<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>JULY500 &amp;mdash; sephla</title>
    <link>https://sephla.writeas.com/tag:JULY500</link>
    <description>An author wannabe who loves pouring her imagination into words. </description>
    <pubDate>Sun, 14 Jun 2026 07:17:44 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Sekali Lagi </title>
      <link>https://sephla.writeas.com/sekali-lagi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ketika malam telah tiba&#xA;Aku menyadari kau takkan kembali&#xA;-Di Ujung Jalan !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Fajar perlahan menyingsing. Mentari bangun dari cakrawala untuk bertahta di langit. Sinarnya menyelimuti bumi, hingga seberkas cahaya menembus tirai. Dua kelopak yang membungkus elok manik coklat sewarna mahoni perlahan terbuka. Perlahan pula ia mengumpulkan nyawa yang tercecer saat terlelap.&#xA;&#xA;Begitu kesadarannya terkumpul, sebuah senyum terulas di bibirnya. Dalam hati ia mengucap syukur, terbangun dengan disambut pahatan indah dari Sang Pencipta. Sosok pemuda manis dengan surai dwiwarna—hitam dan perak—yang masih tertidur dengan lelap. Bibirnya sedikit menganga membuatnya terkesan lucu. Miya Atsumu bangun dengan euforia yang membuncah di dadanya. Hatinya menghangat memandang Kita Shinsuke.&#xA;&#xA;Tangannya perlahan meraih surai pemuda itu. Diusapnya perlahan dengan penuh afeksi dan devosi di setiap sentuhan. Detik kemudian pikirannya berkelana memutar memori semalam.&#xA;&#xA;Ia ingat betul mereka berdansa pada pesta pernikahan Miya Osamu dan Suna Rintarō. Mereka berdua bukanlah raja dansa bagai flamboyan, tapi dengan riang mereka menggerakan tubuh mengikuti alunan musik. Dua insan ini larut dalam euforia semalam suntuk. Semalam suntuk pula alkohol membasahi kerongkongan mereka.&#xA;&#xA;Alkohol yang tak henti ditenggak membuat keduanya mabuk. Kesadaran mereka sangat awang. Dengan tergesa dan terhuyung keduanya menuju kamar pada venue. Mereka gunakan kesadaran yang minim untuk bercinta. Hal itu mencetak memori liar di kepala pirang Miya Atsumu.&#xA;&#xA;Atsumu terkekeh mengingatnya--bagaimana kekasihnya yang selalu tertata, menjadi kacau dengan toleransi alkohol yang rendah. Bagaimana ia meracau dengan kalimat frontal yang tak senonoh. Bagaimana ia merengek tidak mau berhenti saat di atas ranjang, hingga ia terlelap.&#xA;&#xA;Kehidupan mereka memang manis, namun tak lantas mulus saja. Atsumu kerap kali pulang larut. Acap kali dirinya lupa untuk memberi tahu kekasihnya apa yang membuatnya tak pulang atau apa yang sedang ia kerjakan, dan lainnya. Atsumu sejatinya sangat buruk dalam komunikasi dan ini adalah hal yang dibenci Shinsuke, sangat. Atsumu lebih memilih untuk mengerjakannya daripada mengatakannya. Namun ide tersebut sejatinya salah kaprah. Apapun yang terjadi, Shinsuke ingin semua diluruskan dan diterangkan dengan komunikasi.&#xA;&#xA;Semua yang tak tuntas akan menjadi bom waktu yang akan meledak kapanpun. Suatu malam saat jarum jam tepat sejajar di angka dua belas, sosok bersurai pirang muncul dari balik daun pintu. Ia nampak kacau dengan pakaian lusuh dan aroma alkohol serta nikotin menguar mulutnya. Shinsuke yang sedari tadi menunggu di ruang tamu benar-benar naik pitam. Langsung diambil alih olehnya kunci mobil di tangan Atsumu.&#xA;&#xA;Shinsuke mengendarai mobil dengan terburu. Kepalanya yang biasanya penuh logika dingin kini berkabut oleh amarah. Lambat-laun, pikirannya memudar dan kosong. Ia terus memijak pedal gas yang membawa kendaraan beroda empatnya ini terus melaju melintasi rel kereta. Seakan seluruh inderanya tak berfungsi, ia tak sadar bahwa sebuah kereta tengah melaju. Jaraknya hanya terpaut lima meter. Shinsuke tak dapat menghindar.&#xA;&#xA;Atsumu terlambat untuk menyesal. Setiap hari ia selalu berharap kekasihnya akan datang kembali. Ia berharap dapat merengkuh tubuh Shinsuke dalam peluk untuk sekali lagi. Ia selalu menunggu Shinsuke kembali dengan duduk di sofa ruang tamu. Dalam doa disebutnya selalu nama Kita Shinsuke untuk kembali seperti semula sekali lagi. Selalu, hingga rembulan bertahta di langit dan malam menyelimuti bumi dengan tabah, ia tersadar bahwa kekasihnya tak akan kembali.&#xA;&#xA;-Selesai***&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@rosette_nebulae (16/07/2021)&#xA;&#xA;##### #JULY500&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Ketika malam telah tiba</em>
<em>Aku menyadari kau takkan kembali</em>
<strong><em>-Di Ujung Jalan</em></strong> </p>

<hr/>

<p>Fajar perlahan menyingsing. Mentari bangun dari cakrawala untuk bertahta di langit. Sinarnya menyelimuti bumi, hingga seberkas cahaya menembus tirai. Dua kelopak yang membungkus elok manik coklat sewarna mahoni perlahan terbuka. Perlahan pula ia mengumpulkan nyawa yang tercecer saat terlelap.</p>

<p>Begitu kesadarannya terkumpul, sebuah senyum terulas di bibirnya. Dalam hati ia mengucap syukur, terbangun dengan disambut pahatan indah dari Sang Pencipta. Sosok pemuda manis dengan surai dwiwarna—hitam dan perak—yang masih tertidur dengan lelap. Bibirnya sedikit menganga membuatnya terkesan lucu. Miya Atsumu bangun dengan euforia yang membuncah di dadanya. Hatinya menghangat memandang Kita Shinsuke.</p>

<p>Tangannya perlahan meraih surai pemuda itu. Diusapnya perlahan dengan penuh afeksi dan devosi di setiap sentuhan. Detik kemudian pikirannya berkelana memutar memori semalam.</p>

<p>Ia ingat betul mereka berdansa pada pesta pernikahan Miya Osamu dan Suna Rintarō. Mereka berdua bukanlah raja dansa bagai flamboyan, tapi dengan riang mereka menggerakan tubuh mengikuti alunan musik. Dua insan ini larut dalam euforia semalam suntuk. Semalam suntuk pula alkohol membasahi kerongkongan mereka.</p>

<p>Alkohol yang tak henti ditenggak membuat keduanya mabuk. Kesadaran mereka sangat awang. Dengan tergesa dan terhuyung keduanya menuju kamar pada <em>venue</em>. Mereka gunakan kesadaran yang minim untuk bercinta. Hal itu mencetak memori liar di kepala pirang Miya Atsumu.</p>

<p>Atsumu terkekeh mengingatnya—bagaimana kekasihnya yang selalu tertata, menjadi kacau dengan toleransi alkohol yang rendah. Bagaimana ia meracau dengan kalimat frontal yang tak senonoh. Bagaimana ia merengek <em>tidak mau berhenti</em> saat di atas ranjang, hingga ia terlelap.</p>

<p>***</p>

<p>Kehidupan mereka memang manis, namun tak lantas mulus saja. Atsumu kerap kali pulang larut. Acap kali dirinya lupa untuk memberi tahu kekasihnya apa yang membuatnya tak pulang atau apa yang sedang ia kerjakan, dan lainnya. Atsumu sejatinya sangat buruk dalam komunikasi dan ini adalah hal yang dibenci Shinsuke, sangat. Atsumu lebih memilih untuk mengerjakannya daripada mengatakannya. Namun ide tersebut sejatinya salah kaprah. Apapun yang terjadi, Shinsuke ingin semua diluruskan dan diterangkan dengan komunikasi.</p>

<p>***</p>

<p>Semua yang tak tuntas akan menjadi bom waktu yang akan meledak kapanpun. Suatu malam saat jarum jam tepat sejajar di angka dua belas, sosok bersurai pirang muncul dari balik daun pintu. Ia nampak kacau dengan pakaian lusuh dan aroma alkohol serta nikotin menguar mulutnya. Shinsuke yang sedari tadi menunggu di ruang tamu benar-benar naik pitam. Langsung diambil alih olehnya kunci mobil di tangan Atsumu.</p>

<p>Shinsuke mengendarai mobil dengan terburu. Kepalanya yang biasanya penuh logika dingin kini berkabut oleh amarah. Lambat-laun, pikirannya memudar dan kosong. Ia terus memijak pedal gas yang membawa kendaraan beroda empatnya ini terus melaju melintasi rel kereta. Seakan seluruh inderanya tak berfungsi, ia tak sadar bahwa sebuah kereta tengah melaju. Jaraknya hanya terpaut lima meter. Shinsuke tak dapat menghindar.</p>

<p>***</p>

<p>Atsumu terlambat untuk menyesal. Setiap hari ia selalu berharap kekasihnya akan datang kembali. Ia berharap dapat merengkuh tubuh Shinsuke dalam peluk untuk sekali lagi. Ia selalu menunggu Shinsuke kembali dengan duduk di sofa ruang tamu. Dalam doa disebutnya selalu nama Kita Shinsuke untuk kembali seperti semula sekali lagi. Selalu, hingga rembulan bertahta di langit dan malam menyelimuti bumi dengan tabah, ia tersadar bahwa kekasihnya tak akan kembali.</p>

<p><strong><em>-Selesai</em></strong></p>

<hr/>

<h5 id="rosette-nebulae-16-07-2021" id="rosette-nebulae-16-07-2021">@rosette_nebulae (16/07/2021)</h5>

<h5 id="july500" id="july500"><a href="https://sephla.writeas.com/tag:JULY500" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">JULY500</span></a></h5>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/sekali-lagi</guid>
      <pubDate>Fri, 16 Jul 2021 15:12:57 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Riwayatmu Dulu</title>
      <link>https://sephla.writeas.com/riwayatmu-dulu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bengawan dan sepeda onthel jadi saksi bisu dua sejoli bermesra ria.&#xA;!--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Tahun empat puluh di mana suasana manis tumpah ruah. Dua insan muda keladi tengah dimabuk asmara. Apa yang dilakukan terasa manis. Selalu berdua seperti tak ada hari esok. Selalu sepasang, seolah dunia hanya milik berdua.&#xA;&#xA;Sepasang insan adam tengah berada di pucuk cinta. Pemuda surai pirang—Atsumu—dimabuk pesona pemuda surai monokrom. Sebaliknya, si surai monokrom—Shinsuke—jatuh hati pada pemuda pirang dengan tingkah jenakanya.&#xA;&#xA;Ketika sore tiba keduanya akan keluar rumah menghabiskan waktu berdua dengan cinta bermekaran. Senyum malu, tersipu, dan adu rayu mewarnai. Di atas sepeda onthel lah dua insan ini menikmati euforia menjadi pasangan bujang. Oh, cinta mereka mengalir bagai bengawan.&#xA;&#xA;Di tempat di mana cinta keduanya merekah terdapat sebuah bengawan—sungai besar—yang memisahkan dua desa. Di tengahnya biasa lalu lalang perahu pedagang dan perahu penyeberangan antar desa.&#xA;&#xA;Suatu hari si bujang berambut pirang mengayuh sepeda onthel kesayangannya menuju rumah di dekat sawah, barat desa. Sambil mengayuh ia bersenandung ria karena akan menjemput sang kekasih hati. Sesampainya di depan beranda disambutlah ia oleh sosok manis lengkap dengan ulasan senyum kecil.&#xA;&#xA;Segera ia turun dari sepeda dan menuntunnya &#34;Ah, manis sekali.. Pasti sangatlah melelahkan menjadi sempurna sepertimu. Maka, naiklah dan lelahmu akan sirna. Aku akan membawamu pergi sampai bulan, Tuan!&#34;&#xA;&#xA;Shinsuke pun tertawa lepas mendengar kelakar Atsumu. Niat hati ingin merayu bagai pujangga dalan novel roman,  ia malah ditertawakan oleh sang kekasih.&#xA;&#xA;Detik kemudian Shinsuke melakukan seperti yang diminta Atsumu. Ia naik di sadel belakang, lalu langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang si bujang pirang.&#xA;&#xA;&#34;Sudah siap meluncur, Tuan manis?&#34; tanya Atsumu pada yang membonceng. Lagi-lagi Shinsuke menimpali dengan tawa lepas, namun kali ini diberikannya juga cubitan pada pinggang Atsumu. Sosok yang dicubit mengaduh dan terkekeh. Lekas kemudian si pirang mengayuh melajukan sepeda onthel.&#xA;&#xA;Dua bujang yang sedang kasmaran ini menikmati sore dengan syahdu. Sengaja Atsumu membawa Shinsuke ke tengah kampung. Ini merupakan pengumuman tersirat bahwa ia—Miya Atsumu, anak kepala desa setempat—berhasil merebut hati Kita Shinsuke yang merupakan primadona dan idaman seluruh warga kampung.&#xA;&#xA;Setelah berkeliling kampung, keduanya melaju sedikit menjauh dan menuju ke bengawan di timur. Di sana mereka hendak menghabiskan waktu di bantaran sungai. Namun sebelum itu, mereka menyempatkan diri untuk membeli jajan pasar.&#xA;&#xA;Sesampainya di bantaran sungai turunlah keduanya dari si onthel. Kemudian digelarlah piknik kecil dengan jajan pasar sebagai kudapan dan rumput liar yang tumbuh sebagai karpet. Mulailah kencan berkedok piknik.&#xA;&#xA;Dua bujang sungguh mesra. Yang pirang dengan manja meletakkan kepala di paha kekasihnya. Yang satunya, menyuapi penuh afeksi. Usapan lembut pada surai pirang Atsumu pun tak luput diberikan oleh Shinsuke. Jangan lupa adu rayu dilontarkan tiada henti oleh keduanya.&#xA;&#xA;&#34;Tuan manis, juwita hati, ada pasar malam di desa sebrang. Ayo, ke sana, biar kita bisa beli gula kapas yang manis, semanis senyummu.&#34; rayu Atsumu pada Shinsuke. Sosok yang dirayu pun protes lelah tertawa karena kelakar Atsumu.&#xA;&#xA;&#34;Aku kan merayu, malah kamu tertawa. Harusnya tersipu malu. Nah, itu pas ada perahu ke sini!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kakek udah berapa kali cerita itu?&#34; Laki-laki di usia senjanya itu tertawa lepas mendengar cucunya protes. Shinsuke yang tak lagi muda menggelengkan kepala mendengarnya.&#xA;&#xA;-Tamat***&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@rosette_nebulae (16/07/2021)&#xA;##### #JULY500&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Bengawan dan sepeda onthel jadi saksi bisu dua sejoli bermesra ria.</em>
</p>

<hr/>

<p>Tahun empat puluh di mana suasana manis tumpah ruah. Dua insan muda keladi tengah dimabuk asmara. Apa yang dilakukan terasa manis. Selalu berdua seperti tak ada hari esok. Selalu sepasang, seolah dunia hanya milik berdua.</p>

<p>Sepasang insan adam tengah berada di pucuk cinta. Pemuda surai pirang—Atsumu—dimabuk pesona pemuda surai monokrom. Sebaliknya, si surai monokrom—Shinsuke—jatuh hati pada pemuda pirang dengan tingkah jenakanya.</p>

<p>Ketika sore tiba keduanya akan keluar rumah menghabiskan waktu berdua dengan cinta bermekaran. Senyum malu, tersipu, dan adu rayu mewarnai. Di atas sepeda onthel lah dua insan ini menikmati euforia menjadi pasangan bujang. Oh, cinta mereka mengalir bagai bengawan.</p>

<p>Di tempat di mana cinta keduanya merekah terdapat sebuah bengawan—sungai besar—yang memisahkan dua desa. Di tengahnya biasa lalu lalang perahu pedagang dan perahu penyeberangan antar desa.</p>

<p>Suatu hari si bujang berambut pirang mengayuh sepeda onthel kesayangannya menuju rumah di dekat sawah, barat desa. Sambil mengayuh ia bersenandung ria karena akan menjemput sang kekasih hati. Sesampainya di depan beranda disambutlah ia oleh sosok manis lengkap dengan ulasan senyum kecil.</p>

<p>Segera ia turun dari sepeda dan menuntunnya “Ah, manis sekali.. Pasti sangatlah melelahkan menjadi sempurna sepertimu. Maka, naiklah dan lelahmu akan sirna. Aku akan membawamu pergi sampai bulan, Tuan!”</p>

<p>Shinsuke pun tertawa lepas mendengar kelakar Atsumu. Niat hati ingin merayu bagai pujangga dalan novel roman,  ia malah ditertawakan oleh sang kekasih.</p>

<p>Detik kemudian Shinsuke melakukan seperti yang diminta Atsumu. Ia naik di sadel belakang, lalu langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang si bujang pirang.</p>

<p>“Sudah siap meluncur, Tuan manis?” tanya Atsumu pada yang membonceng. Lagi-lagi Shinsuke menimpali dengan tawa lepas, namun kali ini diberikannya juga cubitan pada pinggang Atsumu. Sosok yang dicubit mengaduh dan terkekeh. Lekas kemudian si pirang mengayuh melajukan sepeda onthel.</p>

<p>Dua bujang yang sedang kasmaran ini menikmati sore dengan syahdu. Sengaja Atsumu membawa Shinsuke ke tengah kampung. Ini merupakan pengumuman tersirat bahwa ia—Miya Atsumu, anak kepala desa setempat—berhasil merebut hati Kita Shinsuke yang merupakan primadona dan idaman seluruh warga kampung.</p>

<p>Setelah berkeliling kampung, keduanya melaju sedikit menjauh dan menuju ke bengawan di timur. Di sana mereka hendak menghabiskan waktu di bantaran sungai. Namun sebelum itu, mereka menyempatkan diri untuk membeli jajan pasar.</p>

<p>Sesampainya di bantaran sungai turunlah keduanya dari si onthel. Kemudian digelarlah piknik kecil dengan jajan pasar sebagai kudapan dan rumput liar yang tumbuh sebagai karpet. Mulailah kencan berkedok piknik.</p>

<p>Dua bujang sungguh mesra. Yang pirang dengan manja meletakkan kepala di paha kekasihnya. Yang satunya, menyuapi penuh afeksi. Usapan lembut pada surai pirang Atsumu pun tak luput diberikan oleh Shinsuke. Jangan lupa adu rayu dilontarkan tiada henti oleh keduanya.</p>

<p>“Tuan manis, juwita hati, ada pasar malam di desa sebrang. Ayo, ke sana, biar kita bisa beli gula kapas yang manis, semanis senyummu.” rayu Atsumu pada Shinsuke. Sosok yang dirayu pun protes lelah tertawa karena kelakar Atsumu.</p>

<p>“Aku kan merayu, malah kamu tertawa. Harusnya tersipu malu. Nah, itu pas ada perahu ke sini!”</p>

<p>***</p>

<p>“Kakek udah berapa kali cerita itu?” Laki-laki di usia senjanya itu tertawa lepas mendengar cucunya protes. Shinsuke yang tak lagi muda menggelengkan kepala mendengarnya.</p>

<p><strong><em>-Tamat</em></strong></p>

<hr/>

<h5 id="rosette-nebulae-16-07-2021" id="rosette-nebulae-16-07-2021">@rosette_nebulae (16/07/2021)</h5>

<h5 id="july500" id="july500"><a href="https://sephla.writeas.com/tag:JULY500" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">JULY500</span></a></h5>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/riwayatmu-dulu</guid>
      <pubDate>Thu, 15 Jul 2021 19:15:30 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sempurna </title>
      <link>https://sephla.writeas.com/sempurna?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sejoli utuh tak bercela; lengkap segalanya; SouRin !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Di dalam dorm, laki-laki bertubuh bersekal dan tegap dengan surai legam tengah mengangkat dan memutar bahu kanannya penuh hati-hati. Lalu perlahan ia pijat bahunya itu—bahu berbalut shoulder-brace di balik kaos hitam yang ia kenakan.&#xA;&#xA;Pintu terbuka tiba-tiba. Pelakunya adalah laki-laki dengan surai merah. &#34;Sousuke! Hehe.. Belum tidur?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Belum.&#34; jawab si empu nama &#39;Sousuke&#39;.&#xA;&#xA;Si pemuda surai merah atau yang akrab dipanggil Rin itu mengangguk. Lalu langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Ya, Sousuke dan Rin berbagi kamar dalam satu dorm.&#xA;&#xA;&#34;Sou-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Rin-&#34;&#xA;&#xA;Ucap dua insan dalam ruang bersamaan. Setelah itu hanya ada hening aneh di antara mereka.&#xA;&#xA;&#34;Kau dulu, Rin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tidak, kau dulu!&#34; timpal Rin dengan raut kesal andalannya. Sousuke yang mendengar pun mendengus geli.&#xA;&#xA;&#34;Aku akan melakukan operasi minggu depan. Aku akan ke Tokyo untuk operasi bahu kananku.&#34; ucap Sousuke dengan nada serius. Rin terdiam kaget mendengarnya.&#xA;&#xA;&#34;Bahu kananmu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf, Rin. Aku menyembunyikannya sejak SMP. Sebenarnya, aku pindah ke Samezuka karena nekat, ingin berenang denganmu lagi. Aku sebenarnya sedang menjalani rehabilitasi penyembuhan cedera bahu. Dan juga aku tidak disarankan untuk berenang. Dokter bilang ada kemungkinan bahwa cederaku akan menjadi permanen, terlebih bila aku berenang lagi,&#34; jeda Sousuke. Rin masih konstan dengan wajah terkejut.&#xA;&#xA;“Tapi itu lebih baik di saat aku bisa menghabiskan masa berenangku bersamamu di Samezuka. Ya, di sini lah aku sekarang. Terima kasih Rin, kau mau menemaniku. Aku senang melihatmu berkembang semakin baik sepulang dari Australia.”&#xA;&#xA;“Sial! Kau konyol sekali! Aku tak tau kalau kau sebodoh ini! Kau naif! Sekarang dengan siapa aku berenang, huh?! Kau akan meninggalkanku!?” Rin lepas kendali, ia begitu emosional. Tanpa sadar air mata membanjiri wajahnya. Sousuke pun dengan refleks menghampiri Rin dan memberikan pelukan penenang. Ia paham betul bahwa Rin sangatlah lembut hati, mudah tersentuh.&#xA;&#xA;Dalam pelukan Sousuke, diusapnya lembut terus-menerus Rin. Tak lupa Sousuke bisikan afirmasi yang menenangkan. Rin terus saja menangis tersedu-sedu, hingga keduanya terlelap satu ranjang.&#xA;&#xA;**&#xA;&#xA;Satu pekan berlalu dan hari di mana Sousuke melakukan operasi pun tiba. Rin saat ini tengah berdiam dalam dorm seorang diri. Ia tengah membaringkan diri di ranjang bawah--ranjangnya--dan memandang ranjang di atasnya--ranjang Sousuke. Dalam diam ia sedang dihantam cemas. Terpikir bagaimana bila Sousuke akan berhenti berenang dan meninggalkannya. Bila hal itu terjadi, benar-benar mimpi buruk bagi Rin. Ia mungkin tak akan utuh dan sempurna lagi seperti dulu bila itu terjadi.&#xA;&#xA;Tujuh hari berlalu semenjak Sousuke melakukan operasi di Tokyo. Kini ia kembali ke Samezuka--Iwatobi. Ketika dirinya berada di gerbang utama stasiun, nampaklah pemuda surai merah menunggunya. Tanpa pikir panjang dihampirilah ia.&#xA;&#xA;“Selamat datang, Sousuke!”&#xA;&#xA;“Ya, aku pulang. Terima kasih sudah menjemputku.”&#xA;&#xA;“Ayo cepat masuk ke mobil!”&#xA;&#xA;“Tunggu, kau tak mau mendengar kabar operasiku?”&#xA;&#xA;“Kau bisa katakan nanti di dorm!” elak Rin ia berusaha kabur dari kenyataan. Ia belum dan tidak akan pernah siap mendengar berita dari mulut Sousuke.&#xA;&#xA;“Rin, dengarkan aku. Kau harus, oke?” ucap Sousuke serius. Rin pun terpaksa diam dan berusaha kuat walau dalam dirinya takut setengah mati.&#xA;&#xA;“Operasiku berhasil. Terima kasih, Rin!” air mata yang berusaha di tahan Rin pun jatuh berceceran. Lekas ia menghambur dalam pelukan Sousuke.&#xA;&#xA;-Tamat**&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@rosette_nebulae (16/07/2021)&#xA;##### #JULY500]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Sejoli utuh tak bercela; lengkap segalanya; SouRin</em> </p>

<hr/>

<p>Di dalam dorm, laki-laki bertubuh bersekal dan tegap dengan surai legam tengah mengangkat dan memutar bahu kanannya penuh hati-hati. Lalu perlahan ia pijat bahunya itu—bahu berbalut <em>shoulder-brace</em> di balik kaos hitam yang ia kenakan.</p>

<p>Pintu terbuka tiba-tiba. Pelakunya adalah laki-laki dengan surai merah. “Sousuke! Hehe.. Belum tidur?”</p>

<p>“Belum.” jawab si empu nama &#39;Sousuke&#39;.</p>

<p>Si pemuda surai merah atau yang akrab dipanggil Rin itu mengangguk. Lalu langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Ya, Sousuke dan Rin berbagi kamar dalam satu <em>dorm.</em></p>

<p>“Sou-”</p>

<p>“Rin-”</p>

<p>Ucap dua insan dalam ruang bersamaan. Setelah itu hanya ada hening aneh di antara mereka.</p>

<p>“Kau dulu, Rin.”</p>

<p>“Tidak, kau dulu!” timpal Rin dengan raut kesal andalannya. Sousuke yang mendengar pun mendengus geli.</p>

<p>“Aku akan melakukan operasi minggu depan. Aku akan ke Tokyo untuk operasi bahu kananku.” ucap Sousuke dengan nada serius. Rin terdiam kaget mendengarnya.</p>

<p>“Bahu kananmu?”</p>

<p>“Maaf, Rin. Aku menyembunyikannya sejak SMP. Sebenarnya, aku pindah ke Samezuka karena nekat, ingin berenang denganmu lagi. Aku sebenarnya sedang menjalani rehabilitasi penyembuhan cedera bahu. Dan juga aku tidak disarankan untuk berenang. Dokter bilang ada kemungkinan bahwa cederaku akan menjadi permanen, terlebih bila aku berenang lagi,” jeda Sousuke. Rin masih konstan dengan wajah terkejut.</p>

<p>“Tapi itu lebih baik di saat aku bisa menghabiskan masa berenangku bersamamu di Samezuka. Ya, di sini lah aku sekarang. Terima kasih Rin, kau mau menemaniku. Aku senang melihatmu berkembang semakin baik sepulang dari Australia.”</p>

<p>“Sial! Kau konyol sekali! Aku tak tau kalau kau sebodoh ini! Kau naif! Sekarang dengan siapa aku berenang, huh?! Kau akan meninggalkanku!?” Rin lepas kendali, ia begitu emosional. Tanpa sadar air mata membanjiri wajahnya. Sousuke pun dengan refleks menghampiri Rin dan memberikan pelukan penenang. Ia paham betul bahwa Rin sangatlah lembut hati, mudah tersentuh.</p>

<p>Dalam pelukan Sousuke, diusapnya lembut terus-menerus Rin. Tak lupa Sousuke bisikan afirmasi yang menenangkan. Rin terus saja menangis tersedu-sedu, hingga keduanya terlelap satu ranjang.</p>

<p>***</p>

<p>Satu pekan berlalu dan hari di mana Sousuke melakukan operasi pun tiba. Rin saat ini tengah berdiam dalam <em>dorm</em> seorang diri. Ia tengah membaringkan diri di ranjang bawah—ranjangnya—dan memandang ranjang di atasnya—ranjang Sousuke. Dalam diam ia sedang dihantam cemas. Terpikir bagaimana bila Sousuke akan <em>berhenti</em> berenang dan <em>meninggalkannya</em>. Bila hal itu terjadi, benar-benar mimpi buruk bagi Rin. Ia mungkin tak akan <em>utuh</em> dan <em>sempurna</em> lagi seperti dulu bila <em>itu</em> terjadi.</p>

<p>***</p>

<p>Tujuh hari berlalu semenjak Sousuke melakukan operasi di Tokyo. Kini ia kembali ke Samezuka—Iwatobi. Ketika dirinya berada di gerbang utama stasiun, nampaklah pemuda surai merah menunggunya. Tanpa pikir panjang dihampirilah ia.</p>

<p>“Selamat datang, Sousuke!”</p>

<p>“Ya, aku pulang. Terima kasih sudah menjemputku.”</p>

<p>“Ayo cepat masuk ke mobil!”</p>

<p>“Tunggu, kau tak mau mendengar kabar operasiku?”</p>

<p>“Kau bisa katakan nanti di dorm!” elak Rin ia berusaha kabur dari kenyataan. Ia belum dan tidak akan pernah siap mendengar berita dari mulut Sousuke.</p>

<p>“Rin, dengarkan aku. Kau harus, oke?” ucap Sousuke serius. Rin pun terpaksa diam dan berusaha kuat walau dalam dirinya takut setengah mati.</p>

<p>“Operasiku berhasil. Terima kasih, Rin!” air mata yang berusaha di tahan Rin pun jatuh berceceran. Lekas ia menghambur dalam pelukan Sousuke.</p>

<p><strong>-Tamat</strong></p>

<hr/>

<h5 id="rosette-nebulae-16-07-2021" id="rosette-nebulae-16-07-2021">@rosette_nebulae (16/07/2021)</h5>

<h5 id="july500" id="july500"><a href="https://sephla.writeas.com/tag:JULY500" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">JULY500</span></a></h5>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/sempurna</guid>
      <pubDate>Thu, 15 Jul 2021 18:26:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Siapa Gerangan Tuan</title>
      <link>https://sephla.writeas.com/siapa-gerangan-tuan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Terinspirasi dari sebuah lagu: Payung Fantasi karya Ismail Marzuki; dipopulerkan oleh Bing Slamet.&#xA;!--more--&#xA;&#xA;  A/N:&#xA;Abel is &#39;human&#39; name for Mr. Netherlands (also known as Oranda). And Dirga is &#39;human&#39; name for Mr. Indonesia (also known as Indonesië). Both characters are belong to Himaruya Hidekaz-Sensei from the fandom: Hetalia. &#xA;Enjoy the ride! &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Titik-titik air jatuh ke tanah. Perlahan tapi pasti intensitasnya makin tinggi. Pria berperawakan tinggi lengkap dengan surai pirang pun berteduh di pinggir toko radio. Ia tak mau melawan nasib dan membuat garmen yang ia kenakan berakhir basah kuyup.&#xA;&#xA;Ia hanya bisa merutuki nasib dalam diam sambil memandang tetesan hujan yang jatuh dari kanopi toko. Dalam diam ia menyesal tak membawa payung dikala iklim negaranya ini cenderung lembab karena hujan sepanjang tahun. Kini moto hidupnya: waktu adalah uang, rupanya harus terkubur untuk sementara.&#xA;&#xA;Dengan berlari kecil seorang pemuda datang mendekat menuju toko radio. Ia mengenakan payung merah dan pakaian beberapa lapis. Perawakannya bersekal dengan tinggi badan lebih pendek dari rerata pria eropa. Samar dari jauh terlihat, kulitnya sawo matang. Wajahnya pun bersembunyi di balik payung. Namanya Dirga dan ia bukan berasal dari sini.&#xA;&#xA;Entah dari mana datangnya, Abel penasaran dengan sosok di sampingnya. Ia tak dapat melihat dengan jelas pemuda di sampingnya itu. Pasalnya, yang bersangkutan membawa payung yang menutupi wajah. Oh, Abel sungguh ingin tau siapa gerangan!&#xA;&#xA;Keheningan yang dingin membuat atmosfer di antara keduanya bertambah dingin. Ini sungguh tak nyaman bagi Dirga. Gelagat tak nyaman datang daripadanya. Mulailah ia menggaruk tengkuk gestur tak nyaman juga gugup. Mulutnya ingin bertegur sapa namun terasa kelu. Oh, iklim Leiden tahun lima puluh sedingin itu, sampai membuat lidahmu kelu, Tuan?&#xA;&#xA;&#34;Goedemorgen.&#34; suara bariton menyapa mengejutkan Dirga yang kikuk.&#xA;&#xA;&#34;Goedemorgen, Meneer!&#34; jawab Dirga dengan sedikit membuka wajahnya dari halangan payung. Mengintiplah wajah manis sang tuan di sebelah Abel.&#xA;&#xA;Dipertemukanlah manik hijau bak zamrud dengan iris emas bak elang Jawa. Dilihatnya penuh takjub iris emas yang elok bertahta di bola matanya. Senyumnya sumringah memancarkan adiwarna tulus. &#xA;&#xA;Ah, mungkinkah ia cendrawasih dari bulan? &#xA;Oh, bolehkah disayang?&#xA;&#xA;&#34;Apakah Anda sudah lama di sini, Meneer?&#34; tanya Dirga pada Abel. Yang bersangkutan pun menengok arloji di pergelangan tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Sekitar lima belas menit saya di sini.&#34; jawab si pirang dengan degup jantung yang tak teratur dan semakin cepat.&#xA;&#xA;&#34;Ah, begitu.&#34; setelahnya tak ada lagi dialog di antara mereka melainkan hanya ada suara rinai hujan.&#xA;&#xA;Dalam diam Abel terus berperang dengan pikirannya. Terus terpikir: &#39;siapa gerangan?&#39;. Namun ego yang selangit dalam dirinya menghalangi untuk tahu nama Dirga.&#xA;&#xA;Tak lama kemudian hujan berangsur reda. Dirga memastikan dengan tangannya bahwa hujan memang reda. Dilanjutlah ia melangkah maju keluar dari naungan kanopi toko radio.&#xA;&#xA;&#34;Meneer, saya ingin duluan. Saya tidak keberatan untuk berbagi payung dengan Meneer.&#34; ucap Dirga halus pada Abel dengan senyum lembut nan tulus.&#xA;&#xA;Abel menolak dengan halus tawaran Dirga. Namun Dirga sedikit berkompromi (baca: memaksa) agar Meneer mau ikut dengannya satu payung. Akhirnya Abel pun menerima tawaran Dirga.&#xA;&#xA;Keduanya berjalan menuju halte terdekat. Dalam perjalan Dirga menyelingi cakap-cakap kecil dan berbasa-basi menunjukkan keramah tamahan. Abel pun setia mendengarkan dan menimpali seperlunya, namun dalam hati ia sungguh senang.&#xA;&#xA;Sesampainya di tujuan, Dirga meninggalkan Abel seorang diri. Sayang, keduanya belum tahu nama masing-masing. Dalam hati Abel mencelos sakit tak tahu nama si pemuda payung.&#xA;&#xA;Ia hanya bisa memandang punggung Dirga yang menjauh dan berharap suatu hari mereka dipertemukan lagi.&#xA;&#xA;&#34;Ik hou van je,&#34;&#xA;&#xA;-Tamat&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;  A/N (please kindly read to the end, thank you):&#xA;Hi, the author is speaking! &#xA;Thank you for reading my very first fanfiction contribution for the fandom Hetalia. I really enjoy created this one since the ship is very lovely and comforting for me. For the information I just into Hetalia months ago, so I don&#39;t know much about the fandom (yet?). Therefore, I genuinely apologize if there&#39;s any miss or inaccurate information from the story through the fandom. Followed by this writing, I also wanna say if this writing is a pure fiction for entertainment purposes. &#xA;&#xA;  Once again, I&#39;d gladly say thank you for giving this fanfiction some atention! &#xA;Have a great day, beautiful soul! ♡&#xA;&#xA;@rosette_nebulae (14/07/2021)&#xA;##### #JULY500]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Terinspirasi dari sebuah lagu: Payung Fantasi karya Ismail Marzuki; dipopulerkan oleh Bing Slamet.</em>
</p>

<blockquote><p><strong>A/N:</strong>
Abel is &#39;human&#39; name for Mr. Netherlands (also known as Oranda). And Dirga is &#39;human&#39; name for Mr. Indonesia (also known as Indonesië). Both characters are belong to Himaruya Hidekaz-Sensei from the fandom: Hetalia.
Enjoy the ride!</p></blockquote>

<hr/>

<p>Titik-titik air jatuh ke tanah. Perlahan tapi pasti intensitasnya makin tinggi. Pria berperawakan tinggi lengkap dengan surai pirang pun berteduh di pinggir toko radio. Ia tak mau melawan nasib dan membuat garmen yang ia kenakan berakhir basah kuyup.</p>

<p>Ia hanya bisa merutuki nasib dalam diam sambil memandang tetesan hujan yang jatuh dari kanopi toko. Dalam diam ia menyesal tak membawa payung dikala iklim negaranya ini cenderung lembab karena hujan sepanjang tahun. Kini moto hidupnya: <em>waktu adalah uang</em>, rupanya harus terkubur untuk sementara.</p>

<p>Dengan berlari kecil seorang pemuda datang mendekat menuju toko radio. Ia mengenakan payung merah dan pakaian beberapa lapis. Perawakannya bersekal dengan tinggi badan lebih pendek dari rerata pria eropa. Samar dari jauh terlihat, kulitnya sawo matang. Wajahnya pun bersembunyi di balik payung. Namanya Dirga dan ia bukan berasal dari sini.</p>

<p>Entah dari mana datangnya, Abel penasaran dengan sosok di sampingnya. Ia tak dapat melihat dengan jelas pemuda di sampingnya itu. Pasalnya, yang bersangkutan membawa payung yang menutupi wajah. Oh, Abel sungguh ingin tau siapa gerangan!</p>

<p>Keheningan yang dingin membuat atmosfer di antara keduanya bertambah dingin. Ini sungguh tak nyaman bagi Dirga. Gelagat tak nyaman datang daripadanya. Mulailah ia menggaruk tengkuk gestur tak nyaman juga gugup. Mulutnya ingin bertegur sapa namun terasa kelu. Oh, iklim Leiden tahun lima puluh sedingin itu, sampai membuat lidahmu kelu, Tuan?</p>

<p>“Goedemorgen.” suara bariton menyapa mengejutkan Dirga yang kikuk.</p>

<p>“Goedemorgen, Meneer!” jawab Dirga dengan sedikit membuka wajahnya dari halangan payung. Mengintiplah wajah manis sang tuan di sebelah Abel.</p>

<p>Dipertemukanlah manik hijau bak zamrud dengan iris emas bak elang Jawa. Dilihatnya penuh takjub iris emas yang elok bertahta di bola matanya. Senyumnya sumringah memancarkan adiwarna tulus.</p>

<p><em>Ah, mungkinkah ia cendrawasih dari bulan?</em>
<em>Oh, bolehkah disayang?</em></p>

<p>“Apakah Anda sudah lama di sini, Meneer?” tanya Dirga pada Abel. Yang bersangkutan pun menengok arloji di pergelangan tangannya.</p>

<p>“Sekitar lima belas menit saya di sini.” jawab si pirang dengan degup jantung yang tak teratur dan semakin cepat.</p>

<p>“Ah, begitu.” setelahnya tak ada lagi dialog di antara mereka melainkan hanya ada suara rinai hujan.</p>

<p>Dalam diam Abel terus berperang dengan pikirannya. Terus terpikir: <em>&#39;siapa gerangan?&#39;.</em> Namun ego yang selangit dalam dirinya menghalangi untuk tahu nama Dirga.</p>

<p>Tak lama kemudian hujan berangsur reda. Dirga memastikan dengan tangannya bahwa hujan memang reda. Dilanjutlah ia melangkah maju keluar dari naungan kanopi toko radio.</p>

<p>“Meneer, saya ingin duluan. Saya tidak keberatan untuk berbagi payung dengan Meneer.” ucap Dirga halus pada Abel dengan senyum lembut nan tulus.</p>

<p>Abel menolak dengan halus tawaran Dirga. Namun Dirga sedikit berkompromi (baca: memaksa) agar <em>Meneer</em> mau ikut dengannya satu payung. Akhirnya Abel pun menerima tawaran Dirga.</p>

<p>Keduanya berjalan menuju halte terdekat. Dalam perjalan Dirga menyelingi cakap-cakap kecil dan berbasa-basi menunjukkan keramah tamahan. Abel pun setia mendengarkan dan menimpali seperlunya, namun dalam hati ia sungguh senang.</p>

<p>Sesampainya di tujuan, Dirga meninggalkan Abel seorang diri. Sayang, keduanya belum tahu nama masing-masing. Dalam hati Abel mencelos sakit tak tahu nama si pemuda payung.</p>

<p>Ia hanya bisa memandang punggung Dirga yang menjauh dan berharap suatu hari mereka dipertemukan lagi.</p>

<p>“Ik hou van je,”</p>

<p><strong><em>-Tamat</em></strong></p>

<hr/>

<blockquote><p><strong>A/N (please kindly read to the end, thank you):</strong>
Hi, the author is speaking!
Thank you for reading my very first fanfiction contribution for the fandom Hetalia. I really enjoy created this one since the ship is very lovely and comforting for me. For the information I just into Hetalia months ago, so I don&#39;t know much about the fandom (yet?). Therefore, I genuinely apologize if there&#39;s any miss or inaccurate information from the story through the fandom. Followed by this writing, I also wanna say if this writing is a pure fiction for entertainment purposes.</p>

<p>Once again, I&#39;d gladly say thank you for giving this fanfiction some atention!
Have a great day, beautiful soul! ♡</p></blockquote>

<h5 id="rosette-nebulae-14-07-2021" id="rosette-nebulae-14-07-2021">@rosette_nebulae (14/07/2021)</h5>

<h5 id="july500" id="july500"><a href="https://sephla.writeas.com/tag:JULY500" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">JULY500</span></a></h5>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sephla.writeas.com/siapa-gerangan-tuan</guid>
      <pubDate>Wed, 14 Jul 2021 14:55:25 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>