapa ngga dipake?” jawab Shinsuke sedikit menyelipkan kebohongan. Memang benar, selama barang masih berfungsi dengan baik, Shinsuke akan tetap memakainya. Namun tidak dipungkiri bahwa kenyataannya, Shinsuke suka dengan cangkir putih ini. Dari seluruh cangkir yang ada, ini adalah favoritnya. Namun ia enggan mengakui itu di hadapan Atsumu.</p>

<p>Atsumu pun kemudian mengusap kasar wajahnya, disusul dengan Kita yang datang dan meletakkan segelas air putih di hadapannya. Atsumu menatap lama air putih di depannya. Kita pun mendudukan diri di kursi sebelah Atsumu.</p>

<p>“Shin, I&#39;m happy to see you in person. Seeing your frame is a serotonin doping for me. Thank you for existing.” ucap Atsumu masih dengan konstan menatap segelas air putih di depan. Senyum tipis pun ikut hadir di wajah merahnya.</p>

<p>“Orang mabuk jangan mengada-ada. Diminum dulu.”</p>

<p>“Shin, apa kamu ga mau bareng aku lagi? Aku beneran terombang-ambing ga sama kamu lagi.” ucap Atsumu dengan nada serius yang tersirat kesedihan. Shinsuke tak memberikan sepatah kata pun sebagai respon kalimat Atsumu.</p>

<p>Shinsuke sadar bahwa Atsumu adalah <em>a happy drunk</em>. Sisi ceria dan impulsifnya akan muncul ketika ia mabuk. Namun kali ini tak dapat dipungkiri bahwa kesedihan ikut campur dalam diri Atsumu. Demikian hal tersebut masih tak mematahkan diam Shinsuke.</p>

<p>Detik kemudian setelah diam yang menusuk mengudara, Atsumu meraih tangan si rambut monokrom, Shinsuke. Kemudian ia membuat bibirnya bersentuhan dengan telapak Kita. Penuh kasih, afeksi, dan devosi. Butuh waktu enam puluh sekon untuknya mencium telapak tangan Kita Shinsuke. Sosok empu tangan hanya diam memandang dengan emosi penuh fluktuasi.</p>

<p>“I can&#39;t get you out of my head. Please back to me, Shin.”</p>

<p>“Puitis sekali, huh? And you&#39;re drunk.”</p>

<p>“If I were sober, would you come back to me?”</p>

<p>“I didn&#39;t.”</p>

<p>“Is that too much to ask for?”</p>

<p>“None of us are bad, but we&#39;re just not compatible. Buktinya kita udah jalanin kemaren. Try to accept the reality, Tsum.”</p>

<p>“But I can&#39;t. I try and I fail. I think we were just fine.”</p>

<p>“Tsum-”</p>

<p>“I still love you.”</p>

<p>Atsumu memandang intens sosok di hadapannya. Maniknya bertemu manik mahoni milik Kita. Di sana ia dapat melihat samar refleksi dirinya yang <em>kacau</em> karena <em>akhir</em> yang masih tidak bisa diterima. Mata Atsumu sangat intens memandang raut muka enigmatic penuh teka-teki milik pemuda di hadapannya. Atsumu terjebak dalam labirin Kita Shinsuke.</p>

<p>Atsumu dengan berani, mengikis jarak secara perlahan. Ia tak peduli pada skenario terburuk dari reaksi Shinsuke nantinya. Rindunya yang sudah tak terbendung perlu diluapkan. Atsumu benar-benar menghilangkan jarak di antaranya dengan Shinsuke. Hingga pada akhirnya bibirnya bertemu dengan milik Shinsuke yang ranum. Bibir dengan bibir bersentuhan, ejawantah usapan kasih yang abu-abu.</p>

<p>Aneh, Shinsuke tak menolak barang sedikitpun. Hal itu membuat emosi yang campur-aduk menggelora pada diri Miya Atsumu.</p>

<p>Atsumu memejamkan matanya. Ia semakin memperdalam ciumannya. Semula hanya bibir dan bibir saling temu, kini saling menaut. Atsumu mengecap bibir tipis milik Shinsuke, lagi, setelah sekian purnama. Rasanya sangat manis, sangat memabukkan, dan mencekik.</p>

<p>Rasanya sangat luar biasa. Perasaan rindu yang benar-benar di ubun-ubun kini terluapkan. Ketika kesadarannya berada di ambang, namun dapat sepenuh hati merasakan segala emosi yang terombang-ambing. Semua dirasakan seperti euforia dalam katastrofe. Namun Atsumu tak acuh pada realita pahit yang harus ia telan, bahwasanya tidak ada lagi kata <em>kita</em> di antara keduanya—mereka bukan lagi kekasih yang sedang memadu cinta. Ciuman ini hanyalah ilusi belaka yang Atsumu nikmati kebohongannya.</p>

<p>Miya Atsumu kembali mencoba mengeksplorasi cumbuannya. Lidahnya kali ini menyusup ketika Kita memberikan celah. Atsumu adalah pria baik dan Kita adalah pria penurut. Maka dengan rendah hati Atsumu mengajak lidahnya berdansa dengan lidah Shinsuke. Lawan <em>dansa</em>nya pun menyambut baik ajakan yang ada.</p>

<p>Saling menautkan lidah dan mengabsen gigi, Atsumu dapat mengecap teh hitam dari lidah Kita. Sebaliknya, Shinsuke dapat merasakan pahitnya <em>whiskey</em> dan nikotin yang samar terasa di pengecap Atsumu. Memabukan, cumbuan keduanya membuat mereka terbang. Cumbuan yang setiap detiknya semakin dalam memercikan api pada keduanya.</p>

<p>Kebutuhan akan pasokan oksigen untuk paru-paru menginterupsi keduanya dengan paksa. Pagutan mereka pun lepas, menyisakan jembatan saliva di antara keduanya. Dengan tergesa-gesa dua insan itu langsung menghirup oksigen.</p>

<p>Manik Atsumu menangkap wajah Shinsuke. Ia merah dan penuh ekspresi yang campur aduk. Ia pula mampu menangkap tatapan Shinsuke yang sedikit berkaca. Hal tersebut membuat hati Atsumu nyeri. Namun sudah kepalang tanggung, pikiran Atsumu yang mulai berkabut kembali mempertemukan bibir mereka untuk saling menaut. Hebatnya, lagi-lagi tak ada protes dari Kita Shinsuke.</p>

<p>Shinsuke yang tadinya hanya menerima kali ini perlahan mulai mencoba menunjukan dominasi. Pagutan mereka semakin intens, Atsumu menyukainya, sangat. Atsumu membiarkan lidah Shinsuke menuntun dansa mereka. Atsumu sangat senang, ia semakin berkabut. Sungguh berbahaya bila Kita Shinsuke sudah seperti ini. Sungguh berbahaya bagi kewarasan Miya Atsumu.</p>

<p>Bagai percikan api yang mampu membakar hutan dalam diam, pagutan intens mereka membuat keduanya tanpa sadar memanas. Atsumu pun dengan inisiatif melepas tautan lidah dan bibir mereka. Kini bibirnya beralih pada ceruk leher bak porselen milik Kita Shinsuke. Dikecupnya ceruk leher itu. Kecupannya lama-lama berubah menjadi jilatan, gigitan, dan hisapan. Tentu saja perbuatan si Miya pirang membuat <em>sisi lain</em> Kita Shinsuke berkedut dan mengeras.</p>

<p>Atsumu pun semakin sibuk di ceruk Shinsuke. Tangannya pula ikut sibuk menyelinap ke dalam kaos Shinsuke. Di sana ia menemukan tonjolan puting yang mengeras. Jari-jemarinya dengan nakal mengusap, menekan, dan memilinnya. Menengadah, Shinsuke mendesah frustrasi dan nikmat ulah Atsumu.</p>

<p>Membaca sinyal yang mengundang, Atsumu kembali mengambil inisiatif. Ia kemudian menaikkan Kita Shinsuke, yang notabene berbadan lebih kecil darinya, ke atas meja makan. Shinsuke kini terbaring di atas meja makan dengan wajah merah dan kacau oleh saliva, tak lupa tanda kemerahan di ceruknya. Atsumu kemudian menyibakkan kaos Shinsuke, mengekspos perut serta kedua puting yang memerah dan keras.</p>

<p>Kini ia menundukkan bada. Memposisikan benda lunak yang biasa untuk mengecap pada puting merah muda milik Shinsuke. Ia mainkan kedua puting itu bergantian dengan lidah. Tak luput, ia menyesapnya. Kita hanya bisa mendesah dan menggelinjang.</p>

<p>“Are you hard? Soalnya aku iya.” tanya Atsumu sambil menggerayangi <em>benda</em> Shinsuke yang masih terbalut sempurna oleh celana. Di sana Atsumu bisa merasakan milik Kita yang tegang dan keras.</p>

<p>“Punyaku juga keras, Shin. Wanna touch?” Shinsuke tak menjawab pertanyaan seduktif nan konyol Atsumu. Sebagai gantinya ia hanya mendesah. Pasalnya, kini Atsumu telah melucuti celana dan boxer Kita sampai pada pinggul, hingga menampakkan kepemilikan Kita yang berdiri lengkap dengan cairan putih di ujungnya.</p>

<p>Bagai menembus langit Kita mendesah lagi-lagi karena ulah Atsumu. Tangan si Miya pirang sekarang memainkan batang Shinsuke dengan seduktif. Menekan ujung kepala penis Shinsuke, kemudian memijatnya dengan gerakan naik turun, Atsumu benar-benar melakukannya dengan mulus.</p>

<p>Di tengah kabut kalut dan nafsu, Kita dihadapkan pada konflik internal dengan dirinya. Ia mungkin saat ini menjadi manusia paling hipokrit di dunia. Bagaimana tidak, ia sungguh menyukai sentuhan Miya Atsumu. Setiap sentuhan memberikan nikmat bagai potongan surga. Namun di sisi lain, ia tidak mau perasaannya menguasai dirinya untuk menerima Atsumu dalam hidupnya.</p>

<p>Tangan dan jari-jemari Atsumu yang tadinya sibuk memainkan kejantanan Shinsuke kini beralih melebarkan selangkangan Shinsuke. Jarinya yang tadi berurusan memberikan kenikmatan pada kejantanan milik Shinsuke, kini beralih pada lubang dubur yang berkedut.</p>

<p>Di sana dengan dua jarinya, Atsumu mengobrak-abrik lubang merah berkedut Shinsuke. Pemiliknya hanya bisa pasrah menerima segalanya dengan nikmat. Leguhan dan desahan menjadi saksi kenikmatan yang dirasakan si surai monokrom.</p>

<p>“Shin, please say something. Call my name. Say you want me again.” Kita tak menuruti permintaan si Miya pirang. Egonya masih berkuasa atas dirinya.</p>

<p>Detik kemudian Atsumu mengeluarkan miliknya tanpa melucuti seluruh bawahannya. Ia sudah tegak sepenuhnya. Lubang kita yang terpampang di depannya sungguh mengundang batang Atsumu untuk melakukan penetrasi secepatnya. Lekas setelah mengocoknya, Atsumu langsung memposisikan kepemilikannya yang tegak ke ujung lubang dubur Shinsuke.</p>

<p>Saat kepala penis si pirang masuk, desahan nyeri tertahan di kerongkongan Kita. Rasanya sakit bagai dibelah dua sekujur tubuhnya. Atsumu pun tetap berlanjut, ia terus mendorong penisnya hingga setengah masuk. Kemudian ia berhenti dan menatap wajah Kita yang semakin kacau, terlebih dengan rintihan. Tangannya pun menjulur mengusap bingkai wajah Kita Shinsuke dengan lembut. Ibu jarinya terus mengusap-usap pipi tembam Kita. Gestur Atsumu mencoba mengatakan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik.</p>

<p>Setelahnya, Atsumu kembali melanjutkan memasukan miliknya. Shinsuke mendesah begitu Atsumu masuk sepenuhnya—besar mengisi penuh lubang Shinsuke. Desahan nikmat dan sakit terus keluar dari mulut Kita. Hanya desahan, tak sedikit pun ia menggaungkan nama Atsumu. Namun tak dapat dipungkiri, Kita suka setiap sentuhan surga yang diberikan Atsumu. Tetapi ia terus berusaha menyangkal dalam diam. Kontradiktif sekali.</p>

<p>Atsumu mulai menggerakkan pinggulnya maju dan mundur perlahan. Pahanya bertemu dengan pantat sintal Shinsuke dan saling tumbuk. Atsumu rindu setiap inci kulit dan tubuh mantan kekasihnya ini, hal ini tentu saja membuat euforia memenuhi Atsumu. Hal yang sama pun dirasakan oleh sosok di atas meja.</p>

<p>Kita semakin menggila dibuatnya. Seluruh semesta seolah seperti berputar hanya pada keduanya. Ia menggelinjang karena nikmat. Atsumu semakin menambah temponya hingga menyentuh rektum, sambil tangangannya menyambar milik Shinsuke yang menganggur. Getaran yang ada membuat meja makan tempat mereka bercinta, berdecit kasar. Gelas berisi air putih yang belum sempat disentuh oleh Atsumu pun jatuh menumpahkan isinya dan menggelinding jatuh. Tak ada yang peduli, mereka tetap saling memompa satu sama lain.</p>

<p>Mata coklat Atsumu tak henti memandang wajah sosok di bawahnya yang terlentang berantakan penuh nikmat. Raut penuh teka-teki yang biasanya menghiasi wajahnya kini tergantikan dengan wajah sensual yang mengundang. Hal itu tentu saja tak mengurangi fakta bahwa Kita Shinsuke menawan. Justru pemandangan Shinsuke yang kacau seperti ini sungguh mengobrak-abrik kewarasan Miya pirang.</p>

<p>Atsumu sangat suka memandangnya. Sangat indah dan menawan. Terlebih suara desahan dan lenguhan dari mulut Shinsuke adalah musik paling indah di telinga Miya pirang. Tapi Atsumu masih menginginkan namanya digaungkan oleh bibir Shinsuke ketika <em>ritual sakral</em> mereka berjalan.</p>

<p>Puncak kenikmatan menghampiri keduanya. Lubang Shinsuke semakin mengetat, menghimpit kencang Atsumu di dalamnya. Atsumu semakin gila dan menambah temponya. Rektum Shinsuke semakin sering dihantam oleh penis Atsumu. Rasanya seperti surga dan neraka di saat yang bersamaan. Hingga pada hentakan kesekian, keduanya saling lepas. Tubuh Shinsuke meliuk bagai busur panah akibat tumbukan Atsumu yang tak terkira. Desahan panjang dari keduanya menjadi pamungkas kegiatan bercinta mereka. Atsumu menumpahkan benihnya di dalam Shinsuke sepenuhnya. Rasanya hangat dan nyaman.</p>

<p>Keduanya saling membenahi diri, namun posisi Kita masihlah terkapar di atas meja makan. Terengah-engah, Kita berusaha mengumpulkan tenaga dan kewarasannya yang tercecer.</p>

<p>Kemudian, si Miya pirang menangkup wajah Kita Shinsuke dengan tangan kanannya. Ditatapnya intens dengan sendu wajah kita yang terpejam sambil mengumpulkan napas. Ia kemudian mencabut kejantanannya, menyebabkan sisa-sisa pertarungan mereka meluber keluar. Lagi-lagi Atsumu jatuh cinta pada Kita Shinsuke, yang mana hal tersebut sungguh terasa sakit. Dada Atsumu mencelos rasanya.</p>

<p>Spontan Atsumu langsung membungkukan badan, memeluk Kita yang masih terlentang di atas meja makan. Kepalanya ia letakkan di ceruk leher Kita. Reflek, Kita membalas dengan memberikan usapan di punggung bidang berbalut kemeja biru Atsumu. Posisi mereka cukup lama seperti ini, walaupun sepertinya terlihat tidak nyaman. Namun Atsumu merasakan sebaliknya—ia sangat nyaman dan merasa <em>pulang</em>. Tapi rupanya semua terasa fana.</p>

<p>“Maaf. Pasti sakit ga pake lubricant. Maaf.” ucap Atsumu dengan geletar khawatir di kalimatnya.</p>

<p>“Ganti dulu gelasnya, tukang mabuk.” jawab Kita keluar topik berusaha melawan emosi yang ada. Ia pula sedikit gemas dengan nasib gelasnya yang hancur. Atsumu pun terkekeh mendengarnya.</p>

<p>“Aku bersyukur mejanya ga roboh.”</p>

<p>“I will definitely kick you kalau beneran.” jawab Shinsuke ketus.</p>

<p>“Aku ga tau kalau kamu masih simpan cangkir putih itu. Aku juga ga tau kalau kamu masih ketat.” Atsumu berujar sedikit menggoda dengan kekehan menyebalkan. Kita tidak menanggapi barang sepatah kata pun. Hingga akhirnya membuat hening yang aneh mengisi ruang.</p>

<p>“Shin, lihat aku,” pinta Atsumu tiba-tiba. Atsumu yang tadinya merebahkan kepalanya di ceruk leher Shinsuke, kini menumpukan kedua tangannya di meja. Ia menatap intens kedua netra mahoni Shinsuke. Yang diminta pun kali ini menurut, Shinsuke menatap si pirang.</p>

<p>“Ayo kembali. Let me back to you, my home.” lanjut Atsumu dengan nada bersungguh-sungguh. Tanpa sadar linang air mata memenuhi pelupuk Miya pirang. Shinsuke mencelos dibuatnya, matanya pun ikut berkilat.</p>

<p>Jatuh, air mata Miya Atsumu jatuh membasahi pipi Kita Shinsuke. Atsumu detik ini adalah pria payah yang terus mengemis untuk dibukakan <em>pintu rumah</em>. Shinsuke pun bangkit mendudukan diri di meja. Atsumu pun ikut menegakkan badannya.</p>

<p>Dengan lembut Kita menangkup wajah sosok di hadapannya. Ia selanjutnya mengecup kedua mata Atsumu. Air mata pun semakin mengalir tanpa sadar membanjiri pipi Miya Atsumu. Kedua netra mahoni Kita yang memandang katastrofe di hadapannya langsung remuk bagai gelas di lantai dapur. Sakit dirasakan keduanya.</p>

<p>“No, Tsum. Maaf.”</p>

<p>“I love you, Shin.” ucap Atsumu dengan parau. Kalimatnya sungguh tulus diucapkan.</p>

<p>“Yeah. But sorry, Tsum.”</p>

<p>-Fin.</p>

<blockquote><p>This is my very first explicit writing. So any DESTRUCTIVE criticism is very accepted.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/i-cant-lose-you</guid>
      <pubDate>Fri, 21 Jan 2022 14:42:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>NARASI: ReoNagi + RinSagi</title>
      <link>https://sephla.writeas.com/narasi-reonagi-rinsagi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  ⚠ ATTENTION !! ⚠&#xA;&#xA;  bxb , m/m , harsh words , misuh , local interactions , very ooc , cringe , self indulgent , possibly typo(s) , 1.3k words&#xA;&#xA;  Please read the social interactions at the first place.&#xA;&#xA;  ENJOY!&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Lo belain Isagi? cupu banget.&#34; kalimat provokatif lolos dari mulut Mikage Leo—Reo. &#xA;&#xA;&#34;Maksud, lo?! Gue lakinya, wajar kalo gue belain dia!&#34; tangan kanan Itoshi mencengkram kerah laki-laki bersurai ungu di hadapannya. Nampak jelas emosi sudah memuncak berada di ubun-ubunnya. Ia siap meledak kapanpun.&#xA;&#xA;&#34;Ngapain? Ini urusan gue sama Isagi. Napa lo jadi sok pahlawan?&#34; Leo semakin provokatif. Ia bahkan menyelipkan tawa sinis di akhir kalimatnya. &#xA;&#xA;Mendengar ujaran Leo membuat diri Rin semakin terbakar amarah. Kalimat Leo adalah bensin yang sengaja disiram dalam api. Betul saja, Rin semakin mengetatkan cengkramannya. Indikasi nyata bahwa Rin benar-benar marah. &#xA;&#xA;&#34;Reo,&#34; Nagi Seishiro menarik hoodie Leo Mikage dari belakang secara tiba-tiba. Ia mencoba memisahkan si ungu dari si surai hitam—Rin. &#xA;&#xA;Di lain sisi, Isagi Yoichi menggeret Rin mundur setelah berhasil memisahkannya dengan Leo. Setelah itu, Isagi melepaskan cengkraman tangan Itoshi Rin dan membawanya menjauh. Ia bisa merasakan seluruh otot Rin menegang hanya dengan menyentuh lengan Itoshi. Kekasihnya ini sungguh berkabut akan emosi marah. &#xA;&#xA;Setelah keduanya terpisah, tanpa aba-aba Nagi langsung mencubit pinggang Leo kekasihnya. Yang bersangkutan tentu kaget dan mengaduh. &#xA;&#xA;&#34;Berhenti bego deh.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aduh, aduh.. Nagi jangan KDRT. Sakit aduh, iya, iya, iya!&#34; Mikage Reo mengaduh kesakitan. &#xA;&#xA;&#34;Reo kalo balik ke sana kita putus.&#34; gretak si surai putih sambil masih mencubit pinggang Leo. Ia tidak main-main dalam memberikan cubitan. Ngeri. &#xA;&#xA;&#34;Engga, Reo ga ke sana. Udah, peace!&#34; ucap si tunggal Mikage sambil membuat tanda &#39;peace&#39; untuk meyakinkan kekasihnya bahwa ia jera. &#xA;&#xA;Di belakang Nagi, Isagi Yoichi tengah menatap kekasihnya—Itoshi Rin—sambil menyilangkan tangannya. Tatapannya sinis, namun Rin tak kalah sinis. Wajah datar tanpa ekspresi milik Rin pun keluar. Namun, kali ini emosi marah ikut menyelimuti wajahnya. &#xA;&#xA;&#34;Rin, selangkah maju ke sana kita putus.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku belain kamu, Ochii!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yo-i-chi! Ochii siapa?&#34; sergah si erang Isagi. Ia menampik nama sapaan (baca: kesayangan) dari Rin. Itoshi kesal dibuatnya. Nampak dari bibirnya yang mengkerucut dan alisnya menaut. &#xA;&#xA;&#34;Udah ah. Kalian tuh salah paham aja! Hadeh malu-maluin banget.&#34; lanjut Isagi pada kekasihnya itu. Seketika kedua netra sewarma teal milik Rin membulat. Alisnya ikut menaut. &#xA;&#xA;&#34;Salah paham gimana?&#34;&#xA;&#xA;**&#xA;&#xA;&#34;Reo, udah ah.&#34; Nagi Seishiro mencoba melepaskan diri dari dekapan kekasih ungunya. Namun si ungu enggan mengabulkan permintaan si putih. Sebaliknya, ia makin mengeratkan pelukannya.&#xA;&#xA;&#34;Nagi, masih mau peluk. Kamu anget, enak.&#34; Reo meletakkan dahi di ceruk leher Seishiro. Ia enggan melepaskan kekasihnya ini dari dekapan. Ia sungguh nyaman dengan sesi pelukan ini. Mikage Leo suka pelukan.&#xA;&#xA;&#34;Aku mau beli kopi di luar, sambil nugas. Pulangnya sekalian belanja bulanan.&#34; protes Nagi dengan nada ketus. Ia masih berusaha melepaskan diri. &#xA;&#xA;&#34;Kamu di rumah aja, nanti biar supir aku yang anter belanjaan kamu. Sambil kopinya aku beliin juga pake ojol.&#34;&#xA;&#xA;Nagi melepas napas berat. Ia lelah dengan perlakuan kekasihnya ini. Mikage Leo terlalu memanjakannya seperti bayi yang tidak bisa apa-apa. Pada titik ini, Seishiro sangat kesal. &#xA;&#xA;Niat hati Leo memang baik, namun itu sudah keterlaluan bagi Nagi. Ia ingin memiliki kehidupan yang normal. Ia juga ingin memiliki waktu untuk sendiri. &#xA;&#xA;&#34;Apasih, Yo. Kan aku mau ke luar sama temen. Udah lama ga keluar juga.&#34; protes si putih Seishiro. Nada kesal nampak jelas di ucapannya. &#xA;&#xA;&#34;Aku ikut.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ga mau! Kamu sukanya geledotan kalo sama aku. Udah ah.&#34; Nagi masih berusaha melepaskan diri. &#xA;&#xA;&#34;Nanti kamu ilang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Engga, Yo!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu kecil, imut, lucu, nanti ilang diculik.&#34; ucap Leo ingin mempengaruhi Nagi. Ia masih mengeratkan dekapannya.&#xA;&#xA;&#34;Bro.. Sadar diri ey. Aku 190, Reo yang lebih pendek.&#34; Nagi memutar matanya kesal. &#xA;&#xA;&#34;Aku pendek?&#34; Leo membuat-buat nada memelas di ucapannya. &#xA;&#xA;&#34;Udah ah, aku udah ditungguin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang siapa yang nungguin?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kepo.&#34; sergah Nagi ketus. Ia enggan memberi tau sosok yang telah menunggunya. &#xA;&#xA;Tak berhenti, Leo mencari cara. Ia mengendus ceruk leher Nagi dan mengusap-usapkan hidungnya di sana. Hal tersebut tentu saja menyebabkan sang empu leher geli dibuatnya. &#xA;&#xA;&#34;Nagi ayo bilang.&#34; bujuk Leo masih dengan sesi menggelitiki kekasihnya.&#xA;&#xA;&#34;Isagi. Ih udah, geli!&#34; ucap Nagi pasrah. Nama yang dilontarkan Seishiro membuat Leo berhenti seketika. Ia melonggarkan pelukannya tiba-tiba. &#xA;&#xA;&#34;Isagi?&#34; ucap Leo memastikan. Saat ini lah, Nagi memanfaatkan kesempatan untuk lepas dari dekapan. Leo. &#xA;&#xA;&#34;Bye.&#34; Si surai putih langsung melesat untuk melarikan diri dari sang kekasih. &#xA;&#xA;&#34;Nagi!&#34; &#xA;&#xA;Pasrah, Leo hanya bisa memandang kekasihnya berlari meninggalkan dirinya.&#xA;&#xA;*&#xA;&#xA;&#34;Besok lagi ga usah lebay deh. Lagian bukan Isagi yang ngide, tapi aku. Karena aku udah lama pengen keluar sendiri.&#34; Nagi mulai memberi ceramah pada kekasih ungunya. Yang diberi ceramah hanya bisa diam sambil memasang muka memelas, namun bibirnya mengkerucut kesal. &#xA;&#xA;&#34;Maafin Leo, ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hadeh.. kamu, lain kali ga usah gitu. Bikin malu aja.&#34; Nagi menyibakkan poninya ke belakang, membuat jidatnya terekspos, sambil berkacak pinggang. Ia lelah dengan kelakuan kekasihnya hari ini. Nampak raut frustrasi di wajah Seishiro. &#xA;&#xA;&#34;Nagi masih marah sama Leo?&#34; tanya Leo dengan nada seolah memohon belas kasihan. &#xA;&#xA;&#34;Ya lo pikir aja sendiri.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya, maafin Leo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu minta maafnya sama Isagi. Cepetan sana.&#34; Seishiro membuat gestur menunjuk Isagi dengan kepalanya.&#xA;&#xA;Mikage Reo memandang dua pasang laki-laki yang tak jauh darinya. Keduanya sama kacaunya dengan dirinya dan Nagi. Yang satu mengomel dengan berkacak pinggang, satunya lagi diam. Persis ia dan Nagi. &#xA;&#xA;&#34;Ayo, cepetan sana minta maaf. Kalo ga, ga ada acara cuddle cuddle.&#34;&#xA;&#xA;Berat. Tanpa cuddling dengan kekasihnya, Reo bisa membayangkan bahwa ia tak akan bisa hidup. Dunianya akan gojang-ganjing bila tidak mendapat pelukan Nagi Seishiro. Maka, dengan berat hati ia meng-iya-kan ucapan kekasihnya.&#xA;&#xA;Beberapa detik kemudian, setelah mengembuskan napas, Leo mulai melangkahkan kakinya. Ia bergerak menghampiri sosok Isagi Yoichi. Nagi pun mengekor di belakangnya.&#xA;&#xA;Setelah sampai pada Isagi Yoichi, lekas Leo membuka kata, &#34;Isagi,&#34;.&#xA;&#xA;Sosok yang dipanggil &#39;Isagi&#39; langsung mengarahkan atensi ke sumber suara di sampingnya. &#xA;&#xA;&#34;Gue minta maaf. Sorry.&#34; lanjut Leo langsung pada intinya. Permintaan maafnya terdengar tidak tulus, hal itu langsung diketahui sang kekasih. &#xA;&#xA;&#34;Yang ikhlas, Reo!&#34; protes Nagi galak. &#xA;&#xA;&#34;Ini ikhlas, Sayang.&#34; protes Leo membela diri. &#xA;&#xA;&#34;Ulangin. Ga niat bener maaf lu.&#34; kekasih Isagi Yoichi—Itoshi Rin—menimpali dengan ketus. &#xA;&#xA;&#34;Diem.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Reo!&#34; Nagi langsung angkat suara. &#xA;&#xA;&#34;Iya, iya, iya. Isagi, gue minta maaf, ya. Gue udah ceroboh dan overreact. Gue minta maaf.&#34; Reo mengulang permintaan maafnya. Ia membuat nadanya sehalus yang ia bisa, namun tetap saja terdengar sangat terpaksa. Nagi menepuk dahi dibuatnya. &#xA;&#xA;&#34;Heleh.&#34; timpal Rin lagi-lagi. Ia masih kesal pada sosok Mikage Reo karena mengusik pacarnya. &#xA;&#xA;&#34;Rin!&#34; Isagi langsung menyenggol Rin. &#xA;&#xA;&#34;Iya, ga apa kok, Yo. Santai aja. Yang penting semua udah clear.&#34; jawab Isagi pada Leo. &#xA;&#xA;&#34;Kamu juga. Belom aku jelasin udah nyelonong aja pergi.&#34; lanjut Isagi menyeramahi si netra teal.&#xA;&#xA;&#34;Minta maaf juga sana sama Reo.&#34; pungkas si surai erang, Isagi Yoichi, pada kekasihnya. &#xA;&#xA;&#34;Haha.&#34; seolah merasakan dendamnya dan puas. Reo tertawa nista mendengar kalimat Isagi. &#xA;&#xA;&#34;Gue minta maaf.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itoshi Rin!&#34; Isagi langsung naik mendengar nada tidak ikhlas dari permintaan maaf Rin.&#xA;&#xA;&#34;Fine! Reo, gue minta maaf. Gue udah overreact juga. Sorry.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Good boy.&#34; ucap Isagi sambil memberi tepuk tangan kecil.&#xA;&#xA;&#34;Ya udah, bye. Gue mau pulang.&#34; Nagi langsung menyelonong meninggalkan ketiga orang di sana. Ia membawa langkahnya menjauh keluar dari taman. Sikapnya itu membuat kedua mata Mikage Reo membulat kaget, lantas ia mengejarnya. &#xA;&#xA;&#34;Nagi, tunggu! Kita pulang bareng!&#34; ucap Leo begitu berhasil menyamai langkah Nagi, kekasihnya. &#xA;&#xA;&#34;Ga ada. Gue pulang sendiri. Gue udah pesen ojol. Bye.&#34; nagi tak acuh pada Leo. Ia terus melangkah sambil menatap ponsel pintarnya. &#xA;&#xA;Tak lama kemudian, ojol yang dimaksud langsung datang. Lekas ia langsung naik. &#xA;&#xA;&#34;Isagi, thank you and sorry for the mess.&#34; ucap Nagi setengah berteriak pada Isagi dari atas sepeda motor. &#xA;&#xA;&#34;Santai aja, gue juga mau pulang.&#34; ucap Isagi juga setengah berteriak. Kemudian Nagi dan ojol melaju meninggalkan taman. Tentu saja hal tersebut membuat Leo cengo parah. Ia masih menganga melihat kekasihnya yang semakin menjauh dimakan jarak. Hatinya mencelos dibuatnya. &#xA;&#xA;&#34;Ochii sama Rin!&#34; Itoshi Rin langsung angkat suara begitu melihat adegan dramatis yang baru saja terjadi. &#xA;&#xA;&#34;Lu siapa? Gue mau pulang sendiri.&#34; Yoichi cepat-cepat memesan ojol. Ia mengikuti jejak kawannya, Nagi. &#xA;&#xA;&#34;Ochii?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Udah pesen ojol juga nih.&#34; Yoichi menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan tulisan bahwa ojol yang dipesannya tengah berada dalam perjalanan. Seketika Rin cengo. &#xA;&#xA;&#34;Ochii kok gitu?&#34;&#xA;&#xA;*&#xA;&#xA;(21/10/21)*&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>⚠ ATTENTION !! ⚠</strong></p>

<p><strong>bxb , m/m , harsh words , misuh , local interactions , very ooc , cringe , self indulgent , possibly typo(s) , 1.3k words</strong></p>

<p>Please read the social interactions at the first place.</p>

<p>ENJOY!</p></blockquote>



<hr/>

<p>“Lo belain Isagi? cupu banget.” kalimat provokatif lolos dari mulut Mikage Leo—Reo.</p>

<p>“Maksud, lo?! Gue lakinya, wajar kalo gue belain dia!” tangan kanan Itoshi mencengkram kerah laki-laki bersurai ungu di hadapannya. Nampak jelas emosi sudah memuncak berada di ubun-ubunnya. Ia siap meledak kapanpun.</p>

<p>“Ngapain? Ini urusan gue sama Isagi. Napa lo jadi sok pahlawan?” Leo semakin provokatif. Ia bahkan menyelipkan tawa sinis di akhir kalimatnya.</p>

<p>Mendengar ujaran Leo membuat diri Rin semakin terbakar amarah. Kalimat Leo adalah bensin yang sengaja disiram dalam api. Betul saja, Rin semakin mengetatkan cengkramannya. Indikasi nyata bahwa Rin benar-benar marah.</p>

<p>“Reo,” Nagi Seishiro menarik <em>hoodie</em> Leo Mikage dari belakang secara tiba-tiba. Ia mencoba memisahkan si ungu dari si surai hitam—Rin.</p>

<p>Di lain sisi, Isagi Yoichi menggeret Rin mundur setelah berhasil memisahkannya dengan Leo. Setelah itu, Isagi melepaskan cengkraman tangan Itoshi Rin dan membawanya menjauh. Ia bisa merasakan seluruh otot Rin menegang hanya dengan menyentuh lengan Itoshi. Kekasihnya ini sungguh berkabut akan emosi marah.</p>

<p>Setelah keduanya terpisah, tanpa aba-aba Nagi langsung mencubit pinggang Leo kekasihnya. Yang bersangkutan tentu kaget dan mengaduh.</p>

<p>“Berhenti bego deh.”</p>

<p>“Aduh, aduh.. Nagi jangan KDRT. Sakit aduh, iya, iya, iya!” Mikage Reo mengaduh kesakitan.</p>

<p>“Reo kalo balik ke sana kita putus.” gretak si surai putih sambil masih mencubit pinggang Leo. Ia tidak main-main dalam memberikan cubitan. Ngeri.</p>

<p>“Engga, Reo ga ke sana. Udah, peace!” ucap si tunggal Mikage sambil membuat tanda &#39;peace&#39; untuk meyakinkan kekasihnya bahwa ia jera.</p>

<p>Di belakang Nagi, Isagi Yoichi tengah menatap kekasihnya—Itoshi Rin—sambil menyilangkan tangannya. Tatapannya sinis, namun Rin tak kalah sinis. Wajah datar tanpa ekspresi milik Rin pun keluar. Namun, kali ini emosi marah ikut menyelimuti wajahnya.</p>

<p>“Rin, selangkah maju ke sana kita putus.”</p>

<p>“Aku belain kamu, Ochii!”</p>

<p>“Yo-i-chi! Ochii siapa?” sergah si erang Isagi. Ia menampik nama sapaan (baca: kesayangan) dari Rin. Itoshi kesal dibuatnya. Nampak dari bibirnya yang mengkerucut dan alisnya menaut.</p>

<p>“Udah ah. Kalian tuh salah paham aja! Hadeh malu-maluin banget.” lanjut Isagi pada kekasihnya itu. Seketika kedua netra sewarma <em>teal</em> milik Rin membulat. Alisnya ikut menaut.</p>

<p>“Salah paham gimana?”</p>

<p>***</p>

<p>“Reo, udah ah.” Nagi Seishiro mencoba melepaskan diri dari dekapan kekasih ungunya. Namun si ungu enggan mengabulkan permintaan si putih. Sebaliknya, ia makin mengeratkan pelukannya.</p>

<p>“Nagi, masih mau peluk. Kamu anget, enak.” Reo meletakkan dahi di ceruk leher Seishiro. Ia enggan melepaskan kekasihnya ini dari dekapan. Ia sungguh nyaman dengan sesi pelukan ini. Mikage Leo suka pelukan.</p>

<p>“Aku mau beli kopi di luar, sambil nugas. Pulangnya sekalian belanja bulanan.” protes Nagi dengan nada ketus. Ia masih berusaha melepaskan diri.</p>

<p>“Kamu di rumah aja, nanti biar supir aku yang anter belanjaan kamu. Sambil kopinya aku beliin juga pake ojol.”</p>

<p>Nagi melepas napas berat. Ia lelah dengan perlakuan kekasihnya ini. Mikage Leo terlalu memanjakannya seperti bayi yang tidak bisa apa-apa. Pada titik ini, Seishiro sangat kesal.</p>

<p>Niat hati Leo memang baik, namun itu sudah keterlaluan bagi Nagi. Ia ingin memiliki kehidupan yang <em>normal</em>. Ia juga ingin memiliki waktu untuk sendiri.</p>

<p>“Apasih, Yo. Kan aku mau ke luar sama temen. Udah lama ga keluar juga.” protes si putih Seishiro. Nada kesal nampak jelas di ucapannya.</p>

<p>“Aku ikut.”</p>

<p>“Ga mau! Kamu sukanya geledotan kalo sama aku. Udah ah.” Nagi masih berusaha melepaskan diri.</p>

<p>“Nanti kamu ilang.”</p>

<p>“Engga, Yo!”</p>

<p>“Kamu kecil, imut, lucu, nanti ilang diculik.” ucap Leo ingin mempengaruhi Nagi. Ia masih mengeratkan dekapannya.</p>

<p>“Bro.. Sadar diri ey. Aku 190, Reo yang lebih pendek.” Nagi memutar matanya kesal.</p>

<p>“Aku pendek?” Leo membuat-buat nada memelas di ucapannya.</p>

<p>“Udah ah, aku udah ditungguin.”</p>

<p>“Emang siapa yang nungguin?”</p>

<p>“Kepo.” sergah Nagi ketus. Ia enggan memberi tau sosok yang telah menunggunya.</p>

<p>Tak berhenti, Leo mencari cara. Ia mengendus ceruk leher Nagi dan mengusap-usapkan hidungnya di sana. Hal tersebut tentu saja menyebabkan sang empu leher geli dibuatnya.</p>

<p>“Nagi ayo bilang.” bujuk Leo masih dengan sesi menggelitiki kekasihnya.</p>

<p>“Isagi. Ih udah, geli!” ucap Nagi pasrah. Nama yang dilontarkan Seishiro membuat Leo berhenti seketika. Ia melonggarkan pelukannya tiba-tiba.</p>

<p>“Isagi?” ucap Leo memastikan. Saat ini lah, Nagi memanfaatkan kesempatan untuk lepas dari dekapan. Leo.</p>

<p>“Bye.” Si surai putih langsung melesat untuk melarikan diri dari sang kekasih.</p>

<p>“Nagi!”</p>

<p>Pasrah, Leo hanya bisa memandang kekasihnya berlari meninggalkan dirinya.</p>

<p>***</p>

<p>“Besok lagi ga usah lebay deh. Lagian bukan Isagi yang ngide, tapi aku. Karena aku udah lama pengen keluar sendiri.” Nagi mulai memberi <em>ceramah</em> pada kekasih ungunya. Yang diberi <em>ceramah</em> hanya bisa diam sambil memasang muka memelas, namun bibirnya mengkerucut kesal.</p>

<p>“Maafin Leo, ya.”</p>

<p>“Hadeh.. kamu, lain kali ga usah gitu. Bikin malu aja.” Nagi menyibakkan poninya ke belakang, membuat jidatnya terekspos, sambil berkacak pinggang. Ia lelah dengan kelakuan kekasihnya hari ini. Nampak raut frustrasi di wajah Seishiro.</p>

<p>“Nagi masih marah sama Leo?” tanya Leo dengan nada seolah memohon belas kasihan.</p>

<p>“Ya lo pikir aja sendiri.”</p>

<p>“Iya, maafin Leo.”</p>

<p>“Kamu minta maafnya sama Isagi. Cepetan sana.” Seishiro membuat gestur menunjuk Isagi dengan kepalanya.</p>

<p>Mikage Reo memandang dua pasang laki-laki yang tak jauh darinya. Keduanya sama kacaunya dengan dirinya dan Nagi. Yang satu mengomel dengan berkacak pinggang, satunya lagi diam. Persis ia dan Nagi.</p>

<p>“Ayo, cepetan sana minta maaf. Kalo ga, ga ada acara cuddle cuddle.”</p>

<p>Berat. Tanpa <em>cuddling</em> dengan kekasihnya, Reo bisa membayangkan bahwa ia tak akan bisa hidup. Dunianya akan gojang-ganjing bila tidak mendapat pelukan Nagi Seishiro. Maka, dengan berat hati ia meng-iya-kan ucapan kekasihnya.</p>

<p>Beberapa detik kemudian, setelah mengembuskan napas, Leo mulai melangkahkan kakinya. Ia bergerak menghampiri sosok Isagi Yoichi. Nagi pun mengekor di belakangnya.</p>

<p>Setelah sampai pada Isagi Yoichi, lekas Leo membuka kata, “Isagi,”.</p>

<p>Sosok yang dipanggil &#39;Isagi&#39; langsung mengarahkan atensi ke sumber suara di sampingnya.</p>

<p>“Gue minta maaf. Sorry.” lanjut Leo langsung pada intinya. Permintaan maafnya terdengar tidak tulus, hal itu langsung diketahui sang kekasih.</p>

<p>“Yang ikhlas, Reo!” protes Nagi galak.</p>

<p>“Ini ikhlas, Sayang.” protes Leo membela diri.</p>

<p>“Ulangin. Ga niat bener maaf lu.” kekasih Isagi Yoichi—Itoshi Rin—menimpali dengan ketus.</p>

<p>“Diem.”</p>

<p>“Reo!” Nagi langsung angkat suara.</p>

<p>“Iya, iya, iya. Isagi, gue minta maaf, ya. Gue udah ceroboh dan overreact. Gue minta maaf.” Reo mengulang permintaan maafnya. Ia membuat nadanya sehalus yang ia bisa, namun tetap saja terdengar sangat terpaksa. Nagi menepuk dahi dibuatnya.</p>

<p>“Heleh.” timpal Rin lagi-lagi. Ia masih kesal pada sosok Mikage Reo karena mengusik pacarnya.</p>

<p>“Rin!” Isagi langsung menyenggol Rin.</p>

<p>“Iya, ga apa kok, Yo. Santai aja. Yang penting semua udah clear.” jawab Isagi pada Leo.</p>

<p>“Kamu juga. Belom aku jelasin udah nyelonong aja pergi.” lanjut Isagi <em>menyeramahi</em> si netra <em>teal</em>.</p>

<p>“Minta maaf juga sana sama Reo.” pungkas si surai erang, Isagi Yoichi, pada kekasihnya.</p>

<p>“Haha.” seolah merasakan dendamnya dan puas. Reo tertawa nista mendengar kalimat Isagi.</p>

<p>“Gue minta maaf.”</p>

<p>“Itoshi Rin!” Isagi langsung <em>naik</em> mendengar nada tidak ikhlas dari permintaan maaf Rin.</p>

<p>“Fine! Reo, gue minta maaf. Gue udah overreact juga. Sorry.”</p>

<p>“Good boy.” ucap Isagi sambil memberi tepuk tangan kecil.</p>

<p>“Ya udah, bye. Gue mau pulang.” Nagi langsung menyelonong meninggalkan ketiga orang di sana. Ia membawa langkahnya menjauh keluar dari taman. Sikapnya itu membuat kedua mata Mikage Reo membulat kaget, lantas ia mengejarnya.</p>

<p>“Nagi, tunggu! Kita pulang bareng!” ucap Leo begitu berhasil menyamai langkah Nagi, kekasihnya.</p>

<p>“Ga ada. Gue pulang sendiri. Gue udah pesen ojol. Bye.” nagi tak acuh pada Leo. Ia terus melangkah sambil menatap ponsel pintarnya.</p>

<p>Tak lama kemudian, <em>ojol</em> yang dimaksud langsung datang. Lekas ia langsung naik.</p>

<p>“Isagi, thank you and sorry for the mess.” ucap Nagi setengah berteriak pada Isagi dari atas sepeda motor.</p>

<p>“Santai aja, gue juga mau pulang.” ucap Isagi juga setengah berteriak. Kemudian Nagi dan <em>ojol</em> melaju meninggalkan taman. Tentu saja hal tersebut membuat Leo cengo parah. Ia masih menganga melihat kekasihnya yang semakin menjauh dimakan jarak. Hatinya mencelos dibuatnya.</p>

<p>“Ochii sama Rin!” Itoshi Rin langsung angkat suara begitu melihat adegan dramatis yang baru saja terjadi.</p>

<p>“Lu siapa? Gue mau pulang sendiri.” Yoichi cepat-cepat memesan <em>ojol</em>. Ia mengikuti jejak kawannya, Nagi.</p>

<p>“Ochii?”</p>

<p>“Udah pesen ojol juga nih.” Yoichi menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan tulisan bahwa <em>ojol</em> yang dipesannya tengah berada dalam perjalanan. Seketika Rin cengo.</p>

<p>“Ochii kok gitu?”</p>

<p>***</p>

<h5 id="21-10-21" id="21-10-21"><em>(21/10/21)</em></h5>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/narasi-reonagi-rinsagi</guid>
      <pubDate>Sun, 17 Oct 2021 17:16:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Larut</title>
      <link>https://sephla.writeas.com/larut?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[A song-fiction based on a song: &#34;Dissolve&#34; by Absofacto.&#xA;&#xA;I just wanted you to watch me dissolve, slowly&#xA;In a pool full of your love&#xA;But I don&#39;t even know how the chemistry works&#xA;&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;  A/n:&#xA;I was in love instantly when i heard this song for the first time from some random videos. My head just flew away thinking about atsukita. I genuinely suggest you to listen to the song while read this story. One before you go, this is my own interpretation of this song.&#xA;&#xA;  P.s this song is genius! &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;No flask can keep it&#xA;Bubble up and cut right through&#xA;But you&#39;re someone I believe in&#xA;&#xA;Tangan seorang pemuda dengan surai monokrom meraih labu erlenmeyer berisi aquades (baca: air). Ujung lancip ia arahkan pada mulut labu ukur dengan bagian akhir yang menggembung. Perlahan tangannya menuangkan aquades ke labu ukur. Perlahan aquades mengisi labu dan melarutkan sampel di dalamnya. &#xA;&#xA;Larut, begitu pula pada lelaki di balik mikroskop di seberang si surai monokrom. Kedua netranya tak henti menatap dalam kagum sosok yang sedang membuat larutan. Sosok di balik mikroskop ialah bersurai pirang, hatinya keras akan embel-embel jatuh cinta. Namun kali ini semesta membuatnya larut dalam pesona pemuda di seberangnya. Ia percaya, semesta sedang menumpahkan dopamin yang berlebih hari ini. Suhu tubuhnya meninggi, degup jantungnya berantakan. Jelas, sangat jelas, ia sedang kasmaran dibuatnya. &#xA;&#xA;You heat me like a filament&#xA;Anytime you&#39;re in the room&#xA;But you burned me and I&#39;m smoking&#xA;&#xA;Bagai filamen pada lampu yang panas dan menyala, perlahan kedua pipi si pirang yang tak lain adalah Miya Atsumu pun panas dan menyala. Fakta bahwa laboratorium tempat mereka berada hanya diisi oleh mereka sepasang, semakin membuat si pirang berdegup. Mungkin Atsumu bisa merasakan kepalanya berasap imajinatif karena terbakar pesona indah sosok di seberang sana. &#xA;&#xA;Pesonanya mampu menginterupsi kegiatan Atsumu. Sejatinya, sebelum Atsumu menyadari eksistensi sosok di seberang sana, ia sibuk bercinta dengan mikroskop dan kertas. Tangannya sibuk menggambar apa yang sedang diamatinya. Sedangkan tangannya yang lain sibuk menggeser-geser preparat dan mengatur lensa. Namun, bagai reaksi fusi si monokrom mengeluarkan energi yang mampu menggaet perhatian Atsumu, bahkan sampai membuatnya jatuh dan larut.&#xA;&#xA;I just wanted you to watch me dissolve, slowly&#xA;In a pool full of your love&#xA;But I don&#39;t even know how the chemistry works&#xA;&#xA;Sungguh, si pirang Atsumu ingin sosok di sana menyadari bagaimana ia larut dalam pesona adiwarnanya. Apakah dirinya jatuh pada kolam cinta? Ya, dia kasmaran. Miya Atsumu yang hanya peduli pada karir dan studinya kini merasakan bualan yang disebut jatuh cinta. &#xA;&#xA;Dalam benaknya ia sungguh tidak tau, reaksi kimia apa yang tiba-tiba terjadi di tubuhnya. Oh, hebat sekali sosok di seberang sana memberikan stimulus pada diri Miya Atsumu. Stimulus yang menyebabkan kelenjar Atsumu banjir dopamin dan berikan euforia. &#xA;&#xA;When you&#39;re poolside&#xA;Kicking in the dirt, kicking in the sand&#xA;And stirring up trouble&#xA;&#xA;Netra mahoni Atsumu mengamati nama yang terbordir di jas putih yang dikenakan si surai monokrom. Matanya memicing memusatkan fokus pada bordir. &#xA;&#xA;&#39;Kita Shinsuke&#39;, begitu kira-kira yang dibaca oleh penglihatan Miya Atsumu. &#xA;&#xA;Tanpa sadar kedua ujung bibir tuan pirang tertarik membentuk busur ketika ia mampu membaca bordir pemuda di sebrang sana. Detik kemudian, tanpa aba-aba mata mahoni Atsumu dipertemukan dengan mata pemuda monokrom di sebrang sana. Rasanya Atsumu terhempas seperti pasir pantai yang terkena ombak laut. Cepat-cepat si pirang menunduk, memutus kontak agar tidak terlihat jelas. Ia pura-pura membenarkan goggles kemudian kembali pada mikroskopnya. &#xA;&#xA;Kita Shinsuke—pemuda di sebrang Atsumu—mengamati kegiatan si pirang sejenak, kemudian ia kembali pada pekerjaannya. Tangan kanannya meraih pipet. Larutan yang ada pada labu ukur ia ambil dengan pipet, kemudian ia teteskan pada tabung reaksi. Ia melakukannya penuh dengan ketelatenan dan kehati-hatian. &#xA;&#xA;Di saat si surai monokrom sibuk, lagi-lagi Atsumu memanfaatkan aji mumpung untuk curi-curi pandang. Atsumu mengamati tiap tetes larutan yang masuk pada tabung reaksi. Oh, Shinsuke nampak sangat sempurna saat serius, pikir Atsumu. Ia tak masalah bahwa distraksi yang ada menjadi penghambat pekerjaannya untuk menggambar objek pengamatan melalui mikroskop. &#xA;&#xA;&#34;Apa yang sedang kau amati? Preparatmu menunggu untuk diamati.&#34; sontak mata Atsumu membulat mendengar sosok di sebrang angkat suara. Terlebih, Atsumu tertangkap basah curi-curi pandang. Seketika Miya pirang mati kutu dibuatnya. &#xA;&#xA;&#34;Maaf, tidak ada.&#34; ucap Atsumu buru-buru. Kemudian ia kembali mengatur lensa. Tanpa disadari olehnya, pemuda bernama Shinsuke itu tersenyum melihat gelagat Atsumu.&#xA;&#xA;Sial, Atsumu bisa gila. Ia sungguh kacau.&#xA;&#xA;Can&#39;t find an exit&#xA;I wander in a maze alone&#xA;&#xA;Atsumu kacau. Ia terjebak dalam pesona yang membuat dirinya seketika bodoh. Ia bertanya dalam benak: bagaimana keluar dari kebodohan ini? Nihil, ia tak tau jawabannya. &#xA;&#xA;Di lain sisi, Shinsuke diam-diam tertarik pada sosok di sebrang dengan mikroskop. Sungguh, otak Shinsuke berpikir untuk menjahilinya. Sambil mencampur larutan, Shinsuke tersenyum dalam hati. Sosok di sebrang sana sedikit menghibur dirinya. Ia mungkin akan melakukan sesuatu setelah ini. Otak jahil Shinsuke nampak senang akan eksistensi si pirang. &#xA;&#xA;If I find you will you shock me?&#xA;Left, left and right, right&#xA;Pretty sure that I&#39;ve been here before&#xA;&#xA;Beberapa waktu berlalu, Shinsuke telah beres dengan kegiatannya. Ia telah mencuci seluruh alat yang digunakannya tadi. Kini, saatnya ia mengembalikan alat-alat itu ke tempat semula. Kebetulan yang manis, rak penyimpanan labu kimia ada di belakang Atsumu. Lekas saja Shinsuke membawa kakinya melangkah ke sana. &#xA;&#xA;Di saat Shinsuke semakin berjalan mendekat, Atsumu mulai sedikit abai akan ekistensi indah di sebrang sana. Ia mulai fokus mengamati objek pada preparat dan mentransfer pengamatannya melalui sketsa pada lembaran putih. Bisa dikata, Atsumu cukup hebat dalam urusan sketsa seperti ini. Gambarannya hampir mendekati akurat. Atsumu sungguh berdedikasi dalam hal ini. Kesungguhan nampak dalam dirinya bila ia sudah menemukan fokus, contohnya saat ini, ia kembali fokus pada pekerjaannya. &#xA;&#xA;Hingga, tiba-tiba sebuah suara almari terbuka menginterupsi atensi Atsumu. Sosok yang tadinya berada di seberang kini berada di belakangnya. Lagi, degup jantung Miya Atsumu kembali berantakan mengetahui hal itu. &#xA;&#xA;&#34;Maafkan aku mengganggumu.&#34; ucap si surai monokrom sambil meletakkan labu yang dibawa pada tempatnya. Atsumu hanya bisa mematung sejenak mendengar penuturan maaf dari makhluk yang ia kagumi sejak tadi. &#xA;&#xA;Buru-buru si pirang Atsumu kembali pada sketsanya sambil berdeham. &#34;Tidak kok, tidak masalah.&#34; Atsumu sungguh payah. Ia gugup setengah mati. Dirasanya kedua telapaknya berkeringat, kedua pipinya pun menyala bak filamen lampu di atasnya.&#xA;&#xA;&#34;Oh, sedang membuat gambar? Keliatan hebat menggambar?&#34; tanya Shinsuke sambil mengambil tempat di samping Atsumu. &#xA;&#xA;Kita Shinsuke mengulum senyum mengamati tangan kanan si pirang menggesek-gesekan pensil pada kertas membentuk sketsa. Shinsuke menerka bahwa si pirang tengah menggambar jaringan dari makhluk hidup. Netranya mengamati setiap goresan yang si pirang buat. Ia mengamati penuh antusias. &#xA;&#xA;Kedua manik yang mengamati sketsa, perlahan naik menuju sosok yang membuat. Lamat-lamat ia dapat mengamati rona merah pada pipi hingga tengkuk dan telinga sosok di hadapannya ini. Shinsuke terkekeh dalam hati. Sungguh, sosok di depannya ini seperti mangsa empuk—mudah untuk dijahili. &#xA;&#xA;Tiba-tiba dari pundak sebelah kanan Atsumu, Shinsuke muncul secara tiba-tiba. Ia penasaran akan pengamatan si tuan pirang. Maka ia pun mencetus ingin melihat objek melalui mikroskop. &#xA;&#xA;&#34;Boleh aku melihat?&#34; sontak Atsumu yang tersadar pun langsung memberi sedikit jarak dan mengangguk sekilas. Atsumu memberi izin si monokrom. Langsung saja si surai dwiwarna mendekatkan netra berbalut goggles ke arah lensa okuler. Ia pun tersenyum mengamati preparat di sebrang lensa obyektif. Namun, di lain sisi detak jantung Atsumu terobrak-abrik kacau karena jarak mereka yang begitu dekat. &#xA;&#xA;And it isn&#39;t what I wanted&#xA;I just wanted you to watch me dissolve, slowly&#xA;In a pool full of your love&#xA;&#xA;Pemuda bernama Shinsuke tadi kembali duduk di bangku sebelah Atsumu persis. Senyum tak lepas dari wajah eloknya. &#xA;&#xA;&#34;Siapa namamu?&#34; tanya Kita Shinsuke pada si pirang sambil menyangga kepalanya dengan tangan kanannya. Sejenak aktifitas Atsumu terhenti, atensinya ia arahkan sepenuhnya pada sumber suara. &#xA;&#xA;&#34;Atsumu? Miya Atsumu?&#34; ucap Shinsuke mengintip bordir nama pada jas lab yang dikenakan si pirang. &#xA;&#xA;&#34;Ya-ya! Atsumu, namaku Miya Atsumu!&#34; Atsumu gelagapan menjawabnya. Sosok di depannya pun terkekeh. Atsumu tak berani menatap lawan bicaranya. &#xA;&#xA;&#34;Kau lucu!&#34; ucap Shinsuke to-the-point sukses membuat sosok di dedapannya terdiam kaku bagai terkena aliran listrik tegangan tinggi. Atsumu yang tadinya tak berani, seketika pun berani menatap lawan bicaranya yang masih setia menyunggingkan senyum sambil menyangga kepala. &#xA;&#xA;Indah&#xA;Manis&#xA;Manis sekali&#xA;&#xA;Benar, Atsumu langsung tenggelam pada tatap. Ia tenggelan dalam manik indah si monokrom. Pupilnya membesar menangkap objek di depannya. Seketika dopamin dalam dirinya semakin meningkat. Euforia tak terbendung membanjiri dirinya, hingga menyebabkan ribuan kupu-kupu di perutnya terbang. &#xA;&#xA;Irasional, cinta memang irasional dan bodoh. Atsumu tak mampu menemukan logika saat ini. Ia hanya tau bahwa ia sedang jatuh pada pesona seseorang. Ini adalah kali pertama ia menjadi bodoh seperti ini. &#xA;&#xA;&#34;Panggil aja aku Shinsuke!&#34;&#xA;&#xA;Shinsuke, andai kau tau bahwa aku larut bagai sampel mu tadi? &#xA;Larut. Aku larut. &#xA;Apakah kau juga larut sama sepertiku? Aku ingin tau!&#xA;&#xA;&#34;Kau manis!&#34; ucap Atsumu sembrono tanpa sadar. Ia merutuki kebodohannya dalam hati setelah ia melontarkan ucapannya. Sosok di depannya pun tertawa lepas melihat kelakar si pirang bernama Miya Atsumu. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  A/n:&#xA;It rarely happen that i could finish a writing in one sitting, but this one seems got an exception (SIKE!!!). Writing this fiction really fun and somehow gave me mixed feelings. I could find solace and happiness yet a longing feelings when wrote this one. This really make me miss the day when i got chemistry and biology class in laboratory. That was fun tho. I miss that moment so bad (and getting worse) as I&#39;m writing this note :( &#xA;Cri, sad :((((&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h3 id="a-song-fiction-based-on-a-song-dissolve-by-absofacto" id="a-song-fiction-based-on-a-song-dissolve-by-absofacto"><strong>A song-fiction based on a song: “Dissolve” by Absofacto.</strong></h3>

<p><em>I just wanted you to watch me dissolve, slowly
In a pool full of your love
But I don&#39;t even know how the chemistry works</em></p>



<hr/>

<blockquote><p><strong>A/n:</strong>
I was in love instantly when i heard this song for the first time from some random videos. My head just flew away thinking about atsukita. <strong>I genuinely suggest you to listen to the song while read this story. One before you go, this is my own interpretation of this song.</strong></p>

<p>P.s this song is genius!</p></blockquote>

<hr/>

<p><strong><em>No flask can keep it
Bubble up and cut right through
But you&#39;re someone I believe in</em></strong></p>

<p>Tangan seorang pemuda dengan surai monokrom meraih labu erlenmeyer berisi <em>aquades</em> (baca: air). Ujung lancip ia arahkan pada mulut labu ukur dengan bagian akhir yang menggembung. Perlahan tangannya menuangkan <em>aquades</em> ke labu ukur. Perlahan <em>aquades</em> mengisi labu dan melarutkan <em>sampel</em> di dalamnya.</p>

<p>Larut, begitu pula pada lelaki di balik mikroskop di seberang si surai monokrom. Kedua netranya tak henti menatap dalam kagum sosok yang sedang membuat larutan. Sosok di balik mikroskop ialah bersurai pirang, hatinya keras akan embel-embel <em>jatuh cinta</em>. Namun kali ini semesta membuatnya larut dalam pesona pemuda di seberangnya. Ia percaya, semesta sedang menumpahkan dopamin yang berlebih hari ini. Suhu tubuhnya meninggi, degup jantungnya berantakan. Jelas, sangat jelas, ia sedang kasmaran dibuatnya.</p>

<p><strong><em>You heat me like a filament
Anytime you&#39;re in the room
But you burned me and I&#39;m smoking</em></strong></p>

<p>Bagai filamen pada lampu yang panas dan menyala, perlahan kedua pipi si pirang yang tak lain adalah Miya Atsumu pun panas dan menyala. Fakta bahwa laboratorium tempat mereka berada hanya diisi oleh mereka sepasang, semakin membuat si pirang berdegup. Mungkin Atsumu bisa merasakan kepalanya berasap imajinatif karena terbakar pesona indah sosok di seberang sana.</p>

<p>Pesonanya mampu menginterupsi kegiatan Atsumu. Sejatinya, sebelum Atsumu menyadari eksistensi sosok di seberang sana, ia sibuk bercinta dengan mikroskop dan kertas. Tangannya sibuk menggambar apa yang sedang diamatinya. Sedangkan tangannya yang lain sibuk menggeser-geser preparat dan mengatur lensa. Namun, bagai reaksi fusi si monokrom mengeluarkan energi yang mampu menggaet perhatian Atsumu, bahkan sampai membuatnya <em>jatuh</em> dan <em>larut.</em></p>

<p><strong><em>I just wanted you to watch me dissolve, slowly
In a pool full of your love
But I don&#39;t even know how the chemistry works</em></strong></p>

<p>Sungguh, si pirang Atsumu ingin sosok di sana menyadari bagaimana ia larut dalam pesona adiwarnanya. Apakah dirinya jatuh pada kolam cinta? Ya, dia kasmaran. Miya Atsumu yang hanya peduli pada karir dan studinya kini merasakan <em>bualan</em> yang disebut jatuh cinta.</p>

<p>Dalam benaknya ia sungguh tidak tau, reaksi kimia apa yang tiba-tiba terjadi di tubuhnya. Oh, hebat sekali sosok di seberang sana memberikan stimulus pada diri Miya Atsumu. Stimulus yang menyebabkan kelenjar Atsumu banjir dopamin dan berikan euforia.</p>

<p><strong><em>When you&#39;re poolside
Kicking in the dirt, kicking in the sand
And stirring up trouble</em></strong></p>

<p>Netra mahoni Atsumu mengamati nama yang terbordir di jas putih yang dikenakan si surai monokrom. Matanya memicing memusatkan fokus pada bordir.</p>

<p>&#39;Kita Shinsuke&#39;, begitu kira-kira yang dibaca oleh penglihatan Miya Atsumu.</p>

<p>Tanpa sadar kedua ujung bibir tuan pirang tertarik membentuk busur ketika ia mampu membaca bordir pemuda di sebrang sana. Detik kemudian, tanpa aba-aba mata mahoni Atsumu dipertemukan dengan mata pemuda monokrom di sebrang sana. Rasanya Atsumu terhempas seperti pasir pantai yang terkena ombak laut. Cepat-cepat si pirang menunduk, memutus kontak agar tidak terlihat <em>jelas</em>. Ia pura-pura membenarkan <em>goggles</em> kemudian kembali pada mikroskopnya.</p>

<p>Kita Shinsuke—pemuda di sebrang Atsumu—mengamati kegiatan si pirang sejenak, kemudian ia kembali pada pekerjaannya. Tangan kanannya meraih pipet. Larutan yang ada pada labu ukur ia ambil dengan pipet, kemudian ia teteskan pada tabung reaksi. Ia melakukannya penuh dengan ketelatenan dan kehati-hatian.</p>

<p>Di saat si surai monokrom sibuk, lagi-lagi Atsumu memanfaatkan aji mumpung untuk curi-curi pandang. Atsumu mengamati tiap tetes larutan yang masuk pada tabung reaksi. <em>Oh, Shinsuke nampak sangat sempurna saat serius,</em> pikir Atsumu. Ia tak masalah bahwa distraksi yang ada menjadi penghambat pekerjaannya untuk menggambar objek pengamatan melalui mikroskop.</p>

<p>“Apa yang sedang kau amati? Preparatmu menunggu untuk diamati.” sontak mata Atsumu membulat mendengar sosok di sebrang angkat suara. Terlebih, Atsumu tertangkap basah curi-curi pandang. Seketika Miya pirang mati kutu dibuatnya.</p>

<p>“Maaf, tidak ada.” ucap Atsumu buru-buru. Kemudian ia kembali mengatur lensa. Tanpa disadari olehnya, pemuda bernama Shinsuke itu tersenyum melihat gelagat Atsumu.</p>

<p>Sial, Atsumu bisa gila. Ia sungguh kacau.</p>

<p><strong><em>Can&#39;t find an exit
I wander in a maze alone</em></strong></p>

<p>Atsumu kacau. Ia terjebak dalam pesona yang membuat dirinya seketika bodoh. Ia bertanya dalam benak: bagaimana keluar dari kebodohan ini? Nihil, ia tak tau jawabannya.</p>

<p>Di lain sisi, Shinsuke diam-diam tertarik pada sosok di sebrang dengan mikroskop. Sungguh, otak Shinsuke berpikir untuk menjahilinya. Sambil mencampur larutan, Shinsuke tersenyum dalam hati. Sosok di sebrang sana sedikit menghibur dirinya. Ia mungkin akan melakukan sesuatu setelah ini. Otak jahil Shinsuke nampak senang akan eksistensi si pirang.</p>

<p><strong><em>If I find you will you shock me?
Left, left and right, right
Pretty sure that I&#39;ve been here before</em></strong></p>

<p>Beberapa waktu berlalu, Shinsuke telah beres dengan kegiatannya. Ia telah mencuci seluruh alat yang digunakannya tadi. Kini, saatnya ia mengembalikan alat-alat itu ke tempat semula. Kebetulan yang manis, rak penyimpanan labu kimia ada di belakang Atsumu. Lekas saja Shinsuke membawa kakinya melangkah ke sana.</p>

<p>Di saat Shinsuke semakin berjalan mendekat, Atsumu mulai <em>sedikit</em> abai akan ekistensi indah di sebrang sana. Ia mulai fokus mengamati objek pada preparat dan mentransfer pengamatannya melalui sketsa pada lembaran putih. Bisa dikata, Atsumu cukup hebat dalam urusan sketsa seperti ini. Gambarannya hampir mendekati akurat. Atsumu sungguh berdedikasi dalam hal ini. Kesungguhan nampak dalam dirinya bila ia sudah menemukan fokus, contohnya saat ini, ia kembali fokus pada pekerjaannya.</p>

<p>Hingga, tiba-tiba sebuah suara almari terbuka menginterupsi atensi Atsumu. Sosok yang tadinya berada di seberang kini berada di belakangnya. Lagi, degup jantung Miya Atsumu kembali berantakan mengetahui hal itu.</p>

<p>“Maafkan aku mengganggumu.” ucap si surai monokrom sambil meletakkan labu yang dibawa pada tempatnya. Atsumu hanya bisa mematung sejenak mendengar penuturan maaf dari makhluk yang ia kagumi sejak tadi.</p>

<p>Buru-buru si pirang Atsumu kembali pada sketsanya sambil berdeham. “Tidak kok, tidak masalah.” Atsumu sungguh payah. Ia gugup setengah mati. Dirasanya kedua telapaknya berkeringat, kedua pipinya pun menyala bak filamen lampu di atasnya.</p>

<p>“Oh, sedang membuat gambar? Keliatan hebat menggambar?” tanya Shinsuke sambil mengambil tempat di samping Atsumu.</p>

<p>Kita Shinsuke mengulum senyum mengamati tangan kanan si pirang menggesek-gesekan pensil pada kertas membentuk sketsa. Shinsuke menerka bahwa si pirang tengah menggambar jaringan dari makhluk hidup. Netranya mengamati setiap goresan yang si pirang buat. Ia mengamati penuh antusias.</p>

<p>Kedua manik yang mengamati sketsa, perlahan naik menuju sosok yang membuat. Lamat-lamat ia dapat mengamati rona merah pada pipi hingga tengkuk dan telinga sosok di hadapannya ini. Shinsuke terkekeh dalam hati. Sungguh, sosok di depannya ini seperti mangsa empuk—mudah untuk dijahili.</p>

<p>Tiba-tiba dari pundak sebelah kanan Atsumu, Shinsuke muncul secara tiba-tiba. Ia penasaran akan pengamatan si tuan pirang. Maka ia pun mencetus ingin melihat objek melalui mikroskop.</p>

<p>“Boleh aku melihat?” sontak Atsumu yang tersadar pun langsung memberi sedikit jarak dan mengangguk sekilas. Atsumu memberi izin si monokrom. Langsung saja si surai dwiwarna mendekatkan netra berbalut <em>goggles</em> ke arah lensa okuler. Ia pun tersenyum mengamati preparat di sebrang lensa obyektif. Namun, di lain sisi detak jantung Atsumu terobrak-abrik kacau karena jarak mereka yang begitu dekat.</p>

<p><strong><em>And it isn&#39;t what I wanted
I just wanted you to watch me dissolve, slowly
In a pool full of your love</em></strong></p>

<p>Pemuda bernama Shinsuke tadi kembali duduk di bangku sebelah Atsumu persis. Senyum tak lepas dari wajah eloknya.</p>

<p>“Siapa namamu?” tanya Kita Shinsuke pada si pirang sambil menyangga kepalanya dengan tangan kanannya. Sejenak aktifitas Atsumu terhenti, atensinya ia arahkan sepenuhnya pada sumber suara.</p>

<p>“Atsumu? Miya Atsumu?” ucap Shinsuke mengintip bordir nama pada jas lab yang dikenakan si pirang.</p>

<p>“Ya-ya! Atsumu, namaku Miya Atsumu!” Atsumu gelagapan menjawabnya. Sosok di depannya pun terkekeh. Atsumu tak berani menatap lawan bicaranya.</p>

<p>“Kau lucu!” ucap Shinsuke <em>to-the-point</em> sukses membuat sosok di dedapannya terdiam kaku bagai terkena aliran listrik tegangan tinggi. Atsumu yang tadinya tak berani, seketika pun berani menatap lawan bicaranya yang masih setia menyunggingkan senyum sambil menyangga kepala.</p>

<p><em>Indah
Manis
Manis sekali</em></p>

<p>Benar, Atsumu langsung tenggelam pada tatap. Ia tenggelan dalam manik indah si monokrom. Pupilnya membesar menangkap objek di depannya. Seketika dopamin dalam dirinya semakin meningkat. Euforia tak terbendung membanjiri dirinya, hingga menyebabkan ribuan kupu-kupu di perutnya terbang.</p>

<p>Irasional, cinta memang irasional dan <em>bodoh</em>. Atsumu tak mampu menemukan logika saat ini. Ia hanya tau bahwa ia sedang jatuh pada pesona seseorang. Ini adalah kali pertama ia menjadi <em>bodoh</em> seperti ini.</p>

<p>“Panggil aja aku Shinsuke!”</p>

<p><em>Shinsuke, andai kau tau bahwa aku larut bagai sampel mu tadi?
Larut. Aku larut.
Apakah kau juga larut sama sepertiku? Aku ingin tau!</em></p>

<p>“Kau manis!” ucap Atsumu sembrono tanpa sadar. Ia merutuki kebodohannya dalam hati setelah ia melontarkan ucapannya. Sosok di depannya pun tertawa lepas melihat kelakar si pirang bernama Miya Atsumu.</p>

<hr/>

<blockquote><p><strong>A/n:</strong>
It rarely happen that i could finish a writing in one sitting, but this one seems got an exception (SIKE!!!). Writing this fiction really fun and somehow gave me mixed feelings. I could find solace and happiness yet a longing feelings when wrote this one. This really make me miss the day when i got chemistry and biology class in laboratory. That was fun tho. I miss that moment so bad (and getting worse) as I&#39;m writing this note :(
Cri, sad :((((</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/larut</guid>
      <pubDate>Thu, 05 Aug 2021 16:36:24 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>No. 1 Dad(s);</title>
      <link>https://sephla.writeas.com/no-nqmy?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bagian 3&#xA;&#xA;  cw // food , ooc , pining !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Pukul dua belas lebih tujuh Suna kembali datang ke kedai Onigiri Miya. Ini adalah kali ketiga ia berkunjung. Sekarang ia sedang mengantre. Beruntunglah ia datang saat kedai tidak terlalu ramai.&#xA;&#xA;Oh, di depan sana berjaga sosok yang diicarnya. Dewi fortuna memang sedang tersenyum pada si middle blocker—Suna.&#xA;&#xA;Saat sampai pada gilirannya, laki-laki didepannya itu tersenyum ramah. Kedua alis tebalnya terangkat saat menarik senyum.&#xA;&#xA;&#34;Ada yang bisa saya bantu?&#34; tanya sosok di depan Suna Rintarō.&#xA;&#xA;&#34;Surprise me, berikan yang spesial hari ini.&#34; jawab Suna dengan senyum tipis. Lawan bicaranya terkekeh kecil, lalu memasang senyum profesional.&#xA;&#xA;&#34;Negitoro masih dengan peminat yang tinggi sampai hari ini. Tapi sepertinya Anda sudah memesan itu. Bagaimana kalau mencoba fatty tuna onigiri?&#34;&#xA;&#xA;Oh dia mengingatnya?&#xA;&#xA;&#34;Apapun, aku bersedia.&#34;&#xA;&#xA;Seperti biasa setelah melakukan pembayaran ia langsung mencari tempat duduk. Dan lagi-lagi dewi Fortuna tersenyum kepadanya. Ia menemukan tempat yang tak jauh dari meja pemesanan. Lancar sudah acara curi-curi pandang. Aji mumpung.&#xA;&#xA;Waktu berlalu dan onigiri dengan isi fatty tuna datang di hadapannya. Rintarō pun lantas menyantapnya dalam diam, tentu saja penuh penghayatan dalam setiap kecapan. Ia makan perlahan betul-betul menikmati. Selain karena menikmati, ia juga menggunakan kesempatan emasnya untuk mencuri pandang pada sosok di balik etalase pemesanan. Ia gunakan sudut matanya untuk melirik sosok di sana. Sungguh, Suna seperti bujang yang kasmaran. &#xA;&#xA;Tapi tidak dapat dipungkiri, bahwa makanan di sini memang enak. Setiap gigitan akan membawa Suna bernostalgia pada rumah. Bagaimana ia dulu saat kecil membeli nasi kepal isi tuna di konbini dan memakannya di beranda rumah. Benar-benar bahagia kala itu rasanya. Rasa itu pula kini hadir dalam fatty tuna onigiri yang sedang ia santap.&#xA;&#xA;Setelah beberapa waktu, sang atlet pun beranjak dari duduknya. Ia telah menghabiskan sajian yang dipesan dan situasi sedang lenggang. Sesuai rencana awal, ia pun menghampiri meja pemesanan untuk melancarkan aksinya.&#xA;&#xA;“Halo, sepertinya aku akan jadi pelanggan tetap di sini.”&#xA;&#xA;Pria di depan Suna mendengus geli dan tersenyum lebar mendengar pernyataan sang atlet.&#xA;&#xA;“Aku tidak bohong, masakan di sini memang enak. Aku akan kembali lagi ke sini. Kau juga jadi faktornya.” ujar Suna dengan sifat blunt-nya secara gamblang. pria yang di depannya menautkan alis begitu mendengar kalimat Suna di akhir.&#xA;&#xA;“Ah, terima kasih. Tapi, apa maksud saya menjadi faktor juga?”&#xA;&#xA;“Ah tidak apa, bolehkah aku tau namamu? Kita bisa bertukar media sosial bila tidak keberatan.”&#xA;&#xA;“Oh, kau bisa cek akun twitter-ku. Mya dengan dua ‘a’ underscore sam atau kau bisa cari sesuai keyword nama kedai ini.”&#xA;&#xA;&#34;baiklah, terima kasih.&#34; ucap Suna lalu berlalu keluar. &#xA;&#xA;&#34;Ah, datang lah lain waktu. Aku menunggumu.&#34; &#xA;&#xA;Aku menunggumu?&#xA;&#xA;***&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h3 id="bagian-3" id="bagian-3">Bagian 3</h3>

<blockquote><p>cw // food , ooc , pining </p></blockquote>

<hr/>

<p>Pukul dua belas lebih tujuh Suna kembali datang ke kedai Onigiri Miya. Ini adalah kali ketiga ia berkunjung. Sekarang ia sedang mengantre. Beruntunglah ia datang saat kedai tidak terlalu ramai.</p>

<p>Oh, di depan sana berjaga sosok yang diicarnya. Dewi fortuna memang sedang tersenyum pada si <em>middle blocker</em>—Suna.</p>

<p>Saat sampai pada gilirannya, laki-laki didepannya itu tersenyum ramah. Kedua alis tebalnya terangkat saat menarik senyum.</p>

<p>“Ada yang bisa saya bantu?” tanya sosok di depan Suna Rintarō.</p>

<p>“Surprise me, berikan yang spesial hari ini.” jawab Suna dengan senyum tipis. Lawan bicaranya terkekeh kecil, lalu memasang senyum profesional.</p>

<p>“Negitoro masih dengan peminat yang tinggi sampai hari ini. Tapi sepertinya Anda sudah memesan itu. Bagaimana kalau mencoba fatty tuna onigiri?”</p>

<p><em>Oh dia mengingatnya?</em></p>

<p>“Apapun, aku bersedia.”</p>

<p>Seperti biasa setelah melakukan pembayaran ia langsung mencari tempat duduk. Dan lagi-lagi dewi Fortuna tersenyum kepadanya. Ia menemukan tempat yang tak jauh dari meja pemesanan. Lancar sudah acara curi-curi pandang. Aji mumpung.</p>

<p>Waktu berlalu dan onigiri dengan isi fatty tuna datang di hadapannya. Rintarō pun lantas menyantapnya dalam diam, tentu saja penuh penghayatan dalam setiap kecapan. Ia makan perlahan betul-betul menikmati. Selain karena menikmati, ia juga menggunakan kesempatan emasnya untuk mencuri pandang pada sosok di balik etalase pemesanan. Ia gunakan sudut matanya untuk melirik sosok di sana. Sungguh, Suna seperti bujang yang kasmaran.</p>

<p>Tapi tidak dapat dipungkiri, bahwa makanan di sini memang enak. Setiap gigitan akan membawa Suna bernostalgia pada rumah. Bagaimana ia dulu saat kecil membeli nasi kepal isi tuna di <em>konbini</em> dan memakannya di beranda rumah. Benar-benar bahagia kala itu rasanya. Rasa itu pula kini hadir dalam <em>fatty tuna</em> onigiri yang sedang ia santap.</p>

<p>Setelah beberapa waktu, sang atlet pun beranjak dari duduknya. Ia telah menghabiskan sajian yang dipesan dan situasi sedang lenggang. Sesuai rencana awal, ia pun menghampiri meja pemesanan untuk melancarkan aksinya.</p>

<p>“Halo, sepertinya aku akan jadi pelanggan tetap di sini.”</p>

<p>Pria di depan Suna mendengus geli dan tersenyum lebar mendengar pernyataan sang atlet.</p>

<p>“Aku tidak bohong, masakan di sini memang enak. Aku akan kembali lagi ke sini. Kau juga jadi faktornya.” ujar Suna dengan sifat <em>blunt</em>-nya secara gamblang. pria yang di depannya menautkan alis begitu mendengar kalimat Suna di akhir.</p>

<p>“Ah, terima kasih. Tapi, apa maksud saya menjadi faktor juga?”</p>

<p>“Ah tidak apa, bolehkah aku tau namamu? Kita bisa bertukar media sosial bila tidak keberatan.”</p>

<p>“Oh, kau bisa cek akun twitter-ku. Mya dengan dua ‘a’ underscore sam atau kau bisa cari sesuai keyword nama kedai ini.”</p>

<p>“baiklah, terima kasih.” ucap Suna lalu berlalu keluar.</p>

<p>“Ah, datang lah lain waktu. Aku menunggumu.”</p>

<p><em>Aku menunggumu?</em></p>

<p>***</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/no-nqmy</guid>
      <pubDate>Tue, 20 Jul 2021 17:50:42 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>No. 1 Dad(s);</title>
      <link>https://sephla.writeas.com/no-jnyc?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bagian 2: Jagoan Papa&#xA;&#xA;  cw // food , implying overprotective parent , implying anxious parent , smoking cigarettes , single parent life , implying panic feeling  , angst and emotional (suggestive) , negative thoughts !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#34;Papa!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nao?&#34; bocah berambut legam menghambur ke sosok yang tengah membuka pintu.&#xA;&#xA;Miya Osamu, seorang orang tua tunggal yang hidup bahagia dengan membangun bisnis kuliner dan juga anak semata wayangnya, Miya Naoki.&#xA;&#xA;Naoki mewarisi rambut legam Osamu, begitu pula iris matanya. Ia tumbuh menjadi anak yang mandiri, karena dihadapkan dengan keadaan.&#xA;&#xA;Naoki terbiasa melakukan hampir apapun sendirian. Mulai dari belajar, mengerjakan PR, hingga berangkat sekolah. Tak jarang ia melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring dan membersihkan rumah sendiri. Ia benar-benar anak yang hebat di usianya yang masih satu dasawarsa. Sangat belia, namun bisa diandalkan.&#xA;&#xA;&#34;Liat, Nao bikin apa?!&#34; ucap Nao penuh antusiasme yang berkilat di kedua matanya.&#xA;&#xA;&#34;Nao nyalain kompor? Bahaya itu, besok lagi jangan, oke?&#34; Osamu tertegun dengan kepanikan. Alisnya menaut khawatir memandang putranya.&#xA;&#xA;&#34;Papa.. Nao bahkan belom bilang apa-apa!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke.. Nao bikin apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lihat, nih bola-bola coklat! Nao ngga pake kompor kok bikin ini!&#34; protes sang putra dengan nada kesal.&#xA;&#xA;&#34;Huh.. Papa panik. Ah, kamu pinter banget. Ini buat Papa kah?&#34;&#xA;&#xA;Naoki mengangguk penuh semangat. &#34;Iya, buat Papa. Karena tadi Nao baca, katanya coklat bisa bikin seneng!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gimana? Enak &#39;kan, Pa??&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, Enak. Kamu pinter banget, terima kasih ya!&#34; Osamu mengusap pucuk kepala Nao dengan senyum lima jari.&#xA;&#xA;&#34;Tugas kamu udah selesai semua? Ada yang susah?&#34; lanjut Osamu bertanya.&#xA;&#xA;&#34;Sudah!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Astaga, Nao pinter banget. Papa mandi dulu, ya. Ini udah malem, kamu tidur, ok?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Papa, Nao boleh minta temani tidur? Kalau Papa capek ga usah, ga papa kok.&#34; hati Osamu terasa tertusuk-tusuk mendengar permintaan kecil anaknya. Bahkan di saat ia kurang perhatian, ia masih pengertian dengannya.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Papa temani. Tapi Papa mandi dulu, ya?&#34; ucap Osamu sambil mengusap pucuk kepala putranya. Nao pun mengangguk setuju.&#xA;&#xA;Lekas Osamu mandi dengan kilat. Setelahnya ia menghampiri Nao yang tengah membaca komik favoritnya di atas kasur.&#xA;&#xA;Lalu ia mengusap-usap kepala Nao yang bersiap untuk meluncur ke alam mimpi. Nao memejamkan mata menghadap sang Papa yang terus mengusap-usapnya. Perlu waktu kurang dari lima menit hingga Osamu melihat napas konstan dari tubuh putranya. Nao sudah terlelap.&#xA;&#xA;&#34;Malam, Miya Naoki jagoan Papa.&#34; Osamu mengecup puncak kepala putranya penuh kasih, kemudian ia berlalu.&#xA;&#xA;Di balkon belakang apartment Osamu berada saat ini. Bibirnya menyesap gulungan tembakau dengan api di ujungnya. Perlahan ia mengembuskan asap putih. Setiap embusan seolah melepaskan penatnya.&#xA;&#xA;Dalam hati ia bermonolog. Ia sangat setuju bahwa ia adalah ayah yang buruk. Ia merasa tak pantas mendapatkan Nao sebagai putranya. Hatinya mencelos sakit terpikir bagaimana beratnya menjadi Nao yang hidup tanpa kasih ibu dan sosok ayah yang selalu ada di sampingnya. Pasti sangat berat menjadi Miya Naoki.&#xA;&#xA;Hatinya benar-benar sakit. Badannya pun lelah. Ia selalu dan berusaha tegar. Namun ia tak bisa menitikan air mata. Ia lupa cara menangis. Terakhir kali ia menangis adalah saat Nao putra semata wayangnya lahir ke dunia.&#xA;&#xA;Aku sungguh ayah yang buruk.&#xA;&#xA;Osamu terus menghabiskan gulungan tembakaunya dalam diam. Dalam diam pula ia bersumpah kalau hidup dan matinya hanyalah untuk Nao. Ia ingin Naoki kecil-nya bahagia.&#xA;&#xA;***&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h3 id="bagian-2-jagoan-papa" id="bagian-2-jagoan-papa">Bagian 2: Jagoan Papa</h3>

<blockquote><p>cw // food , implying overprotective parent , implying anxious parent , smoking cigarettes , single parent life , implying panic feeling  , angst and emotional (suggestive) , negative thoughts </p></blockquote>

<hr/>

<p>“Papa!”</p>

<p>“Nao?” bocah berambut legam menghambur ke sosok yang tengah membuka pintu.</p>

<p>Miya Osamu, seorang orang tua tunggal yang hidup bahagia dengan membangun bisnis kuliner dan juga anak semata wayangnya, Miya Naoki.</p>

<p>Naoki mewarisi rambut legam Osamu, begitu pula iris matanya. Ia tumbuh menjadi anak yang mandiri, karena dihadapkan dengan keadaan.</p>

<p>Naoki terbiasa melakukan hampir apapun sendirian. Mulai dari belajar, mengerjakan PR, hingga berangkat sekolah. Tak jarang ia melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring dan membersihkan rumah sendiri. Ia benar-benar anak yang hebat di usianya yang masih satu dasawarsa. Sangat belia, namun bisa diandalkan.</p>

<p>“Liat, Nao bikin apa?!” ucap Nao penuh antusiasme yang berkilat di kedua matanya.</p>

<p>“Nao nyalain kompor? Bahaya itu, besok lagi jangan, oke?” Osamu tertegun dengan kepanikan. Alisnya menaut khawatir memandang putranya.</p>

<p>“Papa.. Nao bahkan belom bilang apa-apa!”</p>

<p>“Oke.. Nao bikin apa?”</p>

<p>“Lihat, nih bola-bola coklat! Nao ngga pake kompor kok bikin ini!” protes sang putra dengan nada kesal.</p>

<p>“Huh.. Papa panik. Ah, kamu pinter banget. Ini buat Papa kah?”</p>

<p>Naoki mengangguk penuh semangat. “Iya, buat Papa. Karena tadi Nao baca, katanya coklat bisa bikin seneng!”</p>

<p>“Gimana? Enak &#39;kan, Pa??”</p>

<p>“Iya, Enak. Kamu pinter banget, terima kasih ya!” Osamu mengusap pucuk kepala Nao dengan senyum lima jari.</p>

<p>“Tugas kamu udah selesai semua? Ada yang susah?” lanjut Osamu bertanya.</p>

<p>“Sudah!”</p>

<p>“Astaga, Nao pinter banget. Papa mandi dulu, ya. Ini udah malem, kamu tidur, ok?”</p>

<p>“Papa, Nao boleh minta temani tidur? Kalau Papa capek ga usah, ga papa kok.” hati Osamu terasa tertusuk-tusuk mendengar permintaan kecil anaknya. Bahkan di saat ia <em>kurang</em> perhatian, ia masih pengertian dengannya.</p>

<p>“Iya, Papa temani. Tapi Papa mandi dulu, ya?” ucap Osamu sambil mengusap pucuk kepala putranya. Nao pun mengangguk setuju.</p>

<p>Lekas Osamu mandi dengan kilat. Setelahnya ia menghampiri Nao yang tengah membaca komik favoritnya di atas kasur.</p>

<p>Lalu ia mengusap-usap kepala Nao yang bersiap untuk meluncur ke alam mimpi. Nao memejamkan mata menghadap sang Papa yang terus mengusap-usapnya. Perlu waktu kurang dari lima menit hingga Osamu melihat napas konstan dari tubuh putranya. Nao sudah terlelap.</p>

<p>“Malam, Miya Naoki jagoan Papa.” Osamu mengecup puncak kepala putranya penuh kasih, kemudian ia berlalu.</p>

<p>Di balkon belakang <em>apartment</em> Osamu berada saat ini. Bibirnya menyesap gulungan tembakau dengan api di ujungnya. Perlahan ia mengembuskan asap putih. Setiap embusan seolah melepaskan penatnya.</p>

<p>Dalam hati ia bermonolog. Ia sangat setuju bahwa ia adalah ayah yang buruk. Ia merasa tak pantas mendapatkan Nao sebagai putranya. Hatinya mencelos sakit terpikir bagaimana beratnya menjadi Nao yang hidup tanpa kasih ibu dan sosok ayah yang selalu ada di sampingnya. Pasti sangat berat menjadi Miya Naoki.</p>

<p>Hatinya benar-benar sakit. Badannya pun lelah. Ia selalu dan berusaha tegar. Namun ia tak bisa menitikan air mata. Ia lupa cara menangis. Terakhir kali ia menangis adalah saat Nao putra semata wayangnya lahir ke dunia.</p>

<p><em>Aku sungguh ayah yang buruk.</em></p>

<p>Osamu terus menghabiskan gulungan tembakaunya dalam diam. Dalam diam pula ia bersumpah kalau hidup dan matinya hanyalah untuk Nao. Ia ingin Naoki kecil-nya bahagia.</p>

<p>***</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/no-jnyc</guid>
      <pubDate>Tue, 20 Jul 2021 17:50:23 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>No. 1 Dad(s); </title>
      <link>https://sephla.writeas.com/no?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bagian 1: Terpana&#xA;&#xA;  cw // food , manga references , ooc  !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Suna menaruh ponsel pintarnya ke saku baggy pants hitam yang ia kenakan. Setelah itu ia melangkah masuk menuju meja pemesanan.&#xA;&#xA;Ya, si middle blocker telah tiba di tujuan—Onigiri Miya—dan ia terheran dengan keramaian yang ada. Ia memang sudah diwanti bahwa resto tersebut selalu ramai namun ia tetap saja heran. Ia semakin penasaran senikmat apa makanan yang disuguhkan di tempat ini.&#xA;&#xA;Suna pun mengantre untuk memesan. Satu persatu langkah ia semakin maju menuju meja pemesanan. Voila, sekarang tibalah giliran Suna. Ia sekarang berada di meja pemesanan, berhadapan langsung dengan sang penjaga.&#xA;&#xA;&#34;Selamat malam! Ada yang bisa saya bantu?&#34; ucap lelaki di meja pemesanan sambil memberikan senyum ramah.&#xA;&#xA;&#34;Uh.. Anu.. Maksudku.. Apa yang paling laku di sini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Negitoro akhir-akhir ini banyak dipesan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya, aku mau itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, silakan tunggu di meja Anda.&#34; si penjaga dengan surai legam pun memberikan nomor meja. 11, itu nomor mejanya.&#xA;&#xA;Setelah melakukan pembayaran, Suna lekas mencari tempat yang kosong untuk ia makan. Setelah dapat ia pun mendudukan diri dan meletakan nomor mejanya.&#xA;&#xA;Kurang lebih lima menit berlalu hingga negitoro pesanannya sampai meja. Lekas ia menikmati semangkuk negitoro yang telah dipesan. Samar-samar kepulan uap dari nasi menghiasi mangkuk. Gigitan pertama bagaikan ledakan rasa yang memukau. Sangat nikmat, lidah Suna jatuh cinta dibuatnya. Dari rasa turun ke hati, begitu kata orang. Pada gigitan pertama itu juga ia dibawa pulang ke rumah. Lidahnya langsung mengasosiasikan pada masakan sang ibunda. Ia langsung bernostalgia dalam bahagia.&#xA;&#xA;Sembari mengunyah makanan kedua matanya asik mengamati sekeliling. Interior sederhana yang membuatnya merasakan rumah—nyaman, sederhana, dan selalu membuatmu kembali. Tak heran mengapa tempat ini ramai dan membuat orang betah berlama-lama.&#xA;&#xA;Waktu terus berlalu, semangkuk negitoro telah ludes masuk ke pencernaan sang atlet, namun ia enggan beranjak. Ia sedang asik mencuri pandang sosok di balik meja pemesanan.&#xA;&#xA;Ajang curi pandang berubah menjadi pengamatan intens. Ia mengamati dari atas sampai bawah sosok di balik meja pemesanan. Topi hitam yang menghiasi kepalanya dengan surai hitam di bawahnya. Kemudian, turun ke bawah, mengamati alis tebal di atas dua netranya. Wajah porselen yang kokoh dan manis. Senyum manis lelaki itu pun tak luput dari pengamatan Suna.&#xA;&#xA;Pukul delapan lebih seperempat, Onigiri Miya sudah mulai lenggang. Tak lama kemudian, Rintarō beranjak dan berjalan menuju sosok yang diamati tadi. Kakinya berhenti melangkah ketika ia berada di depan sosok tersebut. Bersekat meja dan etalase Suna pun mengangkat suara.&#xA;&#xA;&#34;Uh, aku mau bilang, makanan di sini enak aku tidak bohong. Pelayanan di sini juga bagus.&#34; ucap Suna dengan lugas. Ucapan sang middle blocker menerbitkan senyum lebar di wajah lelaki di depannya.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih atas pujian dan masukannya! Datanglah lain kali!&#34; nada bahagia mampu terdengar dari ucapan lelaki tersebut. Deretan gigi masih terpampang di wajahnya saat Suna berjalan meninggalkan kedai.&#xA;&#xA;***&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h3 id="bagian-1-terpana" id="bagian-1-terpana">Bagian 1: Terpana</h3>

<blockquote><p>cw // food , manga references , ooc  </p></blockquote>

<hr/>

<p>Suna menaruh ponsel pintarnya ke saku <em>baggy pants</em> hitam yang ia kenakan. Setelah itu ia melangkah masuk menuju meja pemesanan.</p>

<p>Ya, si <em>middle blocker</em> telah tiba di tujuan—Onigiri Miya—dan ia terheran dengan keramaian yang ada. Ia memang sudah diwanti bahwa resto tersebut selalu ramai namun ia tetap saja heran. Ia semakin penasaran senikmat apa makanan yang disuguhkan di tempat ini.</p>

<p>Suna pun mengantre untuk memesan. Satu persatu langkah ia semakin maju menuju meja pemesanan. <em>Voila</em>, sekarang tibalah giliran Suna. Ia sekarang berada di meja pemesanan, berhadapan langsung dengan sang penjaga.</p>

<p>“Selamat malam! Ada yang bisa saya bantu?” ucap lelaki di meja pemesanan sambil memberikan senyum ramah.</p>

<p>“Uh.. Anu.. Maksudku.. Apa yang paling laku di sini?”</p>

<p>“Negitoro akhir-akhir ini banyak dipesan.”</p>

<p>“Ya, aku mau itu.”</p>

<p>“Baiklah, silakan tunggu di meja Anda.” si penjaga dengan surai legam pun memberikan nomor meja. 11, itu nomor mejanya.</p>

<p>Setelah melakukan pembayaran, Suna lekas mencari tempat yang kosong untuk ia makan. Setelah dapat ia pun mendudukan diri dan meletakan nomor mejanya.</p>

<p>Kurang lebih lima menit berlalu hingga negitoro pesanannya sampai meja. Lekas ia menikmati semangkuk negitoro yang telah dipesan. Samar-samar kepulan uap dari nasi menghiasi mangkuk. Gigitan pertama bagaikan ledakan rasa yang memukau. Sangat nikmat, lidah Suna jatuh cinta dibuatnya. <em>Dari rasa turun ke hati</em>, begitu kata orang. Pada gigitan pertama itu juga ia dibawa <em>pulang</em> ke rumah. Lidahnya langsung mengasosiasikan pada masakan sang ibunda. Ia langsung bernostalgia dalam bahagia.</p>

<p>Sembari mengunyah makanan kedua matanya asik mengamati sekeliling. Interior sederhana yang membuatnya merasakan rumah—nyaman, sederhana, dan selalu membuatmu kembali. Tak heran mengapa tempat ini ramai dan membuat orang betah berlama-lama.</p>

<p>Waktu terus berlalu, semangkuk negitoro telah ludes masuk ke pencernaan sang atlet, namun ia enggan beranjak. Ia sedang asik mencuri pandang sosok di balik meja pemesanan.</p>

<p>Ajang curi pandang berubah menjadi pengamatan intens. Ia mengamati dari atas sampai bawah sosok di balik meja pemesanan. Topi hitam yang menghiasi kepalanya dengan surai hitam di bawahnya. Kemudian, turun ke bawah, mengamati alis tebal di atas dua netranya. Wajah porselen yang kokoh dan manis. Senyum manis lelaki itu pun tak luput dari pengamatan Suna.</p>

<p>Pukul delapan lebih seperempat, Onigiri Miya sudah mulai lenggang. Tak lama kemudian, Rintarō beranjak dan berjalan menuju sosok yang diamati tadi. Kakinya berhenti melangkah ketika ia berada di depan sosok tersebut. Bersekat meja dan etalase Suna pun mengangkat suara.</p>

<p>“Uh, aku mau bilang, makanan di sini enak aku tidak bohong. Pelayanan di sini juga bagus.” ucap Suna dengan lugas. Ucapan sang <em>middle blocker</em> menerbitkan senyum lebar di wajah lelaki di depannya.</p>

<p>“Terima kasih atas pujian dan masukannya! Datanglah lain kali!” nada bahagia mampu terdengar dari ucapan lelaki tersebut. Deretan gigi masih terpampang di wajahnya saat Suna berjalan meninggalkan kedai.</p>

<p>***</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/no</guid>
      <pubDate>Tue, 20 Jul 2021 16:08:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sekali Lagi </title>
      <link>https://sephla.writeas.com/sekali-lagi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ketika malam telah tiba&#xA;Aku menyadari kau takkan kembali&#xA;-Di Ujung Jalan !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Fajar perlahan menyingsing. Mentari bangun dari cakrawala untuk bertahta di langit. Sinarnya menyelimuti bumi, hingga seberkas cahaya menembus tirai. Dua kelopak yang membungkus elok manik coklat sewarna mahoni perlahan terbuka. Perlahan pula ia mengumpulkan nyawa yang tercecer saat terlelap.&#xA;&#xA;Begitu kesadarannya terkumpul, sebuah senyum terulas di bibirnya. Dalam hati ia mengucap syukur, terbangun dengan disambut pahatan indah dari Sang Pencipta. Sosok pemuda manis dengan surai dwiwarna—hitam dan perak—yang masih tertidur dengan lelap. Bibirnya sedikit menganga membuatnya terkesan lucu. Miya Atsumu bangun dengan euforia yang membuncah di dadanya. Hatinya menghangat memandang Kita Shinsuke.&#xA;&#xA;Tangannya perlahan meraih surai pemuda itu. Diusapnya perlahan dengan penuh afeksi dan devosi di setiap sentuhan. Detik kemudian pikirannya berkelana memutar memori semalam.&#xA;&#xA;Ia ingat betul mereka berdansa pada pesta pernikahan Miya Osamu dan Suna Rintarō. Mereka berdua bukanlah raja dansa bagai flamboyan, tapi dengan riang mereka menggerakan tubuh mengikuti alunan musik. Dua insan ini larut dalam euforia semalam suntuk. Semalam suntuk pula alkohol membasahi kerongkongan mereka.&#xA;&#xA;Alkohol yang tak henti ditenggak membuat keduanya mabuk. Kesadaran mereka sangat awang. Dengan tergesa dan terhuyung keduanya menuju kamar pada venue. Mereka gunakan kesadaran yang minim untuk bercinta. Hal itu mencetak memori liar di kepala pirang Miya Atsumu.&#xA;&#xA;Atsumu terkekeh mengingatnya--bagaimana kekasihnya yang selalu tertata, menjadi kacau dengan toleransi alkohol yang rendah. Bagaimana ia meracau dengan kalimat frontal yang tak senonoh. Bagaimana ia merengek tidak mau berhenti saat di atas ranjang, hingga ia terlelap.&#xA;&#xA;Kehidupan mereka memang manis, namun tak lantas mulus saja. Atsumu kerap kali pulang larut. Acap kali dirinya lupa untuk memberi tahu kekasihnya apa yang membuatnya tak pulang atau apa yang sedang ia kerjakan, dan lainnya. Atsumu sejatinya sangat buruk dalam komunikasi dan ini adalah hal yang dibenci Shinsuke, sangat. Atsumu lebih memilih untuk mengerjakannya daripada mengatakannya. Namun ide tersebut sejatinya salah kaprah. Apapun yang terjadi, Shinsuke ingin semua diluruskan dan diterangkan dengan komunikasi.&#xA;&#xA;Semua yang tak tuntas akan menjadi bom waktu yang akan meledak kapanpun. Suatu malam saat jarum jam tepat sejajar di angka dua belas, sosok bersurai pirang muncul dari balik daun pintu. Ia nampak kacau dengan pakaian lusuh dan aroma alkohol serta nikotin menguar mulutnya. Shinsuke yang sedari tadi menunggu di ruang tamu benar-benar naik pitam. Langsung diambil alih olehnya kunci mobil di tangan Atsumu.&#xA;&#xA;Shinsuke mengendarai mobil dengan terburu. Kepalanya yang biasanya penuh logika dingin kini berkabut oleh amarah. Lambat-laun, pikirannya memudar dan kosong. Ia terus memijak pedal gas yang membawa kendaraan beroda empatnya ini terus melaju melintasi rel kereta. Seakan seluruh inderanya tak berfungsi, ia tak sadar bahwa sebuah kereta tengah melaju. Jaraknya hanya terpaut lima meter. Shinsuke tak dapat menghindar.&#xA;&#xA;Atsumu terlambat untuk menyesal. Setiap hari ia selalu berharap kekasihnya akan datang kembali. Ia berharap dapat merengkuh tubuh Shinsuke dalam peluk untuk sekali lagi. Ia selalu menunggu Shinsuke kembali dengan duduk di sofa ruang tamu. Dalam doa disebutnya selalu nama Kita Shinsuke untuk kembali seperti semula sekali lagi. Selalu, hingga rembulan bertahta di langit dan malam menyelimuti bumi dengan tabah, ia tersadar bahwa kekasihnya tak akan kembali.&#xA;&#xA;-Selesai***&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@rosette_nebulae (16/07/2021)&#xA;&#xA;##### #JULY500&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Ketika malam telah tiba</em>
<em>Aku menyadari kau takkan kembali</em>
<strong><em>-Di Ujung Jalan</em></strong> </p>

<hr/>

<p>Fajar perlahan menyingsing. Mentari bangun dari cakrawala untuk bertahta di langit. Sinarnya menyelimuti bumi, hingga seberkas cahaya menembus tirai. Dua kelopak yang membungkus elok manik coklat sewarna mahoni perlahan terbuka. Perlahan pula ia mengumpulkan nyawa yang tercecer saat terlelap.</p>

<p>Begitu kesadarannya terkumpul, sebuah senyum terulas di bibirnya. Dalam hati ia mengucap syukur, terbangun dengan disambut pahatan indah dari Sang Pencipta. Sosok pemuda manis dengan surai dwiwarna—hitam dan perak—yang masih tertidur dengan lelap. Bibirnya sedikit menganga membuatnya terkesan lucu. Miya Atsumu bangun dengan euforia yang membuncah di dadanya. Hatinya menghangat memandang Kita Shinsuke.</p>

<p>Tangannya perlahan meraih surai pemuda itu. Diusapnya perlahan dengan penuh afeksi dan devosi di setiap sentuhan. Detik kemudian pikirannya berkelana memutar memori semalam.</p>

<p>Ia ingat betul mereka berdansa pada pesta pernikahan Miya Osamu dan Suna Rintarō. Mereka berdua bukanlah raja dansa bagai flamboyan, tapi dengan riang mereka menggerakan tubuh mengikuti alunan musik. Dua insan ini larut dalam euforia semalam suntuk. Semalam suntuk pula alkohol membasahi kerongkongan mereka.</p>

<p>Alkohol yang tak henti ditenggak membuat keduanya mabuk. Kesadaran mereka sangat awang. Dengan tergesa dan terhuyung keduanya menuju kamar pada <em>venue</em>. Mereka gunakan kesadaran yang minim untuk bercinta. Hal itu mencetak memori liar di kepala pirang Miya Atsumu.</p>

<p>Atsumu terkekeh mengingatnya—bagaimana kekasihnya yang selalu tertata, menjadi kacau dengan toleransi alkohol yang rendah. Bagaimana ia meracau dengan kalimat frontal yang tak senonoh. Bagaimana ia merengek <em>tidak mau berhenti</em> saat di atas ranjang, hingga ia terlelap.</p>

<p>***</p>

<p>Kehidupan mereka memang manis, namun tak lantas mulus saja. Atsumu kerap kali pulang larut. Acap kali dirinya lupa untuk memberi tahu kekasihnya apa yang membuatnya tak pulang atau apa yang sedang ia kerjakan, dan lainnya. Atsumu sejatinya sangat buruk dalam komunikasi dan ini adalah hal yang dibenci Shinsuke, sangat. Atsumu lebih memilih untuk mengerjakannya daripada mengatakannya. Namun ide tersebut sejatinya salah kaprah. Apapun yang terjadi, Shinsuke ingin semua diluruskan dan diterangkan dengan komunikasi.</p>

<p>***</p>

<p>Semua yang tak tuntas akan menjadi bom waktu yang akan meledak kapanpun. Suatu malam saat jarum jam tepat sejajar di angka dua belas, sosok bersurai pirang muncul dari balik daun pintu. Ia nampak kacau dengan pakaian lusuh dan aroma alkohol serta nikotin menguar mulutnya. Shinsuke yang sedari tadi menunggu di ruang tamu benar-benar naik pitam. Langsung diambil alih olehnya kunci mobil di tangan Atsumu.</p>

<p>Shinsuke mengendarai mobil dengan terburu. Kepalanya yang biasanya penuh logika dingin kini berkabut oleh amarah. Lambat-laun, pikirannya memudar dan kosong. Ia terus memijak pedal gas yang membawa kendaraan beroda empatnya ini terus melaju melintasi rel kereta. Seakan seluruh inderanya tak berfungsi, ia tak sadar bahwa sebuah kereta tengah melaju. Jaraknya hanya terpaut lima meter. Shinsuke tak dapat menghindar.</p>

<p>***</p>

<p>Atsumu terlambat untuk menyesal. Setiap hari ia selalu berharap kekasihnya akan datang kembali. Ia berharap dapat merengkuh tubuh Shinsuke dalam peluk untuk sekali lagi. Ia selalu menunggu Shinsuke kembali dengan duduk di sofa ruang tamu. Dalam doa disebutnya selalu nama Kita Shinsuke untuk kembali seperti semula sekali lagi. Selalu, hingga rembulan bertahta di langit dan malam menyelimuti bumi dengan tabah, ia tersadar bahwa kekasihnya tak akan kembali.</p>

<p><strong><em>-Selesai</em></strong></p>

<hr/>

<h5 id="rosette-nebulae-16-07-2021" id="rosette-nebulae-16-07-2021">@rosette_nebulae (16/07/2021)</h5>

<h5 id="july500" id="july500"><a href="https://sephla.writeas.com/tag:JULY500" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">JULY500</span></a></h5>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/sekali-lagi</guid>
      <pubDate>Fri, 16 Jul 2021 15:12:57 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Riwayatmu Dulu</title>
      <link>https://sephla.writeas.com/riwayatmu-dulu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bengawan dan sepeda onthel jadi saksi bisu dua sejoli bermesra ria.&#xA;!--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Tahun empat puluh di mana suasana manis tumpah ruah. Dua insan muda keladi tengah dimabuk asmara. Apa yang dilakukan terasa manis. Selalu berdua seperti tak ada hari esok. Selalu sepasang, seolah dunia hanya milik berdua.&#xA;&#xA;Sepasang insan adam tengah berada di pucuk cinta. Pemuda surai pirang—Atsumu—dimabuk pesona pemuda surai monokrom. Sebaliknya, si surai monokrom—Shinsuke—jatuh hati pada pemuda pirang dengan tingkah jenakanya.&#xA;&#xA;Ketika sore tiba keduanya akan keluar rumah menghabiskan waktu berdua dengan cinta bermekaran. Senyum malu, tersipu, dan adu rayu mewarnai. Di atas sepeda onthel lah dua insan ini menikmati euforia menjadi pasangan bujang. Oh, cinta mereka mengalir bagai bengawan.&#xA;&#xA;Di tempat di mana cinta keduanya merekah terdapat sebuah bengawan—sungai besar—yang memisahkan dua desa. Di tengahnya biasa lalu lalang perahu pedagang dan perahu penyeberangan antar desa.&#xA;&#xA;Suatu hari si bujang berambut pirang mengayuh sepeda onthel kesayangannya menuju rumah di dekat sawah, barat desa. Sambil mengayuh ia bersenandung ria karena akan menjemput sang kekasih hati. Sesampainya di depan beranda disambutlah ia oleh sosok manis lengkap dengan ulasan senyum kecil.&#xA;&#xA;Segera ia turun dari sepeda dan menuntunnya &#34;Ah, manis sekali.. Pasti sangatlah melelahkan menjadi sempurna sepertimu. Maka, naiklah dan lelahmu akan sirna. Aku akan membawamu pergi sampai bulan, Tuan!&#34;&#xA;&#xA;Shinsuke pun tertawa lepas mendengar kelakar Atsumu. Niat hati ingin merayu bagai pujangga dalan novel roman,  ia malah ditertawakan oleh sang kekasih.&#xA;&#xA;Detik kemudian Shinsuke melakukan seperti yang diminta Atsumu. Ia naik di sadel belakang, lalu langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang si bujang pirang.&#xA;&#xA;&#34;Sudah siap meluncur, Tuan manis?&#34; tanya Atsumu pada yang membonceng. Lagi-lagi Shinsuke menimpali dengan tawa lepas, namun kali ini diberikannya juga cubitan pada pinggang Atsumu. Sosok yang dicubit mengaduh dan terkekeh. Lekas kemudian si pirang mengayuh melajukan sepeda onthel.&#xA;&#xA;Dua bujang yang sedang kasmaran ini menikmati sore dengan syahdu. Sengaja Atsumu membawa Shinsuke ke tengah kampung. Ini merupakan pengumuman tersirat bahwa ia—Miya Atsumu, anak kepala desa setempat—berhasil merebut hati Kita Shinsuke yang merupakan primadona dan idaman seluruh warga kampung.&#xA;&#xA;Setelah berkeliling kampung, keduanya melaju sedikit menjauh dan menuju ke bengawan di timur. Di sana mereka hendak menghabiskan waktu di bantaran sungai. Namun sebelum itu, mereka menyempatkan diri untuk membeli jajan pasar.&#xA;&#xA;Sesampainya di bantaran sungai turunlah keduanya dari si onthel. Kemudian digelarlah piknik kecil dengan jajan pasar sebagai kudapan dan rumput liar yang tumbuh sebagai karpet. Mulailah kencan berkedok piknik.&#xA;&#xA;Dua bujang sungguh mesra. Yang pirang dengan manja meletakkan kepala di paha kekasihnya. Yang satunya, menyuapi penuh afeksi. Usapan lembut pada surai pirang Atsumu pun tak luput diberikan oleh Shinsuke. Jangan lupa adu rayu dilontarkan tiada henti oleh keduanya.&#xA;&#xA;&#34;Tuan manis, juwita hati, ada pasar malam di desa sebrang. Ayo, ke sana, biar kita bisa beli gula kapas yang manis, semanis senyummu.&#34; rayu Atsumu pada Shinsuke. Sosok yang dirayu pun protes lelah tertawa karena kelakar Atsumu.&#xA;&#xA;&#34;Aku kan merayu, malah kamu tertawa. Harusnya tersipu malu. Nah, itu pas ada perahu ke sini!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kakek udah berapa kali cerita itu?&#34; Laki-laki di usia senjanya itu tertawa lepas mendengar cucunya protes. Shinsuke yang tak lagi muda menggelengkan kepala mendengarnya.&#xA;&#xA;-Tamat***&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@rosette_nebulae (16/07/2021)&#xA;##### #JULY500&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Bengawan dan sepeda onthel jadi saksi bisu dua sejoli bermesra ria.</em>
</p>

<hr/>

<p>Tahun empat puluh di mana suasana manis tumpah ruah. Dua insan muda keladi tengah dimabuk asmara. Apa yang dilakukan terasa manis. Selalu berdua seperti tak ada hari esok. Selalu sepasang, seolah dunia hanya milik berdua.</p>

<p>Sepasang insan adam tengah berada di pucuk cinta. Pemuda surai pirang—Atsumu—dimabuk pesona pemuda surai monokrom. Sebaliknya, si surai monokrom—Shinsuke—jatuh hati pada pemuda pirang dengan tingkah jenakanya.</p>

<p>Ketika sore tiba keduanya akan keluar rumah menghabiskan waktu berdua dengan cinta bermekaran. Senyum malu, tersipu, dan adu rayu mewarnai. Di atas sepeda onthel lah dua insan ini menikmati euforia menjadi pasangan bujang. Oh, cinta mereka mengalir bagai bengawan.</p>

<p>Di tempat di mana cinta keduanya merekah terdapat sebuah bengawan—sungai besar—yang memisahkan dua desa. Di tengahnya biasa lalu lalang perahu pedagang dan perahu penyeberangan antar desa.</p>

<p>Suatu hari si bujang berambut pirang mengayuh sepeda onthel kesayangannya menuju rumah di dekat sawah, barat desa. Sambil mengayuh ia bersenandung ria karena akan menjemput sang kekasih hati. Sesampainya di depan beranda disambutlah ia oleh sosok manis lengkap dengan ulasan senyum kecil.</p>

<p>Segera ia turun dari sepeda dan menuntunnya “Ah, manis sekali.. Pasti sangatlah melelahkan menjadi sempurna sepertimu. Maka, naiklah dan lelahmu akan sirna. Aku akan membawamu pergi sampai bulan, Tuan!”</p>

<p>Shinsuke pun tertawa lepas mendengar kelakar Atsumu. Niat hati ingin merayu bagai pujangga dalan novel roman,  ia malah ditertawakan oleh sang kekasih.</p>

<p>Detik kemudian Shinsuke melakukan seperti yang diminta Atsumu. Ia naik di sadel belakang, lalu langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang si bujang pirang.</p>

<p>“Sudah siap meluncur, Tuan manis?” tanya Atsumu pada yang membonceng. Lagi-lagi Shinsuke menimpali dengan tawa lepas, namun kali ini diberikannya juga cubitan pada pinggang Atsumu. Sosok yang dicubit mengaduh dan terkekeh. Lekas kemudian si pirang mengayuh melajukan sepeda onthel.</p>

<p>Dua bujang yang sedang kasmaran ini menikmati sore dengan syahdu. Sengaja Atsumu membawa Shinsuke ke tengah kampung. Ini merupakan pengumuman tersirat bahwa ia—Miya Atsumu, anak kepala desa setempat—berhasil merebut hati Kita Shinsuke yang merupakan primadona dan idaman seluruh warga kampung.</p>

<p>Setelah berkeliling kampung, keduanya melaju sedikit menjauh dan menuju ke bengawan di timur. Di sana mereka hendak menghabiskan waktu di bantaran sungai. Namun sebelum itu, mereka menyempatkan diri untuk membeli jajan pasar.</p>

<p>Sesampainya di bantaran sungai turunlah keduanya dari si onthel. Kemudian digelarlah piknik kecil dengan jajan pasar sebagai kudapan dan rumput liar yang tumbuh sebagai karpet. Mulailah kencan berkedok piknik.</p>

<p>Dua bujang sungguh mesra. Yang pirang dengan manja meletakkan kepala di paha kekasihnya. Yang satunya, menyuapi penuh afeksi. Usapan lembut pada surai pirang Atsumu pun tak luput diberikan oleh Shinsuke. Jangan lupa adu rayu dilontarkan tiada henti oleh keduanya.</p>

<p>“Tuan manis, juwita hati, ada pasar malam di desa sebrang. Ayo, ke sana, biar kita bisa beli gula kapas yang manis, semanis senyummu.” rayu Atsumu pada Shinsuke. Sosok yang dirayu pun protes lelah tertawa karena kelakar Atsumu.</p>

<p>“Aku kan merayu, malah kamu tertawa. Harusnya tersipu malu. Nah, itu pas ada perahu ke sini!”</p>

<p>***</p>

<p>“Kakek udah berapa kali cerita itu?” Laki-laki di usia senjanya itu tertawa lepas mendengar cucunya protes. Shinsuke yang tak lagi muda menggelengkan kepala mendengarnya.</p>

<p><strong><em>-Tamat</em></strong></p>

<hr/>

<h5 id="rosette-nebulae-16-07-2021" id="rosette-nebulae-16-07-2021">@rosette_nebulae (16/07/2021)</h5>

<h5 id="july500" id="july500"><a href="https://sephla.writeas.com/tag:JULY500" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">JULY500</span></a></h5>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/riwayatmu-dulu</guid>
      <pubDate>Thu, 15 Jul 2021 19:15:30 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>